Keteraturan Tata Surya dalam Al-Quran[1]
ABSTRAK
Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan tentang makna
pergerakan matahari dan bulan di dalam al-Quran yang berpotensi sebagai
pengukuh keimanan orang Islam atas dasar pengamatan yang mendalam mengenai
fenomena alam tersebut. Dengan menggunakan metode tematik-narasi yang
dikolaborasi dengan pendekatan sejarah
tulisan ini menhasilkan sebuah pandangan bahwa pembicaraan mengenai keteraturan
pergerakan matahari dan bulan dalam al-Quran adalah wujud penolakan atau penyangkalan
bahwa keberadaan benda-benda langit tersebut adalah representasi para dewa
sehingga umat manusia sepatutnya memahami bahwa peredaran matahari dan bulan
adalah ketetapan dan wujud kekuasaan Allah swt.
- Pendahuluan
Al-Quran bukan sekali atau dua
kali ia berbicara mengenai fenomena alam. Tetapi berulangkali dan dalam
berbagai bentuk. Ada yang berupa sumpah, perumpamaan, dan ulasan yang
mengungkapkan penegasan Allah swt mengenai kekuasaan-Nya di alam raya ini.
Dalam tulisan ini kami menguraikan tafsir mengenai keteraturan tata surya yang
diwakili oleh Surat Yunus : 5-6 dan Surat Yasin : 39-40.
Untuk memperoleh makna kata
dari ayat-ayat tersebut kami merujuk pada Tafsir Al-Maraghi dan
Tafsir Fi Dzilal Al-Quran, sehingga memudahkan untuk mencari padanan
kata-kata Arab tersebut dalam bahasa yang lain. Usaha ini semata-mata untuk
memperoleh pemahaman yang mantap mengenai ayat tersebut. Dalam tulisan ini pula
dipaparkan sejumlah informasi sejarah untuk menunjang konsep atau wacana
mengenai peredaran matahari dan bulan yang dipahami oleh masyarakat di luar
Islam. Sehingga kita dapat mencapai suatu gagasan bahwa, ayat ini tidak turun
dalam ruang hampa, tetapi merespon budaya dan peradaban manusia yang sedang
berlangsung. Dari argumen tersebut kita menggali mengapa al-Quran berbicara
soal tata surya ? dan bagaimana ulama tafsir menjelaskan maksud Tuhan berbicara
soal tata surya ? Apa yang hendak Tuhan sampaikan lewat ayat ini ?
- Ayat Keteraturan Tata Surya
1.
Yunus (10) : 5-6
هُوَ
الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ
لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا
بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (5) إِنَّ فِي اخْتِلَافِ
اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ (6)
Terjemahan: “Dialah yang
menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya
manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui
bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian
itu melainkan dengan hak.[2] Dia
menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi orang-orang yang mengetahui (5).
Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang dan pada yang diciptakan Allah di
langit dan di bum, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi
orang-orang yang bertakwa (6).”
2.
Kajian Tafsir Q.S. Yunus
a.
Dalam Tafsiran Sayyid Quthb
Menurut Sayyid Quthb, tema
sentral Q.S.Yunus adalah himpunan berbagai pemandangan tentang alam semesta
dengan fenomena-fenomenanya. Pemandangan yang memberikan kesan kepada fitrah
manusia terhadap hakikat uluhiyah (ketuhanan, yang menunjukkan
pengaturan yang sangat bijaksana). Dan juga menunjukkan adanya tujuan tertentu
di dalam penciptaan dan pengaturan alam ini. Selain itu juga, menunjukkan
kecocokan bagi kehidupan dan makhluk hidup, bagi kehidupan manusia dan
pemenuhan kebutuhannya dalam kehidupannya.
Persoalan uluhiyah yang
dipaparkan al-Quran dalam lukisan yang hidup, realistis dan inspiratif, dan
tidak dipaparkan dengan menggunakan metode debat falsafi dan logika pikiran.
Allah yang menciptakan alam dan manusia ini mengetahui bahwa antara fitrah manusia
dengan pemandangan alam dan rahasia-rahasia-Nya ini terdapat bahasa yang bisa dimenegrti
olehnya. Juga terdapat kesan saling menjawab (reaksi) yang lebih dalam daripada
logika pikiran yang dingin dan kosong.[3]
Oleh karena itu, di dalam Al-Quran ini banyak didapati kalimat untuk menggugah fitrah
manusia ini dengan menggunakan bahasa pemahaman.
Semua fenomena yang nampak
jelas ini menyadarkan manusia agar merenungkannya dengan penuh perhatian.
Sesungguhnya Allah yang telah menciptakan dan mengatur semua inilah yang pantas
menjadi Tuhan dimana manusia tunduk melakukan ibadah kepada-Nya dan tidak
mempersekutukan-Nya. Sesungguhnya alam yang besar ini baik langit ataupun bumi,
dan segala sesuatu yang ada di dalamnya, semuanya itu berjalan sesuai dengan
sunatullah.[4]
Allah menentukan segala
permulaan dan kesudahannya, menyusun keadaan-keadaan dan akibat-akibatnya dan
menertibkan pendahuluan-pendahuluan dan hasil-hasilnya. Dan memilih peraturan
untuk mengatur langkah-langkahnya, perkembangannya, dan tempat kembalinya.[5]
b.
