JUDAISME[1]
A.
Pendahuluan
Di dunia ini
kita mengetahui adanya tiga agama samawi, yaitu agama Yahudi, Masehi dan Islam.
Dalam makalah ini kami mencoba menjelaskan tentang agama Yahudi. Mulai dari
pengertiannya, sejarah kemunculannya, ajaran-ajarannya, nabi-nabi serta kitab
suci yang ada di dalam agama Yahudi.
B.
Pengertian Agama Yahudi
Agama Yahudi adalah
salah satu agama monoteis yang ada di dunia ini. Selain sebagai agama ia juga
merupakan suatu kekuatan yang ingin mempengaruhi cara berfikir dan cara hidup
manusia. Agama Yahudi
diklaim sebagai agama tertua di dunia dan berasal dari Nabi Ibrahim a.s. Selain
dengan nama Yahudi, ia juga disebut dengan Judaism, The Wisdom of Israel atau
Hebrew Religion. Ada juga yang mengatakan bahwa agama Yahudi adalah
suatu sistem keyakinan dan penyehatan yang dihubungkan dengan ide ketuhanan
serta perwujudan suatu bangsa tertentu sebagai bangsa pilihan Tuhan.[2]
Sementara dalam Islam, Yahudi didefinisikan sebagai agama yang diturunkan
kepada Nabi Musa a.s. sebegai nabinya dan Taurat sebagai kitab sucinya.[3]
Jadi, agama Yahudi adalah keyakinan yang dihubungkan dengan ide ketuhanan
(Taurat) yang berdinamisasi dengan suatu bangsa (Bani Israel) yang merupakan
pilihan Tuhan.
Ada tiga
istilah penting yang sering dipakai dalam penyebutan bangsa Yahudi:
a. Hada, dari bahasa Ibrani yang berarti taubat dan
kembali. Hal ini dihubungkan dengan perkataan yang pernah diucapkan Musa: inna
hudna ilaika (kami tunduk dan kembali taubat).
b. Ibrani, kata ini berasal dari kata abara yang berarti menyeberang. Dinamakan
Ibrani karena mereka datang dengan menyeberangi sungai Eufrat di bawah pimpinan
Ibrahim a.s.
c. Israel, kata ini dinisbatkan kepada nenek moyang
mereka Ya’kub yang juga dinamakan Israel karena itulah mereka dikenal sebagai
bani Israel.
Di antara
nama-nama tersebut yang paling lama dan populer adalah Yahudi atau Judaisme.
Orang Yahudi sendiri senang menyebut diri mereka sebagai Israel.[4]
C.
Sejarah Israel dan Agama Yahudi
Sejarah bani
Israel bermula sekitar 4000 tahun yang lalu, ketika di kota Ur di tanah Khaldea
hidup Terah beserta keluarga yang menyembah matahari dan berhala. Salah seorang
putra Terah adalah Ibrahim a.s. yang lahir pada 2018 SM. Terah atau disebut
juga Azar bekerja sebagai pembuat dan pedagang patung untuk disembah. Semua
keluarganya mengikuti keyakinan Terah dan membantu usahanya, kecuali Ibrahim.
