Sabtu, 21 Februari 2026

Cerita Orang Muda Penghayat dalam Mengelola Perbedaan

Disclaimer: 

Tulisan ini adalah publikasi ulang dari hasil liputan penulis di Gunung Kidul dengan beasiswa dari AJI Yogyakarta pada tahun 2020.


Peserta Fellowship AJI Yogyakarta bersama Orang Muda dan 
Pimpinan Penghayat Kepercayan Palang Putih Nusantara, 
Gunung Kidul, 2020

    Menjadi dan menjalani kehidupan sebagai penganut penghayat kepercayaan bukanlah sesuatu yang mudah. Kira-kira begitulah yang dialami oleh Bagas (20) dan Anis (17). Keduanya merupakan penganut Kejawen Urip Sejati atau lebih dikenal dengan nama Palang Putih Nusantara, yakni sebuah perkumpulan Penghayat Kepercayaan yang ada di Dusun Ploso, Kelurahan Tileng, Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul. Keduanya berkenan membagikan ceritanya sebagai Penganut Kejawen kepada kami sehingga masyarakat bisa mengetahui keberadaan mereka dan bisa menerima serta menghormati keyakinan mereka. 


Bagas bercerita kepada kami, saat duduk di bangku SD dan SMP ia diwajibkan mengikuti pelajaran agama Islam. Selain itu, di kampungnya ia juga terdorong mengikuti TPA mengingat teman-temannya juga setiap sore berangkat TPA.


“rasanya pie gitu ya kalau nggak ikut, karena teman mainnya pada ikut TPA Mbak!” kata Bagas.


“Kita juga sebagai orang tua secara psikologis merasa juga Mbak, kita diomongi tetangga, kok punya anak nggak disuruh ke masjid, nggak ke TPA, ngga diajari ngaji, agamanya apa?” Suroso (50), ayah Bagas yang juga merupakan Pemuka Penghayat Kepercayaan menambahkan.



(Keterangan Foto: Pak Suroso/Baju Hijau sedang menjelaskan tentang Penghayat Palang Putih Nusantara dan hambatan-hanbatan yang dihadapinya)

Jika saat usia remaja Bagas masih ikut-ikutan teman dalam menjalankan keyakinan Islam, saat bersekolah di SMKI Bantul, Bagas mulai memberanikan diri untuk memperkenalkan dirinya sebagai Penganut Kejawen. Mulanya Bagas keberatan ditanyai agama oleh guru mata pelajaran sejarah, karena menurutnya tidak ada sangkut pautnya dengan ilmu yang dipelajarinya.


Waktu tahun pertama di SMKI, saya ditanya oleh guru sejarah saya, “agamamu apa lek ?” dalam hati saya keberatan, kenapa ditanya agama, ‘kan nggak ada hubungannya sama pelajaran, ya udah, saya jawab “saya Kejawen”, guru saya tadi kaget mendengar jawaban saya, “itu agama apa ? nggak ada itu agama seperti itu”. Bagas menirukan percakapan dengan gurunya.


Saat semester dua di SMKI, Bagas mengetahui bahwa negara melalui Kemendikbud mewajibkan pendidikan keagamaan bagi penganut kepercayaan untuk belajar keyakinan mereka di sekolah. Sehingga sekolah didorong untuk memiliki guru pelajaran penghayat kepercayaan untuk siswa-siswanya. 


Bagas mengaku, sekolahnya saat itu tidak langsung menerapkan peraturan tersebut. Ia mengadu kepada Ayahnya untuk mendorong sekolah mengadakan kelas keagamaan bagi penganut penghayat kepercayaan sehingga Bagas tidak harus mengikuti kelas mata pelajaran agama lain yang tidak sesuai dengan keyakinannya. 


Suroso memenuhi permintaan anaknya. Ia mendatangi sekolah dan melakukan audiensi dengan kepala sekolah. Permohonan Bagas dan ayahnya direspon dengan baik oleh pihak sekolah. Akhirnya Bagas lulus dengan mata pelajaran penghayat kepercayaan, bukan mata pelajaran agama lainnya.  



(Keterangan Foto: Bagas (kanan), Anis (tengah) dan 
beberapa teman penghayat lainnya. 
Bagas sedang menceritakan pengalamannya)

Hal yang tidak jauh berbeda juga dialami oleh Anis. Sejak SD hingga sekolah di SMKI Wonosari sekarang ini, Anis mengikuti pelajaran keagamaan Islam. Sehari-hari ia berangkat ke sekolah mengenakan jilbab dan setiap waktu sholat zuhur ia ikut sholat dengan teman-temannya. 


Ia memutuskan mengenakan jilbab dan menunaikan sholat zuhur karena merasa tidak nyaman ketika melihat teman-teman lainnya memakai jilbab dan sholat zuhur. Ia juga enggan mengatakan ke pihak sekolah bahwa ia merupakan seorang penganut kepercayaan.


Gimana ya mbak… kalau nggak pakai jilbab dan ikut sholat, 'kan aneh, karena cuma saya sendiri, lagi pula itu sholatnya ada guru yang ngabsen. Saya belum berani bilang ke guru mbak, khawatir nanti gurunya bertanya macam-macam.”

 

Sehari-hari Anis menjalani kehidupan sebagai seorang penghayat sebagaimana keluarganya menjalani. Ia sering mengikuti acara 1 Syuro dan penutupan bulan Syuro yang kerap diadakan di rumahnya setiap tahun. 


Dalam keluarganya, Anis banyak belajar kepada simbah kakung. Beliau merupakan penganut Kejawen yang taat. 


“Beliau sering berdo’a baik di sanggar maupun di halaman rumah saat malam hari. Menurut saya itu (berdo’a di malah hari) bagus dilakukan, karena kalau di malam hari pikiran kita juga tenang, tidak ada yang mengganggu, sehingga kita bisa khusyuk. Waktu SD saya sering ikut berdo’a dengan simbah, baik di sanggar maupun di kala menjelang ujian.” Jelas Anis.

 

Sejak kecil Anis dikenal tekun dan rajin mempelajari Kejawen. Ia belajar melalui buku-buku yang dimiliki oleh kedua orangtuanya yang juga merupakan penganut kepercayaan.

Saya suka membaca buku-bukunya bapak sama ibu tentang Kejawen, ya walaupun saat itu saya masih belum mengerti sebenarnya apa yang saya baca tapi saya mencoba saja karena ya memang saya hobi membaca buku selain buku pelajaran." Jelas Anis dengan senyum.

"Tapi semenjak saya SMP dan SMK kan saya di Wonosari saya juga jarang di rumah jadinya saya sudah jarang ke sanggar namun masih tetap berdoa seperti yang saya bisa, yang penting saya percaya di manapun saya berdoa walaupun tidak di sanggar, doa saya tetap didengar Tuhan. Menurut saya tempat bukan hal yang mutlak harus di situ tapi yang paling penting niat saya dan saya percaya bahwa Tuhan tau dan mendengar saya berdoa.Jelas Anis.

 

Anis mengakui bahwa ia masih sangat pemula dalam belajar Kejawen dan belum mendalami secara serius. Hal inilah yang membuat dirinya belum memiliki keberanian untuk menyampaikan kepada pihak sekolah bahwa ia penganut Kejawen. Ia khawatir terjebak pada perdebatan-perdebatan yang bisa menyudutkan dirinya dan mengganggu konsentrasinya dalam belajar. 