Dalam Tafsiran Imam Al-Maraghi
Adh-Dhiya’ menurut bahasa berarti An-Nur (Cahaya), tetapi
pemakaian kata adh-Dhau’ bersifat lebih kuat. Adh-Dhau’ adalah
sinar yang datang dari materi itu sendiri, seperti sinar matahari dan api.
Sedangkan An-Nur ialah cahaya yang datang dari materi lain.[6]
Sedangkan kata siraj (pelita) sinarnya datang dari dirinya sendiri. adh-Dhau’
artinya sesuatu yang menerangi kamu. Matahari sendiri memiliki macam-macam
sinar, seperti yang kita ketahui pada umumnya yakni, tujuh warna.[7]
At-Taqdir; menjadikan sesuatu dengan ukuran tertentu, baik
mengenai zat atau sifat-sifatnya, waktu atau tempatnya. Sebagaimana yang
dijelaskan oleh Allah dalam Q.S. Furqan (25) : 2, dan Yasin (36): 39.
Tuhan telah menciptakan langit
dan bumi, kemudian menjadikan matahari bersinar di waktu siang dan rembulan
bersinar di waktu malam, serta mengatur penghidupan dengan keduanya. Oleh
karena itu, pantaslah bila Allah mengatur urusan akhirat manusia dengan
mengutus Nabi dan Rasul, serta kitab-kitab-Nya. Allah telah menetapkan manzilah
bagi rembulan untuk berhenti (yakni 28 tempat) dan dalam perputarannya ia tidak
mempercepat gerakannya dan tidak pula memperlambatnya. Bulan dan matahari tidak
saling mendahului satu sama lain. Dengan begitu, manusia diberi anugerah untuk
mengetahui perhitungan waktu sehari-hari agar dapat menetapkan ibadah dan mu’amalah,
baik yang berkaitan dengan harta maupun kemajuan peradaban.[8]
Allah menerangkan hikmah penciptaan-Nya yang menjadi bukti-bukti kerasulan bagi
Rasul-Nya secara rinci dengan menyebutkan satu per satu, baik dalil-dalil yang
terdapat pada alam semesta (qouniyah)atau dalil-dalil akal (aqliyah).[9]
3.
Yasin (36): 39-40
وَالْقَمَرَ
قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ (39) لَا
الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ
النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ (40)
Terjemahan: “Dan telah kami
tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah
yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua (39).[10]
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat
mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya (40).”
4.
Kajian Tafsir Surah Yasin : 39
Matahari, bulan,
planet-planet dan satelit-satelit lain di luar angkasa, semuanya berputar
menurut garis edarnya yang sudah tentu. Para astronom berpendapat bahwa ada dua
macam perputaran matahari. Yaitu putaran matahari pada porosnya sendiri dan
putaran pada garis edarnya bersama planet-planet dan satelit-satelit sekitarnya
yang disebut Gugusan Bima Sakti.[11]
a.
Dalam Tafsir Al-Maraghi
Qaddarnahu :
ditakdirkan jalan pada manzil
Al manazil : jarak
yg ditempuh oleh bulan
‘Ada :
(kembali), berada pada saat-saat akhir perjalanannya dan mendekati matahari,
ketika tampak oleh mata berbentuk seperti tandan.
Al-‘Urjun : (tandan) batang tempat lekatnya tangkai gugusan buah. Apabila bulan itu
telah mencapai daur bulanannya, maka ia akan melengkung tipis dan berwarna
kuning.[12]
Al-Falak : tempat beredarnya benda-benda langit/galaksi (berbentuk
lingkaran).
As-Sibahah : Berenang dalam air yang dilakukan oleh ikan dan semisalnya. Kata ini
digunakan untuk arti berputarnya benda langit di tempat peredarannya yang
khusus.
Matahari itu beredar
mengelilingi poros peredarannya yang tetap, ia melakukan rotasi sesuai dengan
aturan astronomisnya, kira-kira 200 mil/detik. Aturan tersebut merupakan
ketentuan dari Allah swt, Dialah yang maha perkasa dan maha kuasa mengendalikan
makhluk-makhluknya, dan maha tahu tentang keadaan-keadaannya. Tempat
persinggahan (manzil) dalam ayat ini merupakan tempat persinggahan bagi bulan,
yaitu 28 manzil. Kadang-kadang ia genap 30. Pada manzil yang terakhir bulan
nampak tipis melengkung dan berwarna kuning. Tidak mungkin bagi matahari
melampaui bulan, dan begitupun sebaliknya, karena perjalan keduanya memiliki
kecepatan masing-masing. Pergerakan matahari dan bulan menyebabkan terjadinya
fenomena siang dan malam, kedua-duanya berjalan dengan perhitungan yang
teratur, tidak berubah dan berganti. Bumi, matahari maupun bulan beredar pada
falaqnya bagaikan berenangnya ikan dalam air. Beberapa poin penting mengenai
ayat ini adalah :
1.
Pergantian siang dan malam adalah sebagai bukti dari kekuasaan Allah swt.
2.
Peredaran lahiriyah planet-planet yang ada memungkinkan masyarakat untuk
menentukan jumlah hari pada setiap bulannya.
3.
Memungkinkan kita melihat bulan sabit ataupun Hilