Kamis, 14 Desember 2017

Alquran, Politik Islam, dan Para Orientalis


Berinteraksi dengan Alquran bagi muslim terlihat lumrah karena memang mereka memiliki kewajiban untuk membaca dan men-tadabburi ayat-ayat suci dalam kesehariannya. Namun bagaimana dengan orang di luar Islam (outsider) yang mempelajari Alquran dengan sungguh-sungguh dan melahirkan cara pandang baru mengenai Alquran? Ya, Kajian Alquran oleh kalangan outsider telah ada sejak abad 8 M. Siapa yang mempeloporinya belum diketahui secara pasti, kendati Yohannes of Damascus digadang-gadang  sebagai outsider awal yang berpolemik terhadap Islam (Saeed: 2016), tetapi yang jelas perjumpaan Islam dengan dunia Barat kala itu menjadi embrio perkembangan kajian keilmuan Islam pada abad-abad sekarang ini.

Farid Esack, sebagaimana dikutip dalam Hamam Faizin (Faizin: 2012), membagi interaksi antara manusia dengan Alquran seperti para pelaku cinta (lover). Kelompok pertama adalah uncritcal lover, yaitu mereka (muslim awam) yang berinteraksi dengan Alquran dengan mendalam tanpa adanya keraguan atau mempertanyakan segalanya tentang Alquran. Kelompok kedua adalah scholarly lover, yaitu mereka (sarjana muslim konvensional) yang berusaha menjelaskan isi Alquran dan menyesuaikannya dengan kemajuan ilmu pengetahuan pada umumnya sehingga mempertegas bahwa Alquran adalah wahyu Tuhan yang membawa kebenaran.

Kelompok ketiga adalah critical lover, yaitu mereka (kalangan outsider) yang mencoba mempertanyakan keotentikan Alquran sebagai wahyu Tuhan, menganalisa struktur bahasa Alquran serta sifat-sifatnya. Kelompok keempat adalah the friend of lover, yaitu mereka (kalangan outsider revisionis) yang berusaha mencari kelemahan  Alquran dengan bukti-bukti akademik.

Dalam perjalanannya, kalangan outsider (orientalis) sejak abad ke-8 hingga abad 21 sekarang secara alamiah membentuk mazhab masing-masing. Hal ini dapat kita telusuri dari karya-karya mereka yang memiliki karakteristik dan perspektif yang kaya mengenai Alquran. Misalnya karya awal yang ditulis oleh Yohannes of Damascus “Wrote Heresy of the Ishmaelities” yang bernuansa polemis terhadap Islam, lalu ada George Sale (w. 1736) yang pertama-tama menerjemahkan Alquran dari bahasa Arab ke bahasa Inggris dengan sangat objektif. Kemudian ada juga Andrew Rippin yang tulisan-tulisannya mendorong untuk memahami Alquran dalam pemahaman monoteistik yang jangkauannya lebih luas, bukan hanya dipahami dalam ruang budaya masyarakat Arab saja.

Sue Worral, University of Birmingham 2
Foto: Seorang pakar Universitas Birmingham sedang mengamati manuskrip al-Qur'an
https://www.birmingham.ac.uk/news/latest/2016/11/quran-manuscript-exhibition-display-uae.aspx

Produktivitas kesarjanaan insider dalam kajian Alquran tidak pernah seimbang bila diukur dengan produktivitas kesarjanaan Barat. Fahruddin Faiz (Faiz: 2015) mencatat jumlah penulis ilmiah di kalangan insider berjumlah 3.300 orang, sementara di kalangan outsider berjumlah 19.000 orang. Perbedaan yang cukup besar bukan?

Adapun negara-negara Islam yang paling banyak menghasilkan karya ilmiah antara lain; Mesir, Iran, Pakistan, Nigeria, Turki, Malaysia dan Lebanon. Negara Barat sejak abad 12 telah melakukan penerjemahan teks-teks Arab ke dalam bahasa Latin dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang disertai kritik yang beragam (Saeed: 2016). Berbagai universitas terkemuka dunia seperti di Jerman, Belanda, Inggris, Amerika, Hongaria, dan Perancis sejak dahulu telah membuka kajian Islamic Studies untuk mengulas teks-teks Arab. Bahkan sampai sekarang masih tetap eksis.

Alquran sebagai wahyu dan sumber ilmu pengetahuan telah mencuri perhatian kalangan outsider. Ia dikaji dengan berbagai macam teori dan pendekatan. Alquran dan para pembacanya dari kalangan muslim diangkat sebagai objek penelitian oleh kalangan outsider. Kesempatan yang dimiliki oleh outsider untuk mengkaji Alquran sangat besar dan didukung oleh fasilitas kampus yang menyediakan kelas-kelas bahasa oriental. Mereka juga disokong untuk langsung melakukan penelitian di mana Alquran turun dan dipelajari oleh masyarakat muslim. Sebuah semangat keilmuan yang tiada tandingannya. Hal ini mengingatkan kita kepad Al-Kindi yang pada masanya didukung penuh oleh pemerintah Islam untuk menerjemahkan karya-karya Filsafat Yunani ke dalam Bahasa Arab. Dan momen itu menjadi titik balik lahirnya tokoh-tokoh cendekiawan Islam.

Namun, kita tidak akan bernostalgia dengan masa-masa itu. Saat ini, negara yang mayoritas penduduknya muslim sedang diuji dengan pemerintahan yang rapuh. Apalagi dengan karakteristik para birokratnya yang pandai mempolitisasi ayat-ayat Alquran. Harus kita akui bahwa umat Islam sekarang ini disibukkan dengan urusan politik dan kekuasaan, agama dibawa-bawa di atas podium kampanye partai. Inilah yang merusak citra Alquran. Oleh karena itu, tugas para sarjana Alquran lah untuk mengembalikan ruh atau wacana Alquran yang rahmatan lil ‘alamin.

Kita bisa melihat lahirnya tokoh-tokoh tafsir kontemporer saat ini seperti Fazlu Rahman, Arkoun, Shahrour, Farid Esack dan lain-lainnya tidak terlepas dari pengaruh western scholars yang menggeluti kajian keislaman. Mereka adalah tokoh-tokoh yang berusaha dengan keras mengkritik umat Islam dari dalam, mengingat penyakit anti-Barat, taqlid, dan jumud (kebekuan berpikir) yang menjangkiti umat Islam dewasa ini. Sikap anti-Barat seharusnya kita hilangkan sejak sekarang, karena kita telah berada pada ruang global yang meniscayakan saling keterbukaan dalam banyak sisi. Seperti yang dikatakan oleh Al Makin (Makin: 2017) pembagian dunia Barat dan Timur (outsider dan insider) itu sudah tidak relevan lagi. Pasalnya kita telah dekat, bersaing, dan tidak lagi saling berhadapan. Posisi berhadap-hadapan artinya kita menelan bulat-bulat konsep kolonialisasi.

Kita sudah tidak hidup pada masa itu, kawan!



Sumber Bacaan:

Faiz, Fahruddin. Hermeneutika Alquran: Tema-Tema Kontroversial. Yogyakarta: Kalimedia. 2015

Faizin, Hamam. “Alquran Sebagai Fenomena yang Hidup (Kajian atas Pemikiran para Sarjana Alquran”. Makalah International Seminar and Qur’anic Conference II, 2012.

al Makin. Antara Barat dan Timur: Batasan, Domnasi, Relasi, dan Globalisasi. Yogyakarta: Suka Press. 2017.

Saeed, Abdullah. Pengantar Studi Alquran. Yogyakarta: Baitul Hikmah Press. 2016.

Artikel ini terbit juga di : http://www.mengenalislam.com/2017/06/14/alquran-politik-islam-dan-para-orientalis/

Kamis, 27 April 2017

Tafsir Ayat Kealaman: Keteraturan Tata Surya dalam Al-Qur'an (Q.S. Yunus: 5-6 dan Q.S. Yasin: 39-40)



Keteraturan Tata Surya dalam Al-Quran[1]



ABSTRAK
Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan tentang makna pergerakan matahari dan bulan di dalam al-Quran yang berpotensi sebagai pengukuh keimanan orang Islam atas dasar pengamatan yang mendalam mengenai fenomena alam tersebut. Dengan menggunakan metode tematik-narasi yang dikolaborasi dengan pendekatan  sejarah tulisan ini menhasilkan sebuah pandangan bahwa pembicaraan mengenai keteraturan pergerakan matahari dan bulan dalam al-Quran adalah wujud penolakan atau penyangkalan bahwa keberadaan benda-benda langit tersebut adalah representasi para dewa sehingga umat manusia sepatutnya memahami bahwa peredaran matahari dan bulan adalah ketetapan dan wujud kekuasaan Allah swt.

  1. Pendahuluan
Al-Quran bukan sekali atau dua kali ia berbicara mengenai fenomena alam. Tetapi berulangkali dan dalam berbagai bentuk. Ada yang berupa sumpah, perumpamaan, dan ulasan yang mengungkapkan penegasan Allah swt mengenai kekuasaan-Nya di alam raya ini. Dalam tulisan ini kami menguraikan tafsir mengenai keteraturan tata surya yang diwakili oleh Surat Yunus : 5-6 dan Surat Yasin : 39-40.
Untuk memperoleh makna kata dari ayat-ayat tersebut kami merujuk pada Tafsir Al-Maraghi dan Tafsir Fi Dzilal Al-Quran, sehingga memudahkan untuk mencari padanan kata-kata Arab tersebut dalam bahasa yang lain. Usaha ini semata-mata untuk memperoleh pemahaman yang mantap mengenai ayat tersebut. Dalam tulisan ini pula dipaparkan sejumlah informasi sejarah untuk menunjang konsep atau wacana mengenai peredaran matahari dan bulan yang dipahami oleh masyarakat di luar Islam. Sehingga kita dapat mencapai suatu gagasan bahwa, ayat ini tidak turun dalam ruang hampa, tetapi merespon budaya dan peradaban manusia yang sedang berlangsung. Dari argumen tersebut kita menggali mengapa al-Quran berbicara soal tata surya ? dan bagaimana ulama tafsir menjelaskan maksud Tuhan berbicara soal tata surya ? Apa yang hendak Tuhan sampaikan lewat ayat ini ? 

  1. Ayat Keteraturan Tata Surya
1.      Yunus (10) : 5-6

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (5) إِنَّ فِي اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ (6)
Terjemahan: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak.[2] Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi orang-orang yang mengetahui (5). Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bum, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa (6).

2.      Kajian Tafsir Q.S. Yunus

a.       Dalam Tafsiran Sayyid Quthb
Menurut Sayyid Quthb, tema sentral Q.S.Yunus adalah himpunan berbagai pemandangan tentang alam semesta dengan fenomena-fenomenanya. Pemandangan yang memberikan kesan kepada fitrah manusia terhadap hakikat uluhiyah (ketuhanan, yang menunjukkan pengaturan yang sangat bijaksana). Dan juga menunjukkan adanya tujuan tertentu di dalam penciptaan dan pengaturan alam ini. Selain itu juga, menunjukkan kecocokan bagi kehidupan dan makhluk hidup, bagi kehidupan manusia dan pemenuhan kebutuhannya dalam kehidupannya.
Persoalan uluhiyah yang dipaparkan al-Quran dalam lukisan yang hidup, realistis dan inspiratif, dan tidak dipaparkan dengan menggunakan metode debat falsafi dan logika pikiran. Allah yang menciptakan alam dan manusia ini mengetahui bahwa antara fitrah manusia dengan pemandangan alam dan rahasia-rahasia-Nya ini terdapat bahasa yang bisa dimenegrti olehnya. Juga terdapat kesan saling menjawab (reaksi) yang lebih dalam daripada logika pikiran yang dingin dan kosong.[3] Oleh karena itu, di dalam Al-Quran ini banyak didapati kalimat untuk menggugah fitrah manusia ini dengan menggunakan bahasa pemahaman.
Semua fenomena yang nampak jelas ini menyadarkan manusia agar merenungkannya dengan penuh perhatian. Sesungguhnya Allah yang telah menciptakan dan mengatur semua inilah yang pantas menjadi Tuhan dimana manusia tunduk melakukan ibadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya. Sesungguhnya alam yang besar ini baik langit ataupun bumi, dan segala sesuatu yang ada di dalamnya, semuanya itu berjalan sesuai dengan sunatullah.[4]
Allah menentukan segala permulaan dan kesudahannya, menyusun keadaan-keadaan dan akibat-akibatnya dan menertibkan pendahuluan-pendahuluan dan hasil-hasilnya. Dan memilih peraturan untuk mengatur langkah-langkahnya, perkembangannya, dan tempat kembalinya.[5]

b.      Dalam Tafsiran Imam Al-Maraghi

Adh-Dhiya’ menurut bahasa berarti An-Nur (Cahaya), tetapi pemakaian kata adh-Dhau’ bersifat lebih kuat. Adh-Dhau’ adalah sinar yang datang dari materi itu sendiri, seperti sinar matahari dan api. Sedangkan An-Nur ialah cahaya yang datang dari materi lain.[6] Sedangkan kata siraj (pelita) sinarnya datang dari dirinya sendiri. adh-Dhau’ artinya sesuatu yang menerangi kamu. Matahari sendiri memiliki macam-macam sinar, seperti yang kita ketahui pada umumnya yakni, tujuh warna.[7]
At-Taqdir; menjadikan sesuatu dengan ukuran tertentu, baik mengenai zat atau sifat-sifatnya, waktu atau tempatnya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dalam Q.S. Furqan (25) : 2, dan Yasin (36): 39.
Tuhan telah menciptakan langit dan bumi, kemudian menjadikan matahari bersinar di waktu siang dan rembulan bersinar di waktu malam, serta mengatur penghidupan dengan keduanya. Oleh karena itu, pantaslah bila Allah mengatur urusan akhirat manusia dengan mengutus Nabi dan Rasul, serta kitab-kitab-Nya. Allah telah menetapkan manzilah bagi rembulan untuk berhenti (yakni 28 tempat) dan dalam perputarannya ia tidak mempercepat gerakannya dan tidak pula memperlambatnya. Bulan dan matahari tidak saling mendahului satu sama lain. Dengan begitu, manusia diberi anugerah untuk mengetahui perhitungan waktu sehari-hari agar dapat menetapkan ibadah dan mu’amalah, baik yang berkaitan dengan harta maupun kemajuan peradaban.[8] Allah menerangkan hikmah penciptaan-Nya yang menjadi bukti-bukti kerasulan bagi Rasul-Nya secara rinci dengan menyebutkan satu per satu, baik dalil-dalil yang terdapat pada alam semesta (qouniyah)atau dalil-dalil akal (aqliyah).[9]

3.      Yasin (36): 39-40

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ (39) لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ (40)
Terjemahan: “Dan telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua (39).[10] Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya (40).”

4.      Kajian Tafsir Surah Yasin : 39
Matahari, bulan, planet-planet dan satelit-satelit lain di luar angkasa, semuanya berputar menurut garis edarnya yang sudah tentu. Para astronom berpendapat bahwa ada dua macam perputaran matahari. Yaitu putaran matahari pada porosnya sendiri dan putaran pada garis edarnya bersama planet-planet dan satelit-satelit sekitarnya yang disebut Gugusan Bima Sakti.[11]

a.       Dalam Tafsir Al-Maraghi
Qaddarnahu          : ditakdirkan jalan pada manzil
Al manazil             : jarak yg ditempuh oleh bulan
‘Ada                      : (kembali), berada pada saat-saat akhir perjalanannya dan mendekati matahari, ketika tampak oleh mata berbentuk seperti tandan.
Al-‘Urjun               : (tandan) batang tempat lekatnya tangkai gugusan buah. Apabila bulan itu telah mencapai daur bulanannya, maka ia akan melengkung tipis dan berwarna kuning.[12]
Al-Falak                : tempat beredarnya benda-benda langit/galaksi (berbentuk lingkaran).
As-Sibahah            : Berenang dalam air yang dilakukan oleh ikan dan semisalnya. Kata ini digunakan untuk arti berputarnya benda langit di tempat peredarannya yang khusus.
Matahari itu beredar mengelilingi poros peredarannya yang tetap, ia melakukan rotasi sesuai dengan aturan astronomisnya, kira-kira 200 mil/detik. Aturan tersebut merupakan ketentuan dari Allah swt, Dialah yang maha perkasa dan maha kuasa mengendalikan makhluk-makhluknya, dan maha tahu tentang keadaan-keadaannya. Tempat persinggahan (manzil) dalam ayat ini merupakan tempat persinggahan bagi bulan, yaitu 28 manzil. Kadang-kadang ia genap 30. Pada manzil yang terakhir bulan nampak tipis melengkung dan berwarna kuning. Tidak mungkin bagi matahari melampaui bulan, dan begitupun sebaliknya, karena perjalan keduanya memiliki kecepatan masing-masing. Pergerakan matahari dan bulan menyebabkan terjadinya fenomena siang dan malam, kedua-duanya berjalan dengan perhitungan yang teratur, tidak berubah dan berganti. Bumi, matahari maupun bulan beredar pada falaqnya bagaikan berenangnya ikan dalam air. Beberapa poin penting mengenai ayat ini adalah :
1.      Pergantian siang dan malam adalah sebagai bukti dari kekuasaan Allah swt.
2.      Peredaran lahiriyah planet-planet yang ada memungkinkan masyarakat untuk menentukan jumlah hari pada setiap bulannya.
3.      Memungkinkan kita melihat bulan sabit ataupun Hilal untuk menentukan awal bulan baru.
4.      Bumi, matahari dan bulan memiliki garis edarnya masing-masing, sehingga antar satu dengan yang lainnya tidak saling menghalangi cahaya matahari kecuali pada saat-saat tertentu (gerhana).[13]

b.      Dalam Tafsir Sayyid Qutb
Manusia melihat bulan itu dalam manzilah-manzilahnya, dimulai dari bulan sabit, dan berkembang dari satu malam ke malam yang lain sampai menjadi purnama yang utuh. Setelah itu mengecil kembali sedikit demi sedikit hingga jadi bulan sabit. Dalam surat ini disebutkan sabit yang terakhir dengan kalimat ‘Urjunil Qodim (tandan tua). Karena pada mulanya bulan itu berbentuk sabit sementara pada malam terakhir berbentuk sabit pula. Bulan sabit yang pertama tampak cemerlang dan segar. Sedangkan bulan sabit yang akhir ia hadir dengan keadaan yang pucat seperti rontoknya tandan tua. Kehidupan bersama matahari dan bulan dari satu malam ke malam yang lain merangsang alam indrawi, perasaan dan lintasan fikiran yang memanggil, penuh sugesti yang mendalam.[14]
  1. Kajian Astronomi di Dunia
Astronomi adalah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan gerakan, penyebaran dan sifat benda-benda samawi. Ilmu ini adalah ilmu yang paling tua dari semua ilmu pengetahuan.[15] Orang Babylonia yang hidup 3000 SM di lembah sungai Tigris dan Eufrat (Mesopotamia) adalah yang pertama kali memiliki catatan sejarah mengenai astronomi. Mereka mempercayai bahwa para dewa mengendalikan seluruh alam semesta dan segala yang ada di dalamnya. Bulan, matahari, dan badai semua diatur oleh dewa.[16] Dengan mengamati dan melaporkan secara akurat planet dan konstelasi bintang-bintang, para pengamat langit (astronom) Babylonia mencoba mengembangkan ilmu astronomi, dan menyusun kalender berdasarkan siklus bulan. Akan tetapi, pada masa ini mereka tidak membentuk teori-teori tertentu untuk mengkoordinasikan dan memperjelas apa yang mereka amati. Mereka percaya bahwa posisi bintang-bintang dan planet mengungkapkan keinginan para dewa.[17] Sementara itu, pada saat yang sama peradaban Mesir Kuna menggunakan kalender matahari yang memungkinkan mereka memperkirakan kapan sungai Nil akan meluap. Kalender ini lebih akurat dibanding kalender bulan yang dibuat orang Babylonia karena sudah menggunakan rumus-rumus matematika.[18] Penemuan orang Babylonia dan Mesir inilah yang kemudian mengilhami para pemikir Yunani menganalisis secara sistematis mengenai planet-planet.[19] Para Imam Babylonia maupun Mesir sudah melakukan pengamatan terhadap benda-benda langit untuk alasan-alasan religius, karena mereka mempercayai bahwa pergerakan benda langit adalah representasi dari kehendak para dewa. Orang Yunani menggunakan data yang dihimpun oleh orang Babylonia bukan untuk maksud religius, mereka berusaha menemukan hukum-hukum geometris yang mendasari pergerakan benda-benda langit.[20]
Orang-orang Yunani atau lebih tepatnya para pemikirnya yang sangat rasional memiliki argumen-argumen ilmiah mengenai pergerakan bintang-bintang. Misalnya seorang astronom Yunani, Anaxagoras, ia berpendapat bahwa jagat raya ini teriri dari batu-batu yang berpijar, akibat kecepatan tinggi dari pusaran anginlah yang menggerakkannya.[21] Sementara itutokoh lain seperti Archimedes (w. 212 SM) memiliki rancangan model planetarium yang dapat menunjukkan gerak matahari, bulan, planet-planet dan kemungkinan rasi bintang di langit[22] yang disebut sebagai an orrery.[23] Selanjutnya, filosof yang berhasil mengembangkan pengetahuan astronomi adalah Thales, sebagaimana dikutip dalam id.wikipedia.org :
“Thales adalah seorang saudagar yang sering berlayar ke Mesir. Di Mesir, Thales mempelajari ilmu ukur dan membawanya ke Yunani. Ia dikatakan dapat mengukur piramida dari bayangannya saja. Selain itu, ia juga dapat mengukur jauhnya kapal di laut dari pantai. Kemudian Thales menjadi terkenal setelah berhail memprediksi terjadinya gerhana matahari pada tanggal 28 Mei tahun 585 SM.Thales dapat melakukan prediksi tersebut karena ia mempelajari catatan-catatan astronomis yang tersimpan di Babilonia sejak 747 SM.”[24]
Sementara itu, filosof selanjutnya, seperti Plato dan Aristoteles mengembangkan teori bahwa Bumi adalah pusat tata surya. Bintang, bulan, dan matahari beredar mengelilingi bumi.[25] Alexandria di Mesir menjadi pusat pengajaran ilmu astronomi pada masa silam. Di sana muncul nama Cato dan Varro (keduanya orang Romawi) yang belajar astronomi dan memanfaatkannya untuk pertanian. [26]
Meninggalkan peradaban Yunani yang mencari dasar bergeraknya planet dengan argumen ilmiahnya, kita beralih kepada peradaban Romawi yang dekat dengan peradaban Islam.[27] Ajaran mengenai astronomi yang dipelajari orang Mesir dari bangsa Greek (Yunani Kuna), menginspirasi pula bangsa Romawi. Sehingga saat penaklukan kota Mesir oleh Julius Caesar, ia menetapkan kalender Julian untuk menetapkan perayaan-perayaan pada masa pemerintahannya.[28] Kalender Julius atau Kalender Julian diusulkan oleh astronom Sosigenes, diberlakukan oleh Julius Caesar sejak 1 Januari 45 sebelum Masehi. Setiap 3 tahun terdapat 365 hari, setiap tahun ke-4 terdapat 366 hari. Kalender ini merupakan tahun syamsiah (matahari) dengan jumlah hari tetap setiap bulannya, dan disisipi satu hari tiap 4 tahun untuk penyesuaian panjang tahun tropis. Kalender ini digunakan secara resmi di seluruh Eropa, sampai kemudian diterapkannya reformasi dengan penggunaan Kalender Gregorius pada tahun 1582 oleh Paus Gregorius XIII, karena perhitungan kalender Julius yang tidak akurat mengenai Perayaan Paskah. Pada masa ini pulalah istilah Tahun Masehi digunakan.[29]

Berikut nama-nama bulan pada tahun syamsiah menurut Kalender Gregorius[30] :
1.      Januari       : Janus (Dewa permulaan dan akhir bangsa Romawi)
2.      Februari     : Februus (Dewa kematian dan pemurnian Romawi)
3.      Maret         : Mars (Dewa perang Romawi)
4.      April          : bulan penghormatan untuk dewi Venus. Kata April diambil dari nama Venus dalam bahasa Yunani yaitu Aphrodite (Aphros).
5.      Mei            : Maia Maiestas (Dewi Romawi)
6.      Juni            : Juno (Dewi Romawi, istri Jupiter (mitologi)
7.      Juli             : Julius Caesar (diktator Romawi)
8.      Agustus      : Augustus (Kaisar Romawi pertama)
9.      September  : Septem (bahasa Latin untuk tujuh, bulan ke-7 kalender Romawi)
10.  Oktober     : Octo (bahasa Latin untuk delapan, bulan ke-8 kalender Romawi)
11.  November : Novem (bahasa Latin untuk sembilan, bulan ke-9 kalender Romawi)
12.  Desember : Decem (bahasa Latin untuk sepuluh, bulan ke-10 kalender Romawi)

Sementara itu, masyarakat Arab pada masa pra-Islam tidak mengenal istilah tahun, namun bulan dan tanggal telah diketahui. Misalnya mengenai kelahiran Rasulullah saw pada hari kedua belas bulan Rabi’ Al-Awwal (The first Spring) tahunnya hanya disebut berdasarkan peristiwa, yakni Tahun Gajah. Karena tepat pada saat pengepungan tentara bergajah yang dipimpin Gubernur Yaman bernama Abrahah. Tahun Hijriah yang dikenal sekarang ini ditetapkan enam tahun setelah wafatnya Rasulullah saw atau pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab.[31]

Bulan-bulan Qamariah dalam Tahun Hijriah sebagai berikut :
1.      Muharram              : Forbidden (Terlarang)
2.      Safar                      : Whistling of the Wind (Angin bersiul)
3.      Rabi’ Al-Awwal     : The first spring (musim semi)
4.      Rabi’ Al-Tsani       : kebalikan dari musim semi (yaitu musim gugur)
5.      Jumada Al-Awwal : Tanah kering tanpa hujan
6.      Jumada Al-Tsani    : Tanah kering tanpa hujan
7.      Rajab                     : to respect (menghormati)
8.      Sya’ban                 : Separation (Perpisahan)
9.      Ramadhan             : Panas yang menghanguskan atau kekeringan
10.  Syawal                   : Lift or carry (Angkat atau Bawa/unta betina yang membawa janinnya)
11.  Dhu Al-Qaidah      : -
12.  Dhu Al-Hijjah        : The Month of the Pilgrimage (Bulan Haji)

Selain nama bulan-bulan tersebut, orang Arab juga mengenal manzil sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Maraghi ada 28 manzil yang dikenal oleh masyarakat Arab. Manazil ini juga dikenal dalam peradaban China, India, Iran (Persia), Yunani, Romawi, masyarakat Mesir dan Babilonia kuna. Biasanya manazil ini disebut lunar mansion. Bila kita melihat pemetaan nama-nama dalam tabel di atas dengan berbagai bahasa yang berbeda kita dapat memahami bahwasannya nama-nama tersebut digunakan untuk wilayah astrologi. Astrologi secara garis besar terbagi menjadi dua: a) Astrologi alamiah, yakni suatu ilmu yang meramalkan gerakan benda-benda samawi dan lingkaran edar matahari dan bulan. b) Astrologi Yudisial, yakni ilmu yang mempelajari tentang pengaruh perbintangan terhadap nasib manusia dan wilayah kekuasaannya.[32]
 
  1. Refleksi Pemakalah
Dua ayat yang menjadi titik keberangkatan dalam pembahasan tulisan ini, yaitu surat Yunus : 5-6 dan surat Yasin : 39-40 merupakan tergolong ayat-ayat Makiyyah periode akhir. Menurut pendapat Noldeke Surat-surat periode Makkah ketiga atau Makkah akhir lebih panjang dan lebih berbentuk prosa. Sementara Weil, beranggapan bahwa “kekuatan puitis” yang menjadi ciri khas ayat-ayat Makiyyah awal telah menghilang.[33] Melihat argumen ini, empat ayat dari dua surat di atas seolah-olah menegaskan bahwa sepatutnya manusia itu memikirkan dan mengetahui bahwasannya pergerakan benda-benda langit itu merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah swt. Mengingat kesejarahan masyarakat Arab pada masa hidup Muhammad saw adalah kaum paganisme (musyrik)[34], maka turunlah untuk mengingatkan mereka semua bahwa tidak pantas bagi mereka (manusia) menyembah atau menjadikan benda-benda langit itu wasilah untuk mendekatkan diri/berdoa kepada Allah swt, karena manusia dan planet-planet itu sama-sama makhluk (ciptaan Tuhan). Maka, apa yang dilakukan oleh peradaban Mesir, Babilonia, Romawi dan semacamnya adalah bertentangan dengan teologi orang-orang Islam, karena menganggap perubahan waktu dan musim yang diamati dari bintang-bintang adalah kehendak dewa.
Sementara itu, bagi masyarakat yang bertakwa lagi mengetahui, hendaklan mengambil hikmah atas penghayatannya terhadap pergerakan benda-benda langit. Yaitu memanfaatkannya untuk menentukan perhitungan hari, bulan, dan tahun untuk mendukung kehidupan di dunia ini, baik dalam hal peradaban maupun ritual keagamaan seperti waktu berhaji, shalat, puasa, dan lain-lain. 