Jadi saya sekarang masih fokus di pelajaran agama di sekolah dan belum sempat mendiskusikan secara serius tentang agama yang dianut bapak.

 

Ketika ditanya, bagaimana rasanya menjalankan dua ritual keyakinan yang berbeda Anis menjawab dengan sedikit reflektif. Di satu sisi jiwa dan hatinya cenderung kepada ajaran Kejawen, namun di sisi lain ia berhadapan dengan realitas yang menganggap ajaran Kejawen itu tidak lumrah (sesat).


Saya sebenarnya takut, menjalankan sholat padahal saya ini Kejawen. Saya rasa Tuhan Maha Tahu, kelak jika saya sudah memiliki ilmu dan keberanian yang cukup, saya akan berusaha mengatakan bahwa saya penganut Kejawen.” Terang Anis.


Reaksi beragam ditampakkan oleh teman-teman Anis saat mengetahui dia seorang penghayat kepercayaan.


“Kalau respon mereka (teman-teman), ada yang merasa aneh bahkan sampe ada yang nyaranin buat keluarga saya pindah ke agama mereka saja, tapi saya ya diam saja, ada juga yang sekedar bertanya seperti apa ajarannya. Tapi juga ada yang bodo amat, terserah apapun keyakinannya yang penting saya temenan sama kamu apapun keadaannya.” Terang Anis.


Kondisi-kondisi yang dialami Bagas dan Anis bukanlah sesuatu yang mudah. Kendati mereka sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang penghayat kepercayaan mereka memilih tidak menyatakan keyakinannya. Hal ini dikarenakan pemahaman umum yang cenderung menghakimi dan menentang ajaran penghayat sebagai sesuatu yang sesat. 

Dalam hal ini, anak-anak muda penghayat lebih memilih tidak mengatakan keyakinannya untuk tidak terjebak pada perdebatan-perdebatan teologis yang mengganggu niat mereka untuk belajar. Tetapi bagaimana seharusnya dunia pendidikan melihat kondisi semacam ini ? Sejauhmana kesiapan guru-guru untuk menerima dan mendengarkan suara-suara minor seperti Bagas dan Anis ? (Rwd)






Minggu, 26 Maret 2023

Lautan Kesedihan

 Lautan Kesedihan. Inilah kata yang menggelayut dalam batinku malam ini. Menyaksikan korban-korban perdagangan orang yang tersebar di media. Rasanya perih sekali. Mereka memilih pergi karena negara Indonesia sendiri tidak memberikan pilihan-pilihan lain bagi mereka untuk bertahan hidup. 

Di usia belasan tahun mereka merantau, lalu pulang dengan jasad. Tanpa nyawa. Tanpa sepersen pun jerih payahnya. 

Pergi dengan cita-cita bisa memiliki rumah dan modal usaha. 

Mengerikan. 

Senin, 01 Agustus 2022

Apakah berbuat kebaikan itu karena pahala?

Suatu hari, aku dan Maryam bicara serius soal berbuat baik, dan utamanya soal konsep dosa dan pahala. Kami sama-sama menggugat, sesungguhnya kita tidak membutuhkan dosa dan pahala dalam imajinasi kalkulasi angka-angka. Misalnya, kita shalat untuk dapat pahala. Apalagi bila dilakukan secara berjamaah, maka pahalanya adalah 27 derajat. Lalu kita sibuk menghitung-hitung berapa jumlah pahala ibadah dan ketika dapat musibah, kita menuntut Tuhan untuk juga mengirim solusi sesegera mungkin karena telah menunaikan shalat sepanjang umur. 

Mengapa nilai ibadah jadi sesederhana itu? Ya karena mindset kita sebagai muslim adalah "ketika kita berbuat baik ke orang lain, orang lain juga akan berbuat baik ke kita".

Lalu ukuran opini tersebut kita pakai untuk mengukur balasan kebaikan Tuhan. Pikiran ini kemudian diluruskan oleh pertanyaan Maryam yang menurutku sangat jelas dan menyentuh hatiku. "Mengapa kita tidak berbuat baik oleh karena kebaikan itu sendiri? Mengapa harus karena pahala? Mengapa kita harus menghindari dosa karena takut neraka? Mengapa bukan karena kejahatan itu sendiri?" Itulah nilai.

 Jika ada yang bilang "jangan terlalu baik, nanti ditipu", " jangan terlalu bermanfaat, nanti dimanfaatkan ", maka bagiku, ungkapan sarkas semacam itu sangat tidak menyenangkan. Kita baik karena kebaikan itu sendiri. Kita tidak berbuat jahat, karena kejahatan itu sendiri. Yang diniatkan baik, akan menjadi baik. Yang diniatkan jahat, akan menjadi jahat. Itu semua bergantung kepada diri kita, dan tidak sama sekali karena ada maksud lain selain kebaikan atau menghindari kejahatan. Jika itu menjadi prinsip hidup, maka akan menjadi karakter/kepribadian. 
(Awee, 2022) 

Sabtu, 01 Januari 2022

Refleksi Awal Tahun 2022

 Awee-2022----atas nama kemajuan (dan mungkin memberdayakan ekonomi), beberapa orang bikin industri, industrinya berjalan puluhan tahun, ternyata industri tersebut merampas ruang hidup, bisa jadi hutan, gunung, sawah, lautan, bahkan tanah tetangga yang mungkin akan dibangun jalan tol, semua itu "katanya" demi kesejahteraan dan akses ekonomi. Lalu kemudian perubahan iklim terjadi, saat hujan, pasti banjir atau badai. Secara tidak sadar industri tadi yang sudah merampas hutan, gunung, sawah, dan lautan telah berpengaruh merusak alam, kenapa bisa begitu? bayangkan aja, pohon-pohon yang ada bekerja sangat keras menyerap CO2 dari hasil industri, yang mana Industrialisasi menghasilkan CO2 lebih besar daripada kemampuan pohon-pohon di dalam menyerapnya, ya pohon-pohon itu bisa sih, tapi bakalan butuh waktu lama, sementara di sisi lain juga, beberapa orang yang serakah itu terus-terusan babat hutan. Begitu juga gunung, lautan, dan sawah, yang mana mereka punya peran masing-masing, oleh keserakahan segelintir pebisnis gunung ditambang, garis pantai direklamasi dan sawah dialihfungsikan sebagai jalan tol, bandara atau bangunan perumahan. Wal hasil, sebagian orang yang lain ketimpa musibah bencana. Setelah bencana pasti mengalami kerumitan hidup. Bukan hanya karena bencana sih ya, peristiwa-peristiwa perampasan tanah, kekeringan, tidak adanya lapangan pekerjaan yang sesuai skill, nah itu membuat orang-orang merantau dan bekerja apa saja, yang paling tren adalah menjadi tenaga kerja. Ada yang berangkat kerja secara legal dan ada yang ilegal. Nah yang berangkat secara ilegal ini adalah yang perlu diperhatikan, tidak sedikit mereka yang berangkat secara ilegal terjebak menjadi korban perdagangan manusia. Kadang-kadang aku bertanya dimana peran negara di sini? Jika ada kesempatan untuk memperbaiki ini semua, aku ingin sekali. Tuhan mampukan aku hidup untuk bersungguh-sungguh menjalani hidup dengan kejujuran, dan hindari kami dari cara hidup yang munafik, sehingga kami bisa hidup sebagai masyarakat yang damai dalam iman dan cinta kasih-Mu.

Rabu, 06 Januari 2021

Pembaca dan Penulis (Untuk Sang Guru)

 Sekarang seperti tidak ada batasan antara pembaca dan penulis. Kalo sdh beli buku, tinggal di foto, upload lalu mention penulisnya. Dulu, aku harus menahan - nahan diri dan berdo'a smg dipertemukan dg penulis yg aku kagumi.

Rumahku dan Bang N Marewo hanya beda Kelurahan. Aku sering pulang sekolah jalan kaki lewat depan rumahnya, tp tdk pernah rejeki untuk berjumpa. 

2014, 18 Juli aku berangkat ke Jogja. Aku dihadiahi Novel "Legian Kuta" oleh seorang guruku. Novel cantik dan sejak mula ia terbit aku sudah ingin membacanya.

 Hal konyol yang aku lakukan, masuk ke Toko Buku terkenal di Kotaku. Meminta petugas yang jaga, apakah Saya boleh melihat Novel Legian Kuta? Ia memberikan kepadaku satu buah novel yang sudah dibuka segelnya. Aku membaui kertasnya. Membaca Bab terakhir dari Legian Kuta. Setelah membaca, aku bertanya harganya. Tentu saja aku tidak mampu membelinya. Tidak ada uang jajan waktu sekolah dulu. Uang hanya cukup untuk biaya angkot pulang pergi. Kalau pulang di atas jam 5, harus jalan kaki sampai Karara, dan bisa naik ojek 3 ribu rupiah untuk sampai rumah. 

Aku sudah menambahkan N Marewo dalam daftar teman di Facebook. Namun tidak kunjung ada konfirmasi. Pikirku, mungkin beliau sibuk menulis. 

Kendati tidak mendapat respon sedikitpun aku tidak putus harapan. Aku mengirimkan pesan dan bilang akan berangkat ke Jogja dan berharap bisa jumpa. 

Novel Legian Kuta baru setengah aku baca dalam perjalanan menuju Jogja. Sampai di Sumbawa Besar aku muntah-muntah karena mabuk perjalanan. Menyeberang selat Sumbawa menuju Pelabuhan Kayangan Lombok keadaan sedikit membaik, dan aku bisa membacanya sampai habis. 

Waktu lewat Kabupaten Badung di Bali, aku sangat bahagia, sebab, di situ aku membayangkan Khalil dan William. (Tokoh dalam Legian Kuta).

Sesampai di Jogja, karena suntuk belum dapat kamar kos, aku kembali membaca Legian Kuta untuk kedua kali, tidak tahu kenapa, suka saja dengan semua karakter yang diciptakan oleh Bang Marewo. Semua hal tentang Bali dan Jogja dikritisi dalam Novel tersebut. 

Barangkali banyak orang pikir dua tempat itu hanyalah tempat wisata. Tetapi ketika melihat lebih jauh ke dalam wawasan kebudayaan manusia Jogja dan manusia Bali, itu membuatku bersyukur mengapa misalnya aku memilih Jogja sebagai pusat perhatianku dalam studi. Dan berharap suatu hari juga bisa belajar di Bali. 

Dua tahun setelah di Jogja, aku mendapat pesan dari Bang N Marewo di Facebook. Kami bersepakat untuk bertemu di Warung Kopi di suatu sore. Kami berbagi banyak cerita. Dan yang pasti aku memilih menjadi Pendengar, dan sesekali memantik dengan hal-hal yang ingin aku ketahui. 

Kami sengaja tidak mengambil foto. Sebab Saya hanya ingin merawat pertemuan itu dalam do'a dan ingatan. 

Saya merasa kegelisahan yang Saya alami adalah apa yang terceritakan di dalam Novel-novel karangan beliau. Saya bertaut dengan ide-ide itu dan membenamkannya di dalam hati kecil. Berharap dalam kepayahan menjalani hidup, cahaya Tuhan selalu membimbing. Novel-novel beliau, mengajak Saya untuk berpikir sekali lagi, merenungi sekali lagi, apa itu hidup? Mau kemana setelah ini? Dan untuk apa semua ini? 


Wombohe, 06 Januari 2021

Kamis, 12 November 2020

Perihal Kematian


      
 
    

  
 Kebanyakan orang yang aku tahu enggan membicarakan kematian. Entah karena perasaan takutnya atau sebab yang lain. Aku pribadi termasuk orang yang amat penasaran dengan kematian. Bahkan tiap malam sebelum tidur aku selalu membayangkan, bagaimana kira-kira semisalnya aku tidak terbangun lagi ? Dalam beberapa kesempatan, aku kerap terjebak pada mimpi-mimpi buruk dan membuatku sulit terbangun. Itu mengerikan sekali. 

       Kematian pertama yang aku saksikan adalah kematian sahabatku, namanya Jai, dia terjatuh dari jembatan dekat jalan besar sebelum gang ke arah rumahku. Jembatan itu tingginya sekitar 7 meter dari sungai. Waktu itu air sungai setinggi lutut orang dewasa. Pagi hari Jai bersama yang lain menonton balapan perahu kecil yang terbuat dari papan. Sebuah permainan musiman jika air sungai sedang deras saat musim hujan. Aku bingung setengah mati waktu itu. Usia kami masih sangat kanak-kanak. Jai kerap bermain boneka denganku kendati dia seorang anak laki-laki. Setiap kali aku melewati jembatan itu, aku mengirim do'a untuk Jai. Lambat laun aku kehilangan gairah bermain boneka. Kematian seseorang, membuat beberapa aktivitasmu yang biasa dengannya menjadi berubah. 
 
        Kematian kedua yang aku saksikan adalah kematian ayahku. Waktu itu September 2002. Aku baru saja masuk sekolah di SD. Waktu itu, aku kerap melihat orang-orang menandu keranda dan menuju pemakaman di atas bukit. Aku tidak menyangka, ayahku juga akan ditandu sedemikian rupa. Kenapa Ayahku ? Kenapa tidak yang lain saja! Saat ayahku ditunggui ketika detik-detik terakhir kewafatannya, Aku membayangkan, jika ayahku mati, ia pasti bangun lagi, bukankah ia sakti ? Selama ini aku sering melihat ayahku mengobati orang-orang yang sakit. Ia pasti bisa hidup lagi. Aku membayangkan ia menggali kuburannya sendiri, bangkit dengan kain putih, pulang ke rumah dan membersihkan diri. Sejauh itu bayanganku waktu itu.  
 
    Seiring berjalannya waktu, akhirnya aku mengerti bahwa setiap yang hidup pasti mengalami kematian. Dari pengalaman kematian ayahku, aku terdorong untuk belajar membaca Al-Qur'an. Setelah aku lancar dan fasih, aku mulai mengikuti kegiatan Guruku, Dae Wihu, untuk pergi membacakan ayat-ayat suci ke rumah orang yang meninggal. Setiap ada yang meninggal aku seperti ikut merasakan kesedihan yang amat dalam. Betapa rumitnya menghadapi persaan kehilangan. Bahkan sampai dewasa sekarang, aku belum mengerti bagaimana mengatasi kesedihan jika aku mengingat tentang Ayahku.  
 
