Jumat, 10 Maret 2017

Sejarah Agama-Agama: JUDAISME



JUDAISME[1]

A.    Pendahuluan
Di dunia ini kita mengetahui adanya tiga agama samawi, yaitu agama Yahudi, Masehi dan Islam. Dalam makalah ini kami mencoba menjelaskan tentang agama Yahudi. Mulai dari pengertiannya, sejarah kemunculannya, ajaran-ajarannya, nabi-nabi serta kitab suci yang ada di dalam agama Yahudi.
B.     Pengertian Agama Yahudi
Agama Yahudi adalah salah satu agama monoteis yang ada di dunia ini. Selain sebagai agama ia juga merupakan suatu kekuatan yang ingin mempengaruhi cara berfikir dan cara hidup manusia. Agama Yahudi diklaim sebagai agama tertua di dunia dan berasal dari Nabi Ibrahim a.s. Selain dengan nama Yahudi, ia juga disebut dengan Judaism, The Wisdom of Israel atau Hebrew Religion. Ada juga yang mengatakan bahwa agama Yahudi adalah suatu sistem keyakinan dan penyehatan yang dihubungkan dengan ide ketuhanan serta perwujudan suatu bangsa tertentu sebagai bangsa pilihan Tuhan.[2] Sementara dalam Islam, Yahudi didefinisikan sebagai agama yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. sebegai nabinya dan Taurat sebagai kitab sucinya.[3] Jadi, agama Yahudi adalah keyakinan yang dihubungkan dengan ide ketuhanan (Taurat) yang berdinamisasi dengan suatu bangsa (Bani Israel) yang merupakan pilihan Tuhan.
Ada tiga istilah penting yang sering dipakai dalam penyebutan bangsa Yahudi:
a.       Hada, dari bahasa Ibrani yang berarti taubat dan kembali. Hal ini dihubungkan dengan perkataan yang pernah diucapkan Musa: inna hudna ilaika (kami tunduk dan kembali taubat).
b.      Ibrani, kata ini berasal dari kata abara yang berarti menyeberang. Dinamakan Ibrani karena mereka datang dengan menyeberangi sungai Eufrat di bawah pimpinan Ibrahim a.s.
c.       Israel, kata ini dinisbatkan kepada nenek moyang mereka Ya’kub yang juga dinamakan Israel karena itulah mereka dikenal sebagai bani Israel.
Di antara nama-nama tersebut yang paling lama dan populer adalah Yahudi atau Judaisme. Orang Yahudi sendiri senang menyebut diri mereka sebagai Israel.[4]
C.     Sejarah Israel dan Agama Yahudi
Sejarah bani Israel bermula sekitar 4000 tahun yang lalu, ketika di kota Ur di tanah Khaldea hidup Terah beserta keluarga yang menyembah matahari dan berhala. Salah seorang putra Terah adalah Ibrahim a.s. yang lahir pada 2018 SM. Terah atau disebut juga Azar bekerja sebagai pembuat dan pedagang patung untuk disembah. Semua keluarganya mengikuti keyakinan Terah dan membantu usahanya, kecuali Ibrahim. Ibrahim menentang penyembahan berhala dan mengajarkan kepada orang tua dan keluarganya agar menyembah Allah Yang Maha Esa. Untuk itu ia menghancurkan segala berhala yang menjadi sesembahan kaumnya, juga raja yang menguasai Khaldea saat itu, Namrud.[5]
Namrud menganggap Ibrahim sosok yang berbahaya dalam keberlangsungan kekuasaannya, kalau ia dibiarkan  maka akan meracuni orang-orang dengan ajaran yang disampaikannya. Oleh karena itu, Namrud membakarnya hidup-hidup. Tetapi Allah swt menyelamatkan Ibrahim a.s. Setelah itu, Ibrahim a.s. meninggalkan tanah kelahirannya dan memilih mengembara. Dari sinilah diketahui bahwa anak keturunan Ibrahim a.s. mulai melakukan pengembaraan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran berdasarkan ajaran Tuhan. Ibrahim keluar dari negeri itu beserta istri, sebagian kaum kerabat, hamba sahaya dan hewan ternaknya.[6]