Ibrahim menentang penyembahan berhala dan mengajarkan kepada orang tua dan
keluarganya agar menyembah Allah Yang Maha Esa. Untuk itu ia menghancurkan
segala berhala yang menjadi sesembahan kaumnya, juga raja yang menguasai
Khaldea saat itu, Namrud.[5]
Namrud
menganggap Ibrahim sosok yang berbahaya dalam keberlangsungan kekuasaannya,
kalau ia dibiarkan maka akan meracuni
orang-orang dengan ajaran yang disampaikannya. Oleh karena itu, Namrud
membakarnya hidup-hidup. Tetapi Allah swt menyelamatkan Ibrahim a.s. Setelah
itu, Ibrahim a.s. meninggalkan tanah kelahirannya dan memilih mengembara. Dari
sinilah diketahui bahwa anak keturunan Ibrahim a.s. mulai melakukan
pengembaraan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran berdasarkan ajaran Tuhan. Ibrahim
keluar dari negeri itu beserta istri, sebagian kaum kerabat, hamba sahaya dan
hewan ternaknya.[6]
Pada tahun 1918
SM Ibrahim memperoleh anak lelaki dari istrinya Sarah (Sarai) yang
diberinya nama Ishaq (Isac), Ishaq memiliki putra bernama Ya’kub, yang
kemudian diberi nama Israel dan keturunannya disebut anak-anak Israel (Israelites)
atau Bani Israel. Ya’kub memiliki 12 orang Putra dan beranak pinak banyak
seterusnya. Dalam waktu yang tidak lama mereka menjadi suku yang besar dan
sangat berpengaruh di daerah-daerah yang mereka tinggali. Karena itu mereka
berkembang sebagai bangsa penjajah, daerah yang dikuasainya antara lain tanah
kelahiran leluhurnya di Ur, wilayah Babilonia, tetangga Persia terus ke utara
Haran di wilayah Mesopotamia dan Asiria, kembali ke arah selatan, bagian barat,
Kanaan, tetangga Siria dan Arabia, akhirnya menelusuri sampai ke Mesir, yang
semuanya merupakan daerah-daerah amat penting. [7]
Setelah
kematian Ya’kub, Yusuf pun meninggal pada usia 110 tahun. Sepeninggal Yusuf
keadaan bani Israil berubah. Mereka tetap dianggap orang asing oleh bangsa
Mesir. Ketidaksenangan orang Mesir terhadap mereka diwujudkan dengan menjadikan
mereka budak dan setiap bayi laki-laki dibunuh atau dihanyutkan ke sungai Nil.
Kewajiban membuang bayi ini juga dialami oleh suami-istri keturunan Lewi, yaitu
Imran. Imran membuang anak pertamanya ke sungai Nil dengan kotak kayu. Kotak
kayu tersebut ditemukan oleh putri Fir’aun, ketika kotak tersebut lewat di
perairan sang putri. Ia meminta izin untuk mengasuhnya walaupun bayi itu
diketahui sebagai bayi kaum Israel. Fir’aun memberinya izin bahkan
mengangkatnya sebaga anak dan memberinya nama Musa. Dari sinilah sejarah agama
Yahudi dimulai dengan sejarah agamanya, sebba keduanya melekat dalam diri Musa.[8]
Setelah dewasa
Musa mengetahui bagaimana penderitaan yang dialami oleh kaumnya, ia berkeliling
untuk menjumpai mereka. Suatu hari ia melihat orang Mesir memukuli orang
Ibrani. Musa membela orang Israel saat itu, orang Mesir itu ia bunuh dan
mayatnya disembunyikan agar tidak diketahui orang. Namun, kejadian itu sampai
juga ke telinga Fir’aun, Musa pun tidak berani kembali ke Istana Fir’aun. Musa
memilih bersembunyi di daerah Midian. Di sini ia menumpang hidup dari seorang
imam dan menikahi putrinya yang bernama Zippora. Dari istrinya ini Musa
memperoleh seorang putra bernama Gersom. Setelah Fir’aun, ayah angkat Musa
meninggal, maka Fir’aun yang selanjutnya yang berkuasa di Mesir. Di bawah
pemerintahan Fir’aun muda inilah penderitaan bangsa Yahudi semakin meningkat.[9]
Turunlah firman Tuhan pada Musa sebagai mana yang tercatan dalam Perjanjian
Lama surat Keluaran:
“...Sesungguhnya
telah Aku lihat segala aniaya yang berlaku atas umatku yang di Mesir serta Aku
dengar tangis mereka itu dan karena segala pengerahnya bahkan Aku mengetahui
segala kesengsaraannya. Maka, Aku turun hendak melepas mereka daripada tangan
orang Mesir dan membawa mereka itu ke luar daripada negeri ini kepada sebuah
negeri yang lebih baik dan luas, kepada sebuah negeri yang berkelimpahan air
susu dan madu, ke tempat kedudukan yang Heti dan orang Amori dan orang Ferizi
dan orang Hewi dan orang Yebuzi. Marilah sekarang Aku hendak menyuruhkan dikau
menghadap Fir’aun, supaya engkau membawa akan umat-Ku, yaitu akan bani Israel
ke luar dari negeri Mesir...”