      Esok lusa, mungkin kita kehilangan orang yang dekat dan kita cintai. Tetapi tidak mustahil juga kita yang pergi duluan. Kematian benar-benar misteri. Dan hanya kepada ayat-ayat suci aku sandarkan segala sedih dan keluguanku memahami kematian. Setidaknya ada perasaan tenang dan lega jika ruh dan jiwa berpisah. Kata orang itu amat sakit. Tetapi aku belajar dari Jai dan Ayahku, bagaimanapun bentuk kematian kita nanti, kita harus siap. Dengan tenang kita kembali kepada ketiadaan. 
 
Alfatihah! 

Minggu, 10 November 2019

Resensi Novel “Jangan Menangis Bangsaku” Oleh: Ang Rijal Anas



Judul : Jangan Menangis Bangsaku
Cetakan : Pertama, 2018
Penulis : N. Marewo
Tebal : 200 Halaman
Penerbit : Pustaka Pelajar
ISBN : 9786022299202

N. Marewo dalam novelnya Jangan Menangis Bangsaku mencoba menawarkan sebuah solusi alternatif yang bisa dilakukan oleh siapapun untuk memperbaiki keadaan bangsa. Pemuda diharapkan mampu menjadi mesin penggerak perubahan bangsa. Yang dalam novel ini, N. Marewo menceritakan perjalanan dua sosok pemuda yang bernama Tambor dan Riska, yang pergi “menyepi” sejauh-jauhnya karena tak tahan melihat berbagai permasalahan bangsa tempat mereka berasal. Hal ini terbukti dari percakapan mereka.
“Kesewenang-wenangan yang dilakukan pengelola negeri merobek hati nurani semua warga. Virus kekuasaan meracuni pikiran bayi-bayi. Kita punya pilihan apa selain memusnahkan diri? Mau kemana bila kita tak mau memaafkan masa silam? Hidupku pun penuh luka. Tiap hari ku cari kegairahan dari satu kota ke kota lain. Aku muak dengan semuanya. Aku ingin bisa terbebas dari kelesuan dan keluh-kesah”. (hlm. 6).
Bagi Tambor dan Rizka, penyebab berjubelnya masalah yang dihadapi bangsa mereka, karena banyaknya penghianat dan orang-orang munafik yang tak se-iya sekata, janji-janji yang dihianati, perkataan tidak sesuai dengan perbuatan. Dan sialnya yang melakukan berbagai penyimpangan dan penghiatan tersebut adalah orang-orang yang mengaku cinta kepada bangsa negeri tersebut. Sehingga berbagai masalah-masalah tersebut sulit untuk diselesaikan. Karena yang seharusnya bertanggung jawab menyelesaikannya ternyata mereka juga yang merusaknya.
Instansi tempat mereka bekerja tak bedanya dengan ATM berjalan, mereka menguras dan mengumpulkan harta untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya masing-masing.
“Banyak mereka yang mengatakan cinta pada negeri ini, tapi nyatanya hanya menguras apa yang dapat diperoleh kemudian ditimbun untuk diri sendiri. Para politisi, pejabat, pengusaha, pegawai negeri, kontraktor dan wakil-wakil rakyat sama saja”. (hlm. 7). Itulah kecenderungan yang lakukan oleh pemangku kepentingan di negeri ini. Tak banyak yang benar-benar amanah yang diserahkan untuk pengabdian untuk Dou labo dana. Semua orang berani bersumpah atas nama agama dan kitab suci. Namun kerusakan demi kerusakan terus terjadi dalam kehidupan sosial politik kita, menunjukkan keadaan yang tidak baik-baik saja yang utamanya dilakukan para pemegang kepentingan.
Dalam Novel ini, N. Marewo kelihatan sekali, mengajak Civil Society untuk membentuk sebuah gerakan dan gebrakan baru. Jika anda membaca lembar demi lembar novel ini, anda akan diajak oleh Marewo membangun wilayah sedikit demi sedikit. Yang dimulai dengan menggali sumur sebagai sumber air dan dasar-dasar membangun peradaban.
“Pagi-pagi ia memperhatikan gunung dan lembah. Entah apa yang dipikirkannya. Saat malam yang sunyi kuliahat ia mencium tanah. Didekatkannya telinga ke permukaan tanah seakan-akan mendengar sesuatu.Kepalanya terangguk-angguk sedang wajahnya yang tegang mendadak berubah seperti menaruh harapan. Malam itu wajahnya menegadah sebelum menggali sumur.” (hlm. 23).
Dengan usaha yang tidak kenal lelah dan sikap gigih tele, tenggo ra wale (bahasa Bima), Tambor berhasil menggali sumur. Burung-burung, belalang, serangga-serangga kecil mulai mengerumuti sumur itu. Tampak harapan-harapan akan panjangnya hidup disambungkan oleh burung-burung, belalang, serangga-serangga yang beristirahat hanya untuk mengairi kerongkongan yang kering.
kecerdikan N. Marewo dalam novel ini adalah beliau bisa menggambarkan kehidupan manusia yang seakan-akan nyata seperti aslinya dan membayangkan bahwa kitalah yang terlibat dalam setiap kata, kalimat, dan paragraf yang Marewo rangkai.
Setelah sumur itu, Tambor dan Rizka mulai menggarap lahan, lahan yang kering tak menghasilkan apa-apa, mulai dibajak, ditanami jagung dan tanaman-tanaman (Pako: Bahasa Bima) yang bisa dimakan. Dibukalah jalur-jalur air untuk mengairi tanaman itu, Tambor juga tak jarang langsung menyiram tanaman-tanaman penyambung hidup itu. Tugas Rizka, selain membantu Tambor, mengurusi gubuk yang sebelumnya mereka bangun, walaupun keduanya hanya berstatus sebagai sahabat.
Orang-orang yang berhijrah mulai datang ke Lembah Hijau, nama lembah Tambor dan Rizka itu, orang-orang sama pencari “suaka” dinegeri sendiri berdatangan ke Lembah. Mula-mula dua orang, ibu dan anak bermodalkan tiga ekor induk ayam dan sepasang bebek dan ayam pejantan yang diikat kakinya.
“Ibu muda berwajah pucat. Di sebelahnya terebah remaja laki-laki berusia tiga belas tahun, lelap dalam posisi udang rebu. Tiga ekor induk ayam, sepasang bebek, dan ayam pejantan, terikat kakinya. Tas pakaian tergeletak diantara mereka”(hlm. 34-35).
Lembah Hijau, tak berhenti menghembuskan nafas, pencari suaka tak berhenti datang dengan membawa harta terakhir. Setelah, unggas-unggas itu terpelihara dengan baik, berkembang biak tak ada halangan, berkeliaran semaunya di Lembah itu. Pencari suaka yang lain juga datang bergiliran, ada yang membawa kuda, ada juga yang tak membawa apa-apa karena tak punya apa-apa.
Dengan semakin banyaknya pendatang dari kota yang tiba di Lembah Hijau itu, akhirnya Lembah itu menjadi perkampungan yang ramai, ramai dengan anak-anak yang mulai dipikirkan bagaimana perkembangannya, dibuatlah sekolah dengan Rizka sebagai gurunya dan sebagai dokter, dengan mengandalkan apotek hidup sebagai obatnya, kunyit, tawoa, mengkudu mungkin juga kayu Suppa. Wanita berusia hampir kepala dua tumbuh dengan eloknya, begitu juga laki-lakinya tumbuh menjadi pemuda yang ulet dan kuat dalam bekerja.
Kehidupan yang dijalani di Lembah itu, mulai ada yang jatuh cinta, ada yang saling mencintai, ada juga yang hanya bertepuk sebelah tangan.
“Nana, yang pikirkan cuma dia, saya mencintainya”. Bahar seorang pemuda Lembah itu berbicara kepada Tambor. (hlm. 65).
Karena Tambor adalah seorang yang sangat dihormati di Lembah itu, para pemuda dan pemudi selalu menaruh perhatian kepada Tambor, karena wajahnya yang tampan dan perangainya yang kharismatik. Sehingga siapapun hormat dan menjadikan Tambor sebagai seorang yang dituakan.Walaupun begitu Tambor tetap bekerja, membantu dan mengolah tanah-tanah yang masih belum ditanami pohon-pohon. Tambor langsung turun tangan tak berpangku tangan karena seorang yang dituakan.
Tampaknya N. Marewo ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa seorang pemimpin itu, orang yang disegani, dan mau turun tangan langsung menyelasaikan persoalan dan menggerakkan sumber  daya manusia yang ada di wilayah manapun. Memang begitulah sejatinya seorang pemimpin. Menggerakkan..!!!
Akhirnya pemuda yang saling mencintai tersebut, ada yang menikah. Tambor dan Rizka tak kunjung menikah, hanya tinggal seatap tanpa menikah. Kehidupan di Lembah itu sangat sejahtera, kehidupan tercukupi, hasil pertanian Lembah itu dijual ke Kota untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Kota. Hasil pertanian yang melimpah, memerlukan gudang sebagai tempat penyimpanan, (Saya kira seperti Baitul Mal). Hasil pertanian itu untuk cadangan musim kemarau atau kemungkinan gagal panen di musim selanjutnya. Disinipula lah, muncul masalah yang dialami oleh Lembah Hijau itu, Seorang penghianat memang ada dimana-mana.
“Berkali-kali sudah kuda beban bolak-balik mengangkut jagung berisi singkong dan biji-biji jagung memasuki halaman bangunan tua dikaki bukit.”(hlm. 104)
Ada yang mencuri hasil gudang dan sialnya hasil bahan-bahan curian itu sebagai bahan baku pembuatan minuman keras.
“Sekarang baru kami tahu bahwa kalau jagung dan singkong yang Bapak ambil selama ini dijadikan minuman keras” (hlm107).
Seorang penghianat memang harus dihukum sesuai dengan perbuatannya, tak ada ampun bagi para penghianat. Tak ada yang berbasa-basi terlalu lama, dua kali tembakan, yang pertama kakinya, tapi yang berbahaya dari seorang penghiatan bukanlah kakinya tapi akalnya, tak lama satu peluru menghujam kepalanya, dan mati.
Disini saya tersentak. Lagi-lagi Marewo membuat gaduh emosi pembaca, betapa memang gilanya dunia nyata. kita banyak mengeluh tentang hukum yang tidak ditegakkan dengan baik, tapi kita takut jika hukuman yang diterapkan melanggar HAM. Padahal, kelakuan yang dilakukan penghianat, pencuri, koruptor, manipulator, dan konspirator apakah berdasar HAM? lalu bersilat lidah dengan kesempatan taubat, memperbaiki diri?? Renungan dari Marewo.!!
Karena semuanya sudah aman, tak ada lagi masalah besar yang harus dihadapi. Tambor dan Rizka akhirnya pergi dari Lembah Hijau itu, meninggalkan segala jerih payah, susah senang bersama.
Bagi saya, jika kita hanya membaca novel ini, kita tidak akan mendapat secara komprehensif pemikiran-pemikiran N. Marewo. Novel ini sangat berhubungan dengan novel sebelumnya dan sesudahnya. Lambo, Filmbuehne, Pulang, Satu Hari di Jogja, dan novel sesudahnya Budak dan bahkan memiliki kaitan erat dengan novelnya Nggusu Waru yang tersisa. Disitu terlihat Marewo sangat terpengaruh oleh novel-novel sebelumnya. Sehingga sangat sulit bagi para pembaca mengerti apa yang ingin dituangkan oleh Marewo dalam karya-karya. Dari segi pemilihan bahasa memang sangat erat sekali dengan realitas. Namun, bagi yang tidak suka membaca karya-karya yang mengangkat isu sosial menjadi PR. Karena Marewo setahu saya belum pernah, mengangkat kisah romansa dalam novelnya.
Waktu Ashar sudah tiba, kopi sudah habis, jari sudah capek, mata mulai ngantuk, saya ingin menutupnya dengan sebait kutipan yang sengaja dipersiapkan dalam novel ini.
“Siapapun yang akan menjadi pemimpin di Lembah ini, Kalian berdua harus tetap bersatu, saling mendukung untuk hal-hal yang baik dan bahu-membahu. Perjuangan tidak pandang posisi. aku hanya berbuat sebagai rakyat dan akan tetap setia menjadi rakyat”. (hlm. 127)
Sebagai pelajaran dan renungan untuk kita semua, untuk Indonesia, dan dou labo dana Mbojo yang menunggu kalian.