  1. Daftar Pustaka
Al-Qur’an dan Terjemahannya. Departemen Agama, revisi 1994.
Amal, T.A. Rekonstruksi Sejarah Al-Quran. Jakarta: Yayasan Abad Demokrasi. 2011.
al-Maraghi. Tafsir Al-Maraghi, terj. jld. 11. Semarang: Toha Putra. 1987.
__________ Tafsir Al-Maraghi, terj. jld. 23. Semarang: Toha Putra. 1987
Noor, S. Misteri Surat Yasin. Jakarta: Al-Mawardi Prima. 2009.
Perry, M. Peradaban Barat. Cet.3. Bantul: Kreasi Wacana, 2017.
Qutb, S. Tafsir fi Dzil Al-Qur’an, terj. jld 9. Jakarta: Robbani Press. 2005.
Rahman, A. Al-Qur’an Sumber Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Bina Aksara.1989.
Web
https://id.wikipedia.org/wiki/Thales, diakses pada 26 Apr. 17
http://www.wikiwand.com/ms/Senarai_nama_bintang_dalam_bahasa_Arab, website untuk melihat nama bintang yang ditemukan oleh ilmuwan Islam


[1] Dipresentasikan oleh Imam Atqiya’ (14530076) dan Ruwaidah Anwar (14530031) dalam perkuliahan Tafsir Ayat Kealaman yang diampu oleh Bapak Moh. Hidayat Noor, M.Ag. Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kamis, 27 April 2017.
[2] Maksudnya: Allah menjadikan semua yang disebutkan itu bukanlah dengan percuma, melainkan dengan penuh hikmah.
[3] Sayyid Quthb, Tafsir fi Dzil Al-Qur’an, terj. (Jakarta: Robbani Press, 2005, hlm. 77
[4] Sayyid Qutb, Tafsir fi Dzil Al-Qur’an...hlm. 94
[5] Sayyid Quthb, Tafsir fi Dzil Al-Qur’an... hlm. 95
[6] Rujukannya adalah Q.S. Nuh (71): 16
[7] Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, terj. jld. 11, (Semarang: Toha Putra, 1987), hlm. 123
[8] Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi... hlm. 125, lebih lanjut juga dianjurkan membaca Q.S. Ar-Rahman (55): 5 dan Al-Isra (17): 12
[9] Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi... hlm. 127
[10] Maksudnya: bulan-bulan itu pada awal bulan, kecil berbentuk sabit, kemudian setelah menempati manzilah-manzilah, dia menjadi purnama, kemudian pada manzilah terakhir kelihatan seperti tandan kering yang melengking.
[11] Syamsudin Noor, Misteri Surat Yasin, (Jakarta: Al-Mawardi Prima, 2009), hlm.127-128
[12] Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Juz 23, terjemahan, hlm. 10
[13] Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, juz 23. Hlm, 11-17
[14]  Sayyid Qutb, Tafsir fi Dzil Al-Qur’an, jilid 9, hlm. 393-395
[15] Afzalul Rahman, Al-Qur’an Sumber Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Bina Aksara, 1989), hlm. 58
[16] Marvin Perry, Sejarah Peradaban Barat, Cet.3, (Bantul: Kreasi Wacana, 2017), hlm. 13
[17] Marvin Perry, Sejarah... hlm. 17
[18] Marvin Perry, Sejarah... hlm. 22
[19] Marvin Perry, Sejarah... hlm. 32
[20] Marvin Perry, Sejarah... hlm. 79
[22] https://id.wikipedia.org/wiki/Archimedes, diakses pada 26 Apr. 17
[24] https://id.wikipedia.org/wiki/Thales, diakses pada 26 Apr. 17
[27] Pembahasan ini dipilih karena melihat pemetaan wilayah Arab pra-Islam yang bukan peradaban besar, namun, hidup di antara dua peradapan yang berpengaruh yakni Persia dan Romawi.
[32] Afzalul Rahman, Al-Qur’an... hlm. 69
[33] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Islam, (Jakarta: Yayasan Abad Demikrasi, 2011), hlm. 120
[34] Penyembahan terhadap matahari, bintang sirius, api, berhala, ritual penyembelihan manusia di ka’bah dan pada hari-hari gerhana, dan lain-lain.

Cerita Orang Muda Penghayat dalam Mengelola Perbedaan

Disclaimer:  Tulisan ini adalah publikasi ulang dari hasil liputan penulis di Gunung Kidul dengan beasiswa dari AJI Yogyakarta pada tahun 20...