Demikian
firman-firman Tuhan yang mula-mula diterimanya dari Tuhan yang bernama AKU AKAN
ADA, YANG AKU ADA. Musa menyampaikan firman Tuhan tersebut pada Fir’aun, namun
Fir’aun tidak mengindahkannya kendati Musa mendapat banyak mukjizat.[10]
Setelah berdiam di mesir kurang lebih 430 tahun, bani Israel keluar dari kota
penghambaan mereka di bawah tuntunan Musa dan Harun. Musa dan Harun berhasil
membawa keluar bangsa Israel dari Mesir tetapi tidak sempat menata kehidupan
mereka. Musa wafat pada 1473 SM. Di bawah pimpinan Yusa’ bin Nun mereka
berhasil memasuki negeri Palestina, sebanyak kurang lebih 470.000 orang Ibrani
lengkap dengan pasukan memasuki bumi Palestina setelah mereka membantai
orang-orang yang dijumpai di daerah tersebut. Perlawanan dari Palestina tidak
henti-hentinya mendatangi mereka. Ketika Saul memimpin meraka berhasil
mendirikan kerajaan Israel yang pertama. Selanjutnya di bawah pimpinan Dawud,
orang-orang Palestina dapat mereka kuasai, pada masa ini mereka jaya, kuat dan
penuh kuasa. Ketika Daud digantikan putranya Sulaiman, keadaan berbalik, mereka
mengalami kemunduran dan akhirnya pecah menjadi dua, yaitu kerajaan Israel dan
Kerajaan Yehuda. Pertikaian demi pertikaian mewarnai perjalanan kaum Yahudi,
saat Yerobeam II menjadi pemimpin Yahudi Utara merek atumbuh menjadi kerajaan
yang makmur demikan juga dengan Kerajaan Yehuda mereka mengalami kemakmuran
khususnya di bawah pemerintahan Azaria dan Uzia. Tetapi kemakmuran itu
menimbulkan kejahatan-kejahatan baru. Setelah Yerobeam wafat keadaan menjadi
kacau. Mereka menjadi berpencar karena diserang oleh Asyur dan Yerussalem jatuh
di tangan Nebukadnezar pada 597 SM. Selama berabad-abad bangsa Yahudi terusir
dan menempati berbagai daerah, namun hal ini tidak melunturkan identitas mereka
sebagai orang Yahudi.[11]
Kendati mereka
terpencar di berbagai negeri saat mereka bertemu mereka merasa sebagai saudara
dan satu yaitu sebagai kaum Israel, umat Yahudi. Agama dan ikatan sejarah
leluhurlah yang menyatukan mereka. Mereka merasa sama-sama keturunan lanjut
dari duabelas suku bani Israel yang menganut satu kepercayaan, yaitu
kepercayaan nenek moyang mereka, Ibrahim, Ishaq dan Ya’kub beserta anak cucu
mereka.[12]
Dengan adanya
abad pencerahan di Eropa, orang-orang Yahudi agak beruntung memperoleh sedikit
kebebasan dan perlakuan yang manusiwi dari negara-negara lain. Mereka
berkesempatan berimigrasi ke Amerika bersama kaum imigran dari berbagai negara
di Eropa. Theodore Herzel (1860-1904) merupakan salah satu tokoh Yahudi yang
menggaungkan semangat bagi kaum Yahudi untuk memperoleh kadaulatan dan
kebebasan sendiri untuk mengatur cara hidup mereka sendiri. Ide ini sangat
berpengaruh bagi kaum Yahudi dan menjadi pintu munculnya politik zionis modern.
Dalam politik ini mereka menyatukan orang Yahudi dari berbagai belahan
dunia dan berencana membangun negara
sendiri dan tempat yang cocok adalah Palestina, tanah leluhur mereka. Politik
Zionis ini berkembang pesat saat disuarakan oleh Leo Pinsker, seorang Yahudi
Rusia dalam tahun 1882.[13]
Di tahun-tahun berikutnya, Inggris dan Amerika gencar melakukan pengiriman kaum
Yahudi ke tanah Palestia kendati Nazi yang saat itu memimpin Jerman melakukan
pembunuhan terhadap orang Yahudi. Inilah sekilas perjalanan dan perkembangan
umat Yahudi di dunia.
D. Nabi-Nabi
Orang Yahudi
Setiap
bangsa yang beragama pasti mempunyai nabi yang mereka unggulkan, tak terkecuali
orang Yahudi. Adapun
nabi-nabi mereka adalah:
1. Nabi Habakuk; nabi dalam Alkitab
dan Tanakh yang diyakini sebagai pengawal di Bait suci Salomon.
2. Nabi Hagai; seorang nabi yang
hidup pada masa sejarah Yahudi yang pelayananya dimulai setelah kepulangan dari
pembuangan di Babel.
3. Nabi Hosea; nabi yang menubuatkan
kehancuran tetapi dibalik pesan kehancurannya terdapat janji pemulihan.
4. Nabi Maleakhi; nabi dalam Alkitab
dan Tanakh yang merupakan nabi terakhir.
5. Nabi Mikha; nabi yang terdapat
dalam kitab suci Ibrani (perjanjian lama).
6.
Nabi Obaja; nabi yang menulis kitab paling ringkas
dalam perjanjian lama.
7. Nabi
Yoel, Zakharia, Yehezkiel, Zaefanya; merupakan nabi-nabi yang berasal dari
keturunan Imam.
E. Kitab Suci Agama Yahudi
Kitab Suci
Agama Yahudi diakui sebagai bagian dari kitab suci Agama Kristen, dengan nama
Perjanjian Lama. Bersama-sama dengan Perjanjian Baru yang disusun setelah zaman
Issa, disebut dengan Bible atau Al-Kitab, yang aslinya terdiri
dari Taurat dan Injil. Tujuh puluh lima persen isi Al-Kitab adalah Perjanjian
Lama. Ada tiga kitab utama yang dimiliki oleh Umat Yahudi:
1. Kitab Taurat (Kejadian, Keluaran, Imamat,
Bilangan dan Ulangan)
2. Kitab Nabi-nabi; meliputi nabi-nabi yang
dahulu (Kitab Yusak, Hakim-Hakim, Samuel dan Raja-raja), Nabi-nabi yang
kemudian (Yesaya, Yeremia, Yezezkil dan 12 nabi kecil mulai dari Hosea sampai
Maleakhi).
3. Surat-surat, terdiri dari Mazmur, Ayub,
Amtsal, Rut, Nudub, al-Khatib, Ester, Daniel, Nehemia dan Tawarekh.
F. Praktek dan Ritual Keagamaan Agama Yahudi
Dalam agama Yahudi terdapat berbagai ritual dan upacara
agama, diantaranya:
1. Sembahyang dan doa
Mereka melakukan sembahyang sehari tiga kali
secara berjamaah dengan menghadap kiblat mereka, baitul muqaddas.Mereka juga
mendirikan sinagog-sinagog sebagai pusat mengajarkan agama.
2. Puasa
Mereka diwajibkan puasa pada hari kesepuluh
pada setiap bulan ketujuh serta melakukan puasa-puasa khusus, setipa ada
musibah atau bencana yang menimpa bani israil.
3. Qurban
Penyembelihan binatang pada mazbah (tempat
penyembelihan yang tirdiri dari dua belas tiang). Adapun macam-macam kurban adalah:
a. Korban pengampunan dari dosa dan kesalahan.
b. Korban
kebaktian sebagai tanda rasa syukur.
c. Korban
penyucian setelah terkena najis.
d. Korban
hasil ternak.
e. Memberikan hasil pertanian, dengan memberikan sepersepuluh dari hasil
pertanian.
f. Berkhitan, dalam agama Israel
setiap anak dari Ibu Yahudi dipandang dilahirkan dalam perjanjian Israel,
meskipun hanya anak laki-laki yang disunat pada hari kedelapan sesudah
kelahirannya. Penyunatan tampaknya bukan sebagai inisiasi, tetapi lebih sebagai
pemberian “tanda perjanjian”.[14]
g. Upacara paskah, hari peringatan ke luar dari negeri mesir.
h. Pantekosta (upacara hari ke lima
puluh), perayaan hari kelima puluh setelah hari paskah atau dapat dibilang
sebagai hari sesudahtujuh kali jum’at atau tujuh minggu.
i.
Pencucian, dalam agama Israil waktu ketujuh, yaitu:
a) Hari Sabtu, semua pekerjaan
diliburkan dan diadakan perhimpunan suci.
b) Bulan
ketujuh, diadakan hari pengampunan besar
c) Tahun ketujuh, piutang tidak boleh
ditagih dan tanah tidak boleh digarap.
Namun
setelah peristiwa penjarahan dan penjajahan berbagai bangsa yang silih berganti
atas bangsa Yahudi, mulai dari Babilonia sampai Romawi, sering membawa
perubahan keadaan atas bangsa Israil serta bangun dan runtuhnya Bailtulmuqaddas
rumah suci bangsa Israel. Keruntuhan dan pembangunan Baitulmuqaddas
yang berulang kali itu, telah menyebabkan timbulnya upacara-upacara baru dalam
agama Yahudi, yang belum pernah ada di zaman sebelumnya, antara lain:
1. Pesta Purim, yang diadakan tanggal
14 dan 15 bulan Adar (Maret), sebagai tanda bersyukur pulang kembali dari
pembuangan Babilon.
2. Pemulihan Baitulmuqaddas, pada tanggal 25 kislef (Desember).
3. Pemulihan dan pembersihan Bait
oleh Yudas orang Mokkabi pada tahun 165 SM, setelah dirusak dan dikotori oleh
orang-orang Assiria.
4. Pengangkatan Herodus menjadi raja
muda bangsa Yahudi di Palestina serta memperbesar dan memperluas bangunan Baitulmuqaddas.
Dari sinilah bangsa Yahudi terpecah menjadi beberapa
golongan, diantaranya:
1. Rabbani; suatu golongan yang terdiri dari
guru-guru, juru khutbah para pendidik. Mereka percaya pada kitab Taurat dan Talmud.
2. Qurra’; golongan yang hanya mempercayai
pada kitab Talmud.
3. Farisi; golongan yang sering menafsirkan
Taurat menurut filsafat akal dan semaunya sendiri.
4. Samurah; golongan ini mempunyai kitab Taurat
sendiri yang tidak sama dengan Taurat yang ada dan tidak percaya pada Talmud.
5. Saduki; golongan yang terdiri dari imam-imam
yang merasa terhormat dan tidak mau bergabung dengan kalangan umum.
6. Syalha; golongan kecil yang mengutamakan
jiwa ibadah dalam menafsirkan Taurat.
G.
Sekte-Sekte dalam Agama Yahudi
Terlalu banyak
sekte-sekte dalam Agama Yahudi.Semua sekte ini mempunyai prinsip-prinsip dan
dasar-dasar kehidupan yang berbeda-beda, begitu pula pandangan mereka terhadap
alam dan kehidupan dibalik alam (Metafisis) ini juga berbeda-beda. Ada beberapa sekte yang akan kami jelaskan diantaranya:
1. Sekte Parisi (Pharisen)
Perkataan Parasi artinya sekte yang menyendiri
dan berpecah.Sedikit banyak mereka ini ada persamaanya dengan Mu’tazilahdi
kalangan kaum muslimin.Mereka tidak senang dengan panggilan itu karena yang
memberikan adlah musuh mereka, mereka lebih sengan menyebut diri mereka dengan
sebutan “Rabbani” (Godly ones) artinya pendeta-pendeta agama atau
saudara-saudara pada jalan Allah.
Orang-orang Parisi mempercayai akan datangnya
hari kebangkitan (hari kiamat) dan kebangkitan orang-orang sesudah mati,
mempercayai adanya malaikat dan hari akhirat. Menurut mereka bukan saja Taurat
yang merupakan kitab suci yang mesti diikuti, akan tetapi di samping Taurat
masih banyak riwayat-riwayat yang tidak tertulis, peraturan-peraturan,
wasiat-wasiat, pernyataan-pernyataan dan keterangan-keterangan yang dianggap
sebagai Taurat yang tidak tertulis.[15]
2.
Sekte Sadduki (Saducce)
Sebagian dari pakar penelitian berpendapat, bahwa nama ini berasal
dari perkataan “saduk” yaitu nama seorang ketua agama yang agung pada masa
pemerintahan Sulaiman. Atau barang kali boleh juga dihubungakan dengan nama
seorang kahin terkenal pada abad le-3 SM.
Sekte ini mengingkari akan datangnya hari kebangkitan (Ba’ats) dan
kehidupan sesudah mati, hisab, surge dan neraka. Menurut I’tiqad mereka, semua
balasan manusia itu akan selesai didunia saja. Jika amalannya baik maka ia akan
menghasilkan kebaikan dan berkat bagi yang melakuknnya.
Sekte ini menolak ajaran-ajaran lisan yang
tercatat dalam Talmud, bahkan terhadap Taurat sendiri mereka tidak menganggap
kesuciannya secara mutlak.Mereka mengingkari keabadian individu, mengingkari
adanya malakat dan syaitan-syaitan. Mereka tidak percaya qada’ dan qadar ,
tetapi mereka mempercayai adanya kebebasan memilih.[16]
3.
Sekte pembaca (Sect of readers)
Sekte pembaca ini merupakan sekte yang
terkecil di antara sekte-sekte kaum Yahudi.Ketika kondisi sekte Parisi
kocar-kacir, muncullah sekte pembaca, lalu iapun mewarisi pengikut-pengikutnya
serta mewarisi pengaruhnya. Sekte pembaca hanya mengikuti The Old Testament
(Taurat) saja sebagai kitab yang suci.Mereka tidak memiliki ajaran-ajaran
lisan.Tegasnya mereka tidak mengikuti kitab Talmud.
Sekte pembaca juga berpegang dengan ijtihad. Bila dilihat oleh seorang khallaf bahwa ternyata
seorang salaf melakukan suatu kesalahan, umpamanya kesalahan mereka tentang
perkara-perkara yang dilarang dalam perkawinan, maka adalah menjadi kewajiban
khalaf untuk membetulkan kesalahan tersebut.[17]
4.
Sekte Penulis (Sect of Writers)
Nama ini diberikan kepada sekumpulan dari
orang-orang Yahdi yang bertugas untuk menuliskan syariat bagi siapa saja yang
memerlukannya. Mereka ini dapat juga dikatakan sebagai para pencatat
(sekretaris) dan melalui tugas ini, mereka mengetahui sebagian besar dari
maklumat-maklumat agama dari kitab-kitab yang ditulisnya itu. Kadang-kandang
mereka dikenal dengan panggilan pendeta dan kadang dikenal dengan panggilan
tuan dan kadang-kadang pula dikenal dengan bapak atau father.
5.
Sekte Fanatik (Sect of Fanatics)
Di antara sekte-sekte yang muncul di Palestina ialah sekte Fanatik
yang mempunyai hubungan erat dengan sekte Parisi. Dalam banyak masalah yang
berkaitan dengan akidah dan kepercayaan mereka sependapat.tetapi sekte ini
mempunyai kelebihan dalam hal tidak mau tawar menawar , bahkan mereka terkenal
dengan sikap permusuhannya terhadap warga negarayang dituduh berpaham atheis,
atau mereka yang dituduh tunduk kepada penguasa selain Yahudi. Dalam cara memahami kitab suci mereka, orang Yahudi
terpecah belah menjadi tiga golongan pula, yaitu:
6. Al Farusyin, golongan ini hampir sama dengan golongan
Mu’tazilah dalam Islam. Mereka menafsirkan segala isi Taurat, mengikuti cara
penafsiran ahli filsafah yang terdahulu dari pada mereka.