Pada tahun 1918 SM Ibrahim memperoleh anak lelaki dari istrinya Sarah (Sarai) yang diberinya nama Ishaq (Isac), Ishaq memiliki putra bernama Ya’kub, yang kemudian diberi nama Israel dan keturunannya disebut anak-anak Israel (Israelites) atau Bani Israel. Ya’kub memiliki 12 orang Putra dan beranak pinak banyak seterusnya. Dalam waktu yang tidak lama mereka menjadi suku yang besar dan sangat berpengaruh di daerah-daerah yang mereka tinggali. Karena itu mereka berkembang sebagai bangsa penjajah, daerah yang dikuasainya antara lain tanah kelahiran leluhurnya di Ur, wilayah Babilonia, tetangga Persia terus ke utara Haran di wilayah Mesopotamia dan Asiria, kembali ke arah selatan, bagian barat, Kanaan, tetangga Siria dan Arabia, akhirnya menelusuri sampai ke Mesir, yang semuanya merupakan daerah-daerah amat penting. [7]
Setelah kematian Ya’kub, Yusuf pun meninggal pada usia 110 tahun. Sepeninggal Yusuf keadaan bani Israil berubah. Mereka tetap dianggap orang asing oleh bangsa Mesir. Ketidaksenangan orang Mesir terhadap mereka diwujudkan dengan menjadikan mereka budak dan setiap bayi laki-laki dibunuh atau dihanyutkan ke sungai Nil. Kewajiban membuang bayi ini juga dialami oleh suami-istri keturunan Lewi, yaitu Imran. Imran membuang anak pertamanya ke sungai Nil dengan kotak kayu. Kotak kayu tersebut ditemukan oleh putri Fir’aun, ketika kotak tersebut lewat di perairan sang putri. Ia meminta izin untuk mengasuhnya walaupun bayi itu diketahui sebagai bayi kaum Israel. Fir’aun memberinya izin bahkan mengangkatnya sebaga anak dan memberinya nama Musa. Dari sinilah sejarah agama Yahudi dimulai dengan sejarah agamanya, sebba keduanya melekat dalam diri Musa.[8]
Setelah dewasa Musa mengetahui bagaimana penderitaan yang dialami oleh kaumnya, ia berkeliling untuk menjumpai mereka. Suatu hari ia melihat orang Mesir memukuli orang Ibrani. Musa membela orang Israel saat itu, orang Mesir itu ia bunuh dan mayatnya disembunyikan agar tidak diketahui orang. Namun, kejadian itu sampai juga ke telinga Fir’aun, Musa pun tidak berani kembali ke Istana Fir’aun. Musa memilih bersembunyi di daerah Midian. Di sini ia menumpang hidup dari seorang imam dan menikahi putrinya yang bernama Zippora. Dari istrinya ini Musa memperoleh seorang putra bernama Gersom. Setelah Fir’aun, ayah angkat Musa meninggal, maka Fir’aun yang selanjutnya yang berkuasa di Mesir. Di bawah pemerintahan Fir’aun muda inilah penderitaan bangsa Yahudi semakin meningkat.[9] Turunlah firman Tuhan pada Musa sebagai mana yang tercatan dalam Perjanjian Lama surat Keluaran:
“...Sesungguhnya telah Aku lihat segala aniaya yang berlaku atas umatku yang di Mesir serta Aku dengar tangis mereka itu dan karena segala pengerahnya bahkan Aku mengetahui segala kesengsaraannya. Maka, Aku turun hendak melepas mereka daripada tangan orang Mesir dan membawa mereka itu ke luar daripada negeri ini kepada sebuah negeri yang lebih baik dan luas, kepada sebuah negeri yang berkelimpahan air susu dan madu, ke tempat kedudukan yang Heti dan orang Amori dan orang Ferizi dan orang Hewi dan orang Yebuzi. Marilah sekarang Aku hendak menyuruhkan dikau menghadap Fir’aun, supaya engkau membawa akan umat-Ku, yaitu akan bani Israel ke luar dari negeri Mesir...”
Demikian firman-firman Tuhan yang mula-mula diterimanya dari Tuhan yang bernama AKU AKAN ADA, YANG AKU ADA. Musa menyampaikan firman Tuhan tersebut pada Fir’aun, namun Fir’aun tidak mengindahkannya kendati Musa mendapat banyak mukjizat.[10] Setelah berdiam di mesir kurang lebih 430 tahun, bani Israel keluar dari kota penghambaan mereka di bawah tuntunan Musa dan Harun. Musa dan Harun berhasil membawa keluar bangsa Israel dari Mesir tetapi tidak sempat menata kehidupan mereka. Musa wafat pada 1473 SM. Di bawah pimpinan Yusa’ bin Nun mereka berhasil memasuki negeri Palestina, sebanyak kurang lebih 470.000 orang Ibrani lengkap dengan pasukan memasuki bumi Palestina setelah mereka membantai orang-orang yang dijumpai di daerah tersebut. Perlawanan dari Palestina tidak henti-hentinya mendatangi mereka. Ketika Saul memimpin meraka berhasil mendirikan kerajaan Israel yang pertama. Selanjutnya di bawah pimpinan Dawud, orang-orang Palestina dapat mereka kuasai, pada masa ini mereka jaya, kuat dan penuh kuasa. Ketika Daud digantikan putranya Sulaiman, keadaan berbalik, mereka mengalami kemunduran dan akhirnya pecah menjadi dua, yaitu kerajaan Israel dan Kerajaan Yehuda. Pertikaian demi pertikaian mewarnai perjalanan kaum Yahudi, saat Yerobeam II menjadi pemimpin Yahudi Utara merek atumbuh menjadi kerajaan yang makmur demikan juga dengan Kerajaan Yehuda mereka mengalami kemakmuran khususnya di bawah pemerintahan Azaria dan Uzia. Tetapi kemakmuran itu menimbulkan kejahatan-kejahatan baru. Setelah Yerobeam wafat keadaan menjadi kacau. Mereka menjadi berpencar karena diserang oleh Asyur dan Yerussalem jatuh di tangan Nebukadnezar pada 597 SM. Selama berabad-abad bangsa Yahudi terusir dan menempati berbagai daerah, namun hal ini tidak melunturkan identitas mereka sebagai orang Yahudi.[11]
Kendati mereka terpencar di berbagai negeri saat mereka bertemu mereka merasa sebagai saudara dan satu yaitu sebagai kaum Israel, umat Yahudi. Agama dan ikatan sejarah leluhurlah yang menyatukan mereka. Mereka merasa sama-sama keturunan lanjut dari duabelas suku bani Israel yang menganut satu kepercayaan, yaitu kepercayaan nenek moyang mereka, Ibrahim, Ishaq dan Ya’kub beserta anak cucu mereka.[12]
Dengan adanya abad pencerahan di Eropa, orang-orang Yahudi agak beruntung memperoleh sedikit kebebasan dan perlakuan yang manusiwi dari negara-negara lain. Mereka berkesempatan berimigrasi ke Amerika bersama kaum imigran dari berbagai negara di Eropa. Theodore Herzel (1860-1904) merupakan salah satu tokoh Yahudi yang menggaungkan semangat bagi kaum Yahudi untuk memperoleh kadaulatan dan kebebasan sendiri untuk mengatur cara hidup mereka sendiri. Ide ini sangat berpengaruh bagi kaum Yahudi dan menjadi pintu munculnya politik zionis modern. Dalam politik ini mereka menyatukan orang Yahudi dari berbagai belahan dunia  dan berencana membangun negara sendiri dan tempat yang cocok adalah Palestina, tanah leluhur mereka. Politik Zionis ini berkembang pesat saat disuarakan oleh Leo Pinsker, seorang Yahudi Rusia dalam tahun 1882.[13] Di tahun-tahun berikutnya, Inggris dan Amerika gencar melakukan pengiriman kaum Yahudi ke tanah Palestia kendati Nazi yang saat itu memimpin Jerman melakukan pembunuhan terhadap orang Yahudi. Inilah sekilas perjalanan dan perkembangan umat Yahudi di dunia.