Resensi ini dipresentasikan dalam diskusi novel yang diselenggarakan oleh Forum Keluarga Mahasiswa Bima Dompu UIN Sunan Kalijaga Yogyarta pada Minggu, 10 November 2019


Sabtu, 28 April 2018

Menuju Masyarakat Pluralis


Oleh: Ruwaidah Anwar

“Ada fenomena menarik yang sedang melanda masyarakat Eropa saat ini, agama tidak lagi dipandang secara homogen, melainkan secara pluralis. Oleh karena itu ada jutaan imigran yang datang ke Eropa setiap tahun, dan kami menerimanya dengan baik.” Demikianlah yang diucakan oleh Eckart dalam menjelaskan maksud dan tujuannya melakukan penelitian dalam forum Lintas Iman yang diadakan DIAN INSTITUT.

Sabtu (28-4-2018), merupakan kelas refleksi para peserta Sekolah Lintas Iman IX yang diadakan oleh DIAN INSTITUT dengan melakukan kunjungan ke Pura Jagatnatha, Bantul. Pertemuan ini dihadiri oleh 24 peserta, dan dua mahasiswa senior dari Universitas  Birmingham, Eckart dan Nick, keduanya sedang melakukan penelitian di bidang interfaith dialogue. Acara ini dipandu langsung oleh Dr. Elga Sarapung (Direktur DIAN INSTITUT) dan I Nyoman Santiawan (yang saya tahu beliau adalah bagian HUMAS di Pura Jagatnatha, Bantul).

Sebagai masyarakat akademik, penulis memiliki asumsi bahwa banyak di antara kita yang kurang melakukan dialog dengan umat Hindu. Seringkali kita absen duduk bersama dalam membicarakan teologi masing-masing dalam suasana kekeluargaan dan tentu saja memuat nilai-nilai edukasi yang mampu membentuk diri kita lebih toleran. Dalam kesempatan ini, kepala saya dipenuhi banyak pertanyaan dan rasa kagum yang luar biasa terhadap Hindu.

Sebelum berjumpa dengan umat Hindu secara fisik, saya telah membaca beberapa karya tulis yang menggambarkan kehidupan dan ritual Hindu. Misalnya dalam Roman Epik Mahabharata yang ditulis oleh Rajagopalachari. Karya tebal yang saya baca secara hati-hati dan menganalisanya dengan pelan-pelan. Kadang satu paragraf diulang-ulang untuk memastikan “apakah aku sudah paham ?”
Kendati kunjungan ini bukanlah yang pertama, momennya selalu saja berbeda. Beberapa bulan lalu saya berkunjung ke Pura Jagatnatha menemani siswa-siswa Hagios Elementary School bersama Youth Interfaith Peace Community Jogja dalam agenda kunjungan rumah ibadah. Tentu saja waktu itu siswa-siswa tersebutlah yang memiliki banyak kesempatan untuk berdialog. Sementara kami hanya mengamati dan mendengarkan dengan seksama.

Nah, dalam refleksi yang diwadahi DIAN INSTITUT suasananya lebih akademis dan inklusif. Suatu pengalaman yang luar biasa bisa memudarkan prasangka-prasangka tidak baik atau stereotipe yang menagakar kuat sejak kecil terhadap umat Hindu. Mas Nyoman Santiawan sangat bersabar menjawab pertanyaan dan menanggapi pernyataan kita yang awam terhadap iman Hindu.
Saya sangat mengagumi kekayaan sastra yang dimiliki umat Hindu. Kekayaan sastra ini bisa kita akses melalui Roman Epik Mahabharata dan Ramayana, serta gubahan-gubahan syair penyembahan. Selain itu sejarah bangsa kita yang pernah memiliki kerajaan Hindu yang paling berpengaruh di dunia, yaitu Sriwijaya. Ajaran etika juga merupakan bagian yang sedang saya pelajari dalam ajaran Hindu. Dalam konteks kegiatan SLI IX yang bertema politik bermartabat, saya juga bertanya-tanya apakah dalam ajaran Hindu memiliki aturan yang ketat dalam memilih kepala daerah atau presiden? Pertanyaan ini manjadi penting sekali karena saya pribadi jarang melihat umat Hindu terpikat dengan urusan politik, apalagi politik dengan skala nasional!



I Nyoman Santiwan menjelaskan bahwa Hindu adalah agama Budaya. Sebuah keyakinan yang amat dekat dengan penyatuan diri dengan alam raya. Makanya ibadah/ritual/upacara dilakukan di tanah lapang. Ajaran Hindu lebih banyak mengedepankan refleksi diri untuk mengetahui jati diri/hakikat sebagai manusia sehingga muncul sifat cinta kasih, pemaaf, berbesar jiwa dan sikap-sikap lainnya pada diri seseorang.

Menanggapi pernyataanku tentang Sastra, Etika dan kriteria pemimpin dalam ajaran Hindu, Mas Santiawan menjelaskan bahwa Sastra merupakan sumber yang utama dalam Hindu. Sastra inilah yang menjadi pedoman dalam keseharian penganut Hindu. Sementara Etika adalah representasi dari pemahaman mereka yang bersumber pada Sastra. Terhadap tempat, barang-barang pribadi ataupun pada sesama kita wajib hormat dan berdoa kepada Tuhan agar dijaga. Misal, jika kita ke Pantai kita wajib menghormati dengan berdoa, karena diyakini pantai tersebut ada yang menjaga, dan kita tidak diperbolehkan membuang sampah sembarangan di tempat itu. Inilah yang disebut etika.
Lalu, mengenai kriteria pemimpin yang dipilih, dalam ajaran Hindu tidak ada kriteria yang ketat selain calon pemilih memahami bahwa yang dipilihnya itu memiliki kemampuan memimpin yang baik dan bersedia melayani rakyatnya. Namun, dalam konteks kepala rumah tangga diwajibkan beragama Hindu.

Dr. Elga sangat senang dengan beragam pertanyaan yang kami ajukan, setidaknya mampu mengurangi stereotipe yang selama ini tertanam kuat dalam benak umat non-Hindu. Saya pribadi tidak henti-hentinya mengumpat buku-buku IPS yang saya pelajari sejak SD karena pandangan tentang Kasta dan Dewa-Dewa yang salah dipahami. Saya sangat menyarakan kepada kawan-kawan hendaklah membuka diri terhadap literatur-literatur Hindu sebelum mengucapakan kata “sesat” atau “kafir”. Karena menilai dan mengomentari dengan ilmu pengetahuan itu lebih berfaedah dan menumbuhkan rasa saling mengerti, menghormati dan mengasihi satu sama lain.

Setelah berkeliling Pura Jagatnatha saya memiliki satu kesan bahwa : Hindu adalah sebuah pemahaman tentang Tuhan yang memiliki kecenderungan mempresentasikan sifat Tuhan dalam bentuk tertentu. Dan mereka menghormati segala ciptaan Tuhan dengan seni tertentu. Bahkan keberdaan kejahatan atau keburukan mereka simbolkan dengan ogoh-ogoh.

Saya sangat mengharapkan suatu hari terciptanya tatanan masyarakat yang bisa saling memahami dan berbagi kesempatan pendidikan dan ekonomi tanpa membedakan ras, agama, dan suku. Kita tercipta untuk kembali pada yang Mencipta. Sistem politik hanyalah satu di antara jalan yang bisa kita pakai untuk menuju Tuhan. Yang pasti jangan sampai kita tergelincir dalam keserakahan dan sifat-sifat yang menzalimi sesama dalam jalan yang kita pilih.

Yogyakarta, 28 Apr. 18
11.42 pm



Senin, 23 April 2018

CERPEN: Pohon-Pohon Berulang Tahun


Ulang tahun. Ya, itulah kata yang selalu membuat anak-anak merengek pada orang tuanya. Mengenakan gaun seperti princess, memakai topi kerucut di atas kepala, balon-balon menghiasi rumah, lilin angka di padu-padankan dengan kue tart di atas meja serta menyalakan VCD lagu selamat ulang tahun. Dan betapa asyiknya menerima kado dari teman-teman. Dan seterusnya. Setidaknya begitulah definisi ulang tahun yang ada dalam memori gundukan kepalaku.

            Kawan.. kau tahu? Sejak kecil aku selalu iri melihat teman-teman merayakan hari kelahirannya. Mereka meniup lilin, mendapat kecupan dari kedua orang tua serta orang-orang tercinta, menyuapi mereka satu per satu. Uh, betapa indahnya. Tapi, bagaimana mungkin seorang anak petani miskin ini membuat acara demikian? Mustahil.

            “Bu, Bolehkah adik merayakan ulang tahun?” tanyaku pada ibu saat usiaku 6 tahun.

            “Ulang tahun?” Ibuku tersentak. Meninggalkan masakannya dan mengambil tempat di atas kursi, rehat sejenak. “Nak, acara seperti itu tidaklah penting. Acara seperti iru harus meriah. Butuh uang. Lagi pula itu hanya kegiatan orang kafir, hura-hura.  Tidak patut.” Jelas Ibu.

            Oh, kawan... itu adalah jawaban yang tak pernah aku harapkan. Tapi itulah realita yang harus keluar dari bibir Ibuku. Bayangkanlah bagaimana kondisi hatiku saat itu. Kecewa.

            Sampai pada suatu hari. Saat aku duduk di bangku kelas 3 Madrasah Tsanawiyah aku mengetahui esensi ulang tahun itu sendiri.


            Matahri masih malu-malu untuk keluar dari peraduannya. Langit cerah tanpa awan sedikitpun. Hari Rabu. Hari yang paling menyenangkan menurutku di antara hari yang lain. Ya, hari dimana semua pelajaran kesukaanku ada. Salah satunya adalah mata pelajaran Qur’an Hadits. Pelajaran yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an atau Hadits secara detail.

            Sebelum bel berbunyi, kami sudah duduk takzim di dalam kelas. Pak Kasmir. Itulah nama Guru yang akan mengajar kami. Bijaksana, penyayang, disiplin dan tegas. Beliau adalah panutan bagi kami dan guru-guru yang lain.

            “Assalamu’alaikum....” Pak Kasmir memasuki kelas XI-1, kelasku.
            “Wa’alaikum salam wa Rohmatllohi wa Barokaatuh...!” Jawab kami serentak.
Pak Kasmir meletakkan beberapa buku di atas meja guru. Sejurus kemudian mengambil posisi tepat di depan papan tulis. Kala itu, posisiku berada di meja paling belakang.

            “Apa kalian sudah siap menerima pelajaran hari ini?” Tanya Pak Kasmir, terlukis senyum diwajahnya.
            “siaaap Pak!!” Sahut kami.
            “Baiklah. Silahkan kalian buka foto-kopian halaman 32 tentang Hadits Menjaga Kelestarian alam!” Tanpa diperintah dua kali, aku dan teman-teman langsung membuka halaman yang dititahkan. Pak Kasmir menjelaskan dengan detail Hadits yang di riwayatkan oleh at-Tirmidzi tersebut. Kami mendengarkannya dengan penuh seksama.

            30 menit berlalu....

            “Nah, anak-anakku sekalian, dari uraian Pak Guru tadi ada yang ingin ditanyakan?” Tanya Pak Kasmir. Aku langsung mengacungkan tangan.

            “Pak! Boleh pertanyaannya di luar materi?” Tanyaku.
            “Boleh.” Jawab Pak Kasmir, singkat. Teman-teman memandang ke arahku.
            “Begini Pak, bagaimana hukumnya merayakan ulang Tahun?” Tanyaku.
Pak Guru menganggukkan kepala. Semua kembali menatap pak guru.
           
            “Anak-anakku sekalian....” Pak Kasmir menarik napas panjang. “Ulang Tahun itu apa sih menurut kalin?” Pak Kasmir menguji kami.

            “Saya Pak!” Mutmainnah temanku mengacungkan tangan.
            “Ya, silahkan.” Pak Guru mempersilahkan.
            “Ulang Tahun adalah merayakan hari kelahiran yang jatuh setiap tahunnya.” Jawab Mutmainnah.
            “Betul Pak!!” Sahut teman-teman yang lain.
            “Ya, sudah mendekati benar. Ada yang mau memberikan definisi lagi?” Lanjut Pak Kasmir. Tapi, tak ada satupun teman-teman yang mengacungkan tangan.

            “Jadi, anak-anak sekalian... benar apa yang dikatakan oleh teman kalian tadi bahwa Ulang Tahun adalah merayakan hari kelahiran yang jatuh setiap tahunnya. Sebenarnya, anak-anakku... ulang tahun itu hanyalah budaya yang diadopsi dari budaya barat. Tapi, kebanyakan dari kita Muslim melaksanakannya, padahal Rasulullah SAW, tauladan kita mengingatkan bahwa barangsiapa menyerupai suatu  kaum maka dia adalah bagian dari kaum tersebut. Kurang lebih itulah amanat Hadits itu.” Terang Pak Kasmir.

            “Lalu, bagaimana mengatasinya Pak?” Tanyaku.
            “ Jika kalian ingin merayakannya, Pak Guru tawarkan satu solusi.” Kata Pak Kasmir.
            “Apa itu Pak?” Tanya beberapa orang teman. Sedikit riuh.
            “Di saat kalian ulang tahun, silahkan kalian merayakannya dengan menanam satu pohon!” Kata Pak Kasmir.

            “Kok begitu Pak?” Tanyaku.
            “Iya. Nanti itu akan menjadi sejarah buat kalian.’oh, inilah pohon yang aku tanam saat aku berulang tahun yang ke sekian’. Begitulah kira-kira yang akan kalian katakan suatu hari nanti.” Jelas Pak Kasmir. Tetap dengan senyumannya.

            “Waah,, betul juga ya...!” sambut kami.
            “Sesuai Hadits yang kita pelajari tadi. ‘Man ahyaa ardho mayyitatan fa hiyalah.’ Barangsiapa menghidupkan suatu bumi yang mati, maka bumi itu baginya (miliknya). Alangkah indahnya jikalau kalian mempunyai kenang-kenangan untuk masa senja kalian.” Terang Pak Guru.

            Aku bersyukur di lahirkan di tengah keluaraga yang suka berkebun. Saat ulang tahun salah-satu anggota keluarga, aku selalu mengingatkan mereka untuk menanam satu pohon. Mungkin hal yang sepele, tapi bisa saja menjadi hal yang bermanfaat  di kemudian hari. Seperti saat ulang tahunku yang ke-15 kemarin (31 Desember 2011), aku menanam singkong di area halaman belakang rumah, alhamdulillah, pada bulan Agustusnya aku memanennya dan menikmatinya bersama para tetangga. Sedangkan di Tahun 2012 kemarin (ulang tahun yang ke-16) aku menanam jambu mente/jambu monyet.

            Kawaan... aku bahagia. Sangat bahagia. Setidaknya, aku tidak mengisi hari spesialku dengan perayaan yang glamour dan berlebihan. Melainkan dengan cara memberi manfaat bagi diri, orang lain dan juga alam. Selamat mencoba ya teman-teman. Tanamlah satu pohon di saat kau berulang tahun. ;)

Selesai.... 
 SELAMAT HARI BUMI

NB: Cerita nyata yang terinspirasi dr Drs. Kasmir (MTsN Raba Kota Bima) 

Tulisan unyu2 ini terbit  dalam Antologi  "Think Green, Go Green" sebagai peringatan Hari Bumi atau Earth Day 22 April 2013. 

JUDUL        : "THINK GREEN, GO GREEN" 
Tebal          : 220 hlm 
Harga         :35.000
 Penerbit   : Pustaka Jingga 
Penulis      : Erni Misan, Novela Nian, Fransiska Widiarti, Meinilwita Yulia, Shinta Rini Priyadi, Maftuhatus Sa’diyah dkk 
ISBN         : 978-602-7880-41-2



POEM : Kenang di Jiwa Amarahku

Kenang di jiwa amarahku
Wujud angkuh egoku
Habis tak tersisa dilumat kuasa-Mu

Aku luka dalam kedunguanku
Takut akan amarah-Mu
Menyeretku agar mahu mengakui
Selama ini, ketulusanku menyembah-Mu
Hanyalah pakaian takwa yang ku sandiwarai

Tuhan, Maafkanlah!
Desember, 2016

Kamis, 14 Desember 2017

Alquran, Politik Islam, dan Para Orientalis


Berinteraksi dengan Alquran bagi muslim terlihat lumrah karena memang mereka memiliki kewajiban untuk membaca dan men-tadabburi ayat-ayat suci dalam kesehariannya. Namun bagaimana dengan orang di luar Islam (outsider) yang mempelajari Alquran dengan sungguh-sungguh dan melahirkan cara pandang baru mengenai Alquran? Ya, Kajian Alquran oleh kalangan outsider telah ada sejak abad 8 M. Siapa yang mempeloporinya belum diketahui secara pasti, kendati Yohannes of Damascus digadang-gadang  sebagai outsider awal yang berpolemik terhadap Islam (Saeed: 2016), tetapi yang jelas perjumpaan Islam dengan dunia Barat kala itu menjadi embrio perkembangan kajian keilmuan Islam pada abad-abad sekarang ini.

Farid Esack, sebagaimana dikutip dalam Hamam Faizin (Faizin: 2012), membagi interaksi antara manusia dengan Alquran seperti para pelaku cinta (lover). Kelompok pertama adalah uncritcal lover, yaitu mereka (muslim awam) yang berinteraksi dengan Alquran dengan mendalam tanpa adanya keraguan atau mempertanyakan segalanya tentang Alquran. Kelompok kedua adalah scholarly lover, yaitu mereka (sarjana muslim konvensional) yang berusaha menjelaskan isi Alquran dan menyesuaikannya dengan kemajuan ilmu pengetahuan pada umumnya sehingga mempertegas bahwa Alquran adalah wahyu Tuhan yang membawa kebenaran.

Kelompok ketiga adalah critical lover, yaitu mereka (kalangan outsider) yang mencoba mempertanyakan keotentikan Alquran sebagai wahyu Tuhan, menganalisa struktur bahasa Alquran serta sifat-sifatnya. Kelompok keempat adalah the friend of lover, yaitu mereka (kalangan outsider revisionis) yang berusaha mencari kelemahan  Alquran dengan bukti-bukti akademik.

Dalam perjalanannya, kalangan outsider (orientalis) sejak abad ke-8 hingga abad 21 sekarang secara alamiah membentuk mazhab masing-masing. Hal ini dapat kita telusuri dari karya-karya mereka yang memiliki karakteristik dan perspektif yang kaya mengenai Alquran. Misalnya karya awal yang ditulis oleh Yohannes of Damascus “Wrote Heresy of the Ishmaelities” yang bernuansa polemis terhadap Islam, lalu ada George Sale (w. 1736) yang pertama-tama menerjemahkan Alquran dari bahasa Arab ke bahasa Inggris dengan sangat objektif. Kemudian ada juga Andrew Rippin yang tulisan-tulisannya mendorong untuk memahami Alquran dalam pemahaman monoteistik yang jangkauannya lebih luas, bukan hanya dipahami dalam ruang budaya masyarakat Arab saja.

Sue Worral, University of Birmingham 2
Foto: Seorang pakar Universitas Birmingham sedang mengamati manuskrip al-Qur'an
https://www.birmingham.ac.uk/news/latest/2016/11/quran-manuscript-exhibition-display-uae.aspx

Produktivitas kesarjanaan insider dalam kajian Alquran tidak pernah seimbang bila diukur dengan produktivitas kesarjanaan Barat. Fahruddin Faiz (Faiz: 2015) mencatat jumlah penulis ilmiah di kalangan insider berjumlah 3.300 orang, sementara di kalangan outsider berjumlah 19.000 orang. Perbedaan yang cukup besar bukan?

Adapun negara-negara Islam yang paling banyak menghasilkan karya ilmiah antara lain; Mesir, Iran, Pakistan, Nigeria, Turki, Malaysia dan Lebanon. Negara Barat sejak abad 12 telah melakukan penerjemahan teks-teks Arab ke dalam bahasa Latin dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang disertai kritik yang beragam (Saeed: 2016). Berbagai universitas terkemuka dunia seperti di Jerman, Belanda, Inggris, Amerika, Hongaria, dan Perancis sejak dahulu telah membuka kajian Islamic Studies untuk mengulas teks-teks Arab. Bahkan sampai sekarang masih tetap eksis.

Alquran sebagai wahyu dan sumber ilmu pengetahuan telah mencuri perhatian kalangan outsider. Ia dikaji dengan berbagai macam teori dan pendekatan. Alquran dan para pembacanya dari kalangan muslim diangkat sebagai objek penelitian oleh kalangan outsider. Kesempatan yang dimiliki oleh outsider untuk mengkaji Alquran sangat besar dan didukung oleh fasilitas kampus yang menyediakan kelas-kelas bahasa oriental. Mereka juga disokong untuk langsung melakukan penelitian di mana Alquran turun dan dipelajari oleh masyarakat muslim. Sebuah semangat keilmuan yang tiada tandingannya. Hal ini mengingatkan kita kepad Al-Kindi yang pada masanya didukung penuh oleh pemerintah Islam untuk menerjemahkan karya-karya Filsafat Yunani ke dalam Bahasa Arab. Dan momen itu menjadi titik balik lahirnya tokoh-tokoh cendekiawan Islam.

Namun, kita tidak akan bernostalgia dengan masa-masa itu. Saat ini, negara yang mayoritas penduduknya muslim sedang diuji dengan pemerintahan yang rapuh. Apalagi dengan karakteristik para birokratnya yang pandai mempolitisasi ayat-ayat Alquran. Harus kita akui bahwa umat Islam sekarang ini disibukkan dengan urusan politik dan kekuasaan, agama dibawa-bawa di atas podium kampanye partai. Inilah yang merusak citra Alquran. Oleh karena itu, tugas para sarjana Alquran lah untuk mengembalikan ruh atau wacana Alquran yang rahmatan lil ‘alamin.

Kita bisa melihat lahirnya tokoh-tokoh tafsir kontemporer saat ini seperti Fazlu Rahman, Arkoun, Shahrour, Farid Esack dan lain-lainnya tidak terlepas dari pengaruh western scholars yang menggeluti kajian keislaman. Mereka adalah tokoh-tokoh yang berusaha dengan keras mengkritik umat Islam dari dalam, mengingat penyakit anti-Barat, taqlid, dan jumud (kebekuan berpikir) yang menjangkiti umat Islam dewasa ini. Sikap anti-Barat seharusnya kita hilangkan sejak sekarang, karena kita telah berada pada ruang global yang meniscayakan saling keterbukaan dalam banyak sisi. Seperti yang dikatakan oleh Al Makin (Makin: 2017) pembagian dunia Barat dan Timur (outsider dan insider) itu sudah tidak relevan lagi. Pasalnya kita telah dekat, bersaing, dan tidak lagi saling berhadapan. Posisi berhadap-hadapan artinya kita menelan bulat-bulat konsep kolonialisasi.

Kita sudah tidak hidup pada masa itu, kawan!



Sumber Bacaan:

Faiz, Fahruddin. Hermeneutika Alquran: Tema-Tema Kontroversial. Yogyakarta: Kalimedia. 2015

Faizin, Hamam. “Alquran Sebagai Fenomena yang Hidup (Kajian atas Pemikiran para Sarjana Alquran”. Makalah International Seminar and Qur’anic Conference II, 2012.

al Makin. Antara Barat dan Timur: Batasan, Domnasi, Relasi, dan Globalisasi. Yogyakarta: Suka Press. 2017.

Saeed, Abdullah. Pengantar Studi Alquran. Yogyakarta: Baitul Hikmah Press. 2016.

Artikel ini terbit juga di : http://www.mengenalislam.com/2017/06/14/alquran-politik-islam-dan-para-orientalis/

Cerita Orang Muda Penghayat dalam Mengelola Perbedaan

Disclaimer:  Tulisan ini adalah publikasi ulang dari hasil liputan penulis di Gunung Kidul dengan beasiswa dari AJI Yogyakarta pada tahun 20...