7. As Shaduqi, golongan ini berpegang pada nash Taurat, dan
segala perkataan Allah yang ada dalam Taurat. Mereka tidak mengakui segala
faham dan tafsiran yang tidak ada pada Taurat.
8. Asy Syalha, golongan ini mementingkan menjalankan
ibadah-ibadah terhadap Tuhan, dan berpegang kepada apa yang lebih penting dan
lebih selamat terhadap agama.[18]
H.
Agama Yahudi dalam Pandangan Al-Quran
Banyak sekali ayat dalam al-Quran yang
menjelaskan tentang Yahudi atau Bani Israel, namun di sini kami memaparkan
beberapa point tentang Yahudi dalam Al-Quran yang dikutip dari buku Yahudi
dalam Al-Quran: Teks, Konteks dan Diskursus Pluralisme Agama karya Zulkarnaini
Abdullah, pertama al-Quran menceritakan tentang Bani Israil baik dalam
bentuk kritik dan kecaman, terkadang juga berisi ayat-ayat yang mengandung
apresiasi kepada mereka. Bani Israel disebutkan Al-Quran sebagai umat pilihan
dan dalam banyak ayat dirujuk sebagai Ahli Kitab, yakni umat yang memiliki
kitab suci yang diturunkan Tuhan. Al-Quran juga mengkritik perilaku mereka yang
mengubah-ubah isi kitab sucinya. Kedua, al-Quran sama sekali tidak
bermaksud menyerang agama Yahudi atau menghina umatnya, tetapi Al-Quran
mengkritik perilaku buruk mereka dan meluruskan bahwa Uzair bukanlah anak
Tuhan. Ketiga, kebencian umat Islam terhadap kaum Yahudi bukanlah yang
diajarkan al-Quran, fenomena tersebut hanya pada persoalan nilai-nilai humanis.[19]
I.
Kesimpulan
Demikianlah pemaparan tentang sejarah agama
Yahudi. Bangsa Yahudi dan agamanya mengalami banyak persoalan dalam
perkembangannya. Oleh karena itu kita dihadapkan pada suatu persoalan bahwa
pemetaan dan pengetahuan mengenai sejarah agama, khusus agama Yahudi dan Masehi
yang menjadi saudara kandung agama Islam sangat penting dikaji untuk membentuk
dan memperluas wawasan kita dalam melakukan penafsiran al-Qur’an sebab dalam
tradisi Islam, keberadaan Israiliyat menunjang informasi mengenai Al-Quran.
J. Daftra Pustaka
Abdullah,
Zulkarnain, Yahudi dalam Al-Quran: Teks, Konteks, dan Diskursus Pluralisme
Agama. Yogyakarta: el-SAQ Press, 2007.
Budi Utami Fahnun, Sejarah Yahudi. www.nustaffsite.gunadarma.ac.id/ 7-2-2009 diakses pada tanggal
10-3-2011.
Fajri, Rahmat. Agama-Agama
Dunia. Yogyakarta: Penerbit Belukar, 2012.
Hakim, Agus. Perbandingan Agama.
Bandung: Diponegoro, 2006.
Mariasusai Dhavamony. Fenomenologi Agama.Yogyakarta:
Kanisius, 1995.
Ridwan, Zaynur. The Greatest Design. Jakarta:
Salsabila Kautsar Utama, 2010.
Wikipedia Indonesia, Yahudi.www.id.wikipedia.org/ 4-2-2009 diakses pada tanggal 10-3-2011.
[1] Dipresentasikan
oleh Ruwaidah (14530031), Muhammad Fathur Rahman (14530039), Abdul Rochman Apif (15530117) dalam perkuliahan Sejarah Agama-Agama, 2 Mei 2016, dibimbing oleh
Roni Isma’il, S.Th.I, M.S.I, jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Fakultas
Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
[14]Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, (Yogyakarta:
KANISIUS,1995), hlm. 198
[19] Zulkarnaini Abdullah, Yahudi dalam Al-Quran: Teks, Konteks dan Diskursus
Pluralisme Agama, (Yogyakarta: el-SAQ Press, 2007), hlm. 357-359
Tidak ada komentar:
Posting Komentar