D.    Nabi-Nabi Orang Yahudi
Setiap bangsa yang beragama pasti mempunyai nabi yang mereka unggulkan, tak terkecuali orang Yahudi. Adapun nabi-nabi mereka adalah:
1.      Nabi Habakuk; nabi dalam Alkitab dan Tanakh yang diyakini sebagai pengawal di Bait suci Salomon.
2.      Nabi Hagai; seorang nabi yang hidup pada masa sejarah Yahudi yang pelayananya dimulai setelah kepulangan dari pembuangan di Babel.
3.      Nabi Hosea; nabi yang menubuatkan kehancuran tetapi dibalik pesan kehancurannya terdapat janji pemulihan.
4.      Nabi Maleakhi; nabi dalam Alkitab dan Tanakh yang merupakan nabi terakhir.
5.      Nabi Mikha; nabi yang terdapat dalam kitab suci Ibrani (perjanjian lama).
6.      Nabi Obaja; nabi yang menulis kitab paling ringkas dalam perjanjian lama.
7.      Nabi Yoel, Zakharia, Yehezkiel, Zaefanya; merupakan nabi-nabi yang berasal dari keturunan Imam.
E.     Kitab Suci Agama Yahudi
Kitab Suci Agama Yahudi diakui sebagai bagian dari kitab suci Agama Kristen, dengan nama Perjanjian Lama. Bersama-sama dengan Perjanjian Baru yang disusun setelah zaman Issa, disebut dengan Bible atau Al-Kitab, yang aslinya terdiri dari Taurat dan Injil. Tujuh puluh lima persen isi Al-Kitab adalah Perjanjian Lama. Ada tiga kitab utama yang dimiliki oleh Umat Yahudi:
1.      Kitab Taurat (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan)
2.      Kitab Nabi-nabi; meliputi nabi-nabi yang dahulu (Kitab Yusak, Hakim-Hakim, Samuel dan Raja-raja), Nabi-nabi yang kemudian (Yesaya, Yeremia, Yezezkil dan 12 nabi kecil mulai dari Hosea sampai Maleakhi).
3.      Surat-surat, terdiri dari Mazmur, Ayub, Amtsal, Rut, Nudub, al-Khatib, Ester, Daniel, Nehemia dan Tawarekh.
F.      Praktek dan Ritual Keagamaan Agama Yahudi
Dalam agama Yahudi terdapat berbagai ritual dan upacara agama, diantaranya:
1.      Sembahyang dan doa
Mereka melakukan sembahyang sehari tiga kali secara berjamaah dengan menghadap kiblat mereka, baitul muqaddas.Mereka juga mendirikan sinagog-sinagog sebagai pusat mengajarkan agama.
2.      Puasa
Mereka diwajibkan puasa pada hari kesepuluh pada setiap bulan ketujuh serta melakukan puasa-puasa khusus, setipa ada musibah atau bencana yang menimpa bani israil.
3.      Qurban
Penyembelihan binatang pada mazbah (tempat penyembelihan yang tirdiri dari dua belas tiang). Adapun macam-macam kurban adalah:
a.       Korban pengampunan dari dosa dan kesalahan.
b.      Korban kebaktian sebagai tanda rasa syukur.
c.       Korban penyucian setelah terkena najis.
d.      Korban hasil ternak.
e.       Memberikan hasil pertanian, dengan memberikan sepersepuluh dari hasil pertanian.
f.       Berkhitan, dalam agama Israel setiap anak dari Ibu Yahudi dipandang dilahirkan dalam perjanjian Israel, meskipun hanya anak laki-laki yang disunat pada hari kedelapan sesudah kelahirannya. Penyunatan tampaknya bukan sebagai inisiasi, tetapi lebih sebagai pemberian “tanda perjanjian”.[14]
g.      Upacara paskah, hari peringatan ke luar dari negeri mesir.
h.      Pantekosta (upacara hari ke lima puluh), perayaan hari kelima puluh setelah hari paskah atau dapat dibilang sebagai hari sesudahtujuh kali jum’at atau tujuh minggu.
i.        Pencucian, dalam agama Israil waktu ketujuh, yaitu:
a)      Hari Sabtu, semua pekerjaan diliburkan dan diadakan perhimpunan suci.
b)      Bulan ketujuh, diadakan hari pengampunan besar
c)      Tahun ketujuh, piutang tidak boleh ditagih dan tanah tidak boleh digarap.
Namun setelah peristiwa penjarahan dan penjajahan berbagai bangsa yang silih berganti atas bangsa Yahudi, mulai dari Babilonia sampai Romawi, sering membawa perubahan keadaan atas bangsa Israil serta bangun dan runtuhnya Bailtulmuqaddas rumah suci bangsa Israel. Keruntuhan dan pembangunan Baitulmuqaddas yang berulang kali itu, telah menyebabkan timbulnya upacara-upacara baru dalam agama Yahudi, yang belum pernah ada di zaman sebelumnya, antara lain:
1.      Pesta Purim, yang diadakan tanggal 14 dan 15 bulan Adar (Maret), sebagai tanda bersyukur pulang kembali dari pembuangan Babilon.
2.      Pemulihan Baitulmuqaddas, pada tanggal 25 kislef (Desember).
3.      Pemulihan dan pembersihan Bait oleh Yudas orang Mokkabi pada tahun 165 SM, setelah dirusak dan dikotori oleh orang-orang Assiria.
4.      Pengangkatan Herodus menjadi raja muda bangsa Yahudi di Palestina serta memperbesar dan memperluas bangunan Baitulmuqaddas.
Dari sinilah bangsa Yahudi terpecah menjadi beberapa golongan, diantaranya:
1.      Rabbani; suatu golongan yang terdiri dari guru-guru, juru khutbah para pendidik. Mereka percaya pada kitab Taurat dan Talmud.
2.      Qurra’; golongan yang hanya mempercayai pada kitab Talmud.
3.      Farisi; golongan yang sering menafsirkan Taurat menurut filsafat akal dan semaunya sendiri.
4.      Samurah; golongan ini mempunyai kitab Taurat sendiri yang tidak sama dengan Taurat yang ada dan tidak percaya pada Talmud.
5.      Saduki; golongan yang terdiri dari imam-imam yang merasa terhormat dan tidak mau bergabung dengan kalangan umum.
6.      Syalha; golongan kecil yang mengutamakan jiwa ibadah dalam menafsirkan Taurat.
G.    Sekte-Sekte dalam Agama Yahudi
Terlalu banyak sekte-sekte dalam Agama Yahudi.Semua sekte ini mempunyai prinsip-prinsip dan dasar-dasar kehidupan yang berbeda-beda, begitu pula pandangan mereka terhadap alam dan kehidupan dibalik alam (Metafisis) ini juga berbeda-beda. Ada beberapa sekte yang akan kami jelaskan diantaranya:
1.      Sekte Parisi (Pharisen)
Perkataan Parasi artinya sekte yang menyendiri dan berpecah.Sedikit banyak mereka ini ada persamaanya dengan Mu’tazilahdi kalangan kaum muslimin.Mereka tidak senang dengan panggilan itu karena yang memberikan adlah musuh mereka, mereka lebih sengan menyebut diri mereka dengan sebutan “Rabbani” (Godly ones) artinya pendeta-pendeta agama atau saudara-saudara pada jalan Allah.
Orang-orang Parisi mempercayai akan datangnya hari kebangkitan (hari kiamat) dan kebangkitan orang-orang sesudah mati, mempercayai adanya malaikat dan hari akhirat. Menurut mereka bukan saja Taurat yang merupakan kitab suci yang mesti diikuti, akan tetapi di samping Taurat masih banyak riwayat-riwayat yang tidak tertulis, peraturan-peraturan, wasiat-wasiat, pernyataan-pernyataan dan keterangan-keterangan yang dianggap sebagai Taurat yang tidak tertulis.[15]
2.      Sekte Sadduki (Saducce)
Sebagian dari pakar penelitian berpendapat, bahwa nama ini berasal dari perkataan “saduk” yaitu nama seorang ketua agama yang agung pada masa pemerintahan Sulaiman. Atau barang kali boleh juga dihubungakan dengan nama seorang kahin terkenal pada abad le-3 SM.
Sekte ini mengingkari akan datangnya hari kebangkitan (Ba’ats) dan kehidupan sesudah mati, hisab, surge dan neraka. Menurut I’tiqad mereka, semua balasan manusia itu akan selesai didunia saja. Jika amalannya baik maka ia akan menghasilkan kebaikan dan berkat bagi yang melakuknnya.
Sekte ini menolak ajaran-ajaran lisan yang tercatat dalam Talmud, bahkan terhadap Taurat sendiri mereka tidak menganggap kesuciannya secara mutlak.Mereka mengingkari keabadian individu, mengingkari adanya malakat dan syaitan-syaitan. Mereka tidak percaya qada’ dan qadar , tetapi mereka mempercayai adanya kebebasan memilih.[16]
3.      Sekte pembaca (Sect of readers)
Sekte pembaca ini merupakan sekte yang terkecil di antara sekte-sekte kaum Yahudi.Ketika kondisi sekte Parisi kocar-kacir, muncullah sekte pembaca, lalu iapun mewarisi pengikut-pengikutnya serta mewarisi pengaruhnya. Sekte pembaca hanya mengikuti The Old Testament (Taurat) saja sebagai kitab yang suci.Mereka tidak memiliki ajaran-ajaran lisan.Tegasnya mereka tidak mengikuti kitab Talmud.
Sekte pembaca juga berpegang dengan ijtihad. Bila dilihat oleh seorang khallaf bahwa ternyata seorang salaf melakukan suatu kesalahan, umpamanya kesalahan mereka tentang perkara-perkara yang dilarang dalam perkawinan, maka adalah menjadi kewajiban khalaf untuk membetulkan kesalahan tersebut.[17]
4.      Sekte Penulis (Sect of Writers)
Nama ini diberikan kepada sekumpulan dari orang-orang Yahdi yang bertugas untuk menuliskan syariat bagi siapa saja yang memerlukannya. Mereka ini dapat juga dikatakan sebagai para pencatat (sekretaris) dan melalui tugas ini, mereka mengetahui sebagian besar dari maklumat-maklumat agama dari kitab-kitab yang ditulisnya itu. Kadang-kandang mereka dikenal dengan panggilan pendeta dan kadang dikenal dengan panggilan tuan dan kadang-kadang pula dikenal dengan bapak atau father.
5.      Sekte Fanatik (Sect of Fanatics)
Di antara sekte-sekte yang muncul di Palestina ialah sekte Fanatik yang mempunyai hubungan erat dengan sekte Parisi. Dalam banyak masalah yang berkaitan dengan akidah dan kepercayaan mereka sependapat.tetapi sekte ini mempunyai kelebihan dalam hal tidak mau tawar menawar , bahkan mereka terkenal dengan sikap permusuhannya terhadap warga negarayang dituduh berpaham atheis, atau mereka yang dituduh tunduk kepada penguasa selain Yahudi. Dalam cara memahami kitab suci mereka, orang Yahudi terpecah belah menjadi tiga golongan pula, yaitu:
6.      Al Farusyin, golongan ini hampir sama dengan golongan Mu’tazilah dalam Islam. Mereka menafsirkan segala isi Taurat, mengikuti cara penafsiran ahli filsafah yang terdahulu dari pada mereka.
7.      As Shaduqi, golongan ini berpegang pada nash Taurat, dan segala perkataan Allah yang ada dalam Taurat. Mereka tidak mengakui segala faham dan tafsiran yang tidak ada pada Taurat.
8.      Asy Syalha, golongan ini mementingkan menjalankan ibadah-ibadah terhadap Tuhan, dan berpegang kepada apa yang lebih penting dan lebih selamat terhadap agama.[18]
H.    Agama Yahudi dalam Pandangan Al-Quran
Banyak sekali ayat dalam al-Quran yang menjelaskan tentang Yahudi atau Bani Israel, namun di sini kami memaparkan beberapa point tentang Yahudi dalam Al-Quran yang dikutip dari buku Yahudi dalam Al-Quran: Teks, Konteks dan Diskursus Pluralisme Agama karya Zulkarnaini Abdullah, pertama al-Quran menceritakan tentang Bani Israil baik dalam bentuk kritik dan kecaman, terkadang juga berisi ayat-ayat yang mengandung apresiasi kepada mereka. Bani Israel disebutkan Al-Quran sebagai umat pilihan dan dalam banyak ayat dirujuk sebagai Ahli Kitab, yakni umat yang memiliki kitab suci yang diturunkan Tuhan. Al-Quran juga mengkritik perilaku mereka yang mengubah-ubah isi kitab sucinya. Kedua, al-Quran sama sekali tidak bermaksud menyerang agama Yahudi atau menghina umatnya, tetapi Al-Quran mengkritik perilaku buruk mereka dan meluruskan bahwa Uzair bukanlah anak Tuhan. Ketiga, kebencian umat Islam terhadap kaum Yahudi bukanlah yang diajarkan al-Quran, fenomena tersebut hanya pada persoalan nilai-nilai humanis.[19]
I.       Kesimpulan
Demikianlah pemaparan tentang sejarah agama Yahudi. Bangsa Yahudi dan agamanya mengalami banyak persoalan dalam perkembangannya. Oleh karena itu kita dihadapkan pada suatu persoalan bahwa pemetaan dan pengetahuan mengenai sejarah agama, khusus agama Yahudi dan Masehi yang menjadi saudara kandung agama Islam sangat penting dikaji untuk membentuk dan memperluas wawasan kita dalam melakukan penafsiran al-Qur’an sebab dalam tradisi Islam, keberadaan Israiliyat menunjang informasi mengenai Al-Quran.
J.       Daftra Pustaka
Abdullah, Zulkarnain, Yahudi dalam Al-Quran: Teks, Konteks, dan Diskursus Pluralisme Agama. Yogyakarta: el-SAQ Press, 2007.
Budi Utami Fahnun, Sejarah Yahudi. www.nustaffsite.gunadarma.ac.id/ 7-2-2009 diakses pada tanggal 10-3-2011.
Fajri, Rahmat. Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: Penerbit Belukar, 2012.
Hakim, Agus. Perbandingan Agama. Bandung: Diponegoro, 2006.
Mariasusai Dhavamony. Fenomenologi Agama.Yogyakarta: Kanisius, 1995.
Ridwan, Zaynur. The Greatest Design. Jakarta: Salsabila Kautsar Utama, 2010.
Wikipedia Indonesia, Yahudi.www.id.wikipedia.org/ 4-2-2009 diakses pada tanggal 10-3-2011.






[1] Dipresentasikan oleh Ruwaidah (14530031), Muhammad Fathur Rahman (14530039), Abdul Rochman Apif (15530117) dalam perkuliahan Sejarah Agama-Agama, 2 Mei 2016, dibimbing oleh Roni Isma’il, S.Th.I, M.S.I, jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
[2] Rahmat Fajri dkk, Agama-Agama Dunia, (Yogyakarta: Penerbit Belukar, 2012). hlm. 399
[3] Ibid. hlm. 399-400
[4] Ibid. hlm. 400-401
[5] Ibid. hlm. 403
[6] Ibid. hlm. 403
[7] Ibid. hlm. 404-405
[8] Ibid. hlm. 406
[9] Ibid. hlm. 406
[10] Ibid. hlm. 407-408
[11] Ibid. hlm. 410-411
[12] Ibid. hlm. 411
[13] Ibid. hlm. 412-413
[14]Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, (Yogyakarta: KANISIUS,1995), hlm. 198
[15]Ahmad Shalaby, Perbandingan Agama Agama Yahudi, (Jakarta; Bumi Aksara,1996) , hlm. 222-223
[16]Ibid.  hlm. 227-228
[17]Ibid.  hlm. 229
[18]Ibid.  hlm. 45
[19] Zulkarnaini Abdullah, Yahudi dalam Al-Quran: Teks, Konteks dan Diskursus Pluralisme Agama, (Yogyakarta: el-SAQ Press, 2007), hlm. 357-359

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Orang Muda Penghayat dalam Mengelola Perbedaan

Disclaimer:  Tulisan ini adalah publikasi ulang dari hasil liputan penulis di Gunung Kidul dengan beasiswa dari AJI Yogyakarta pada tahun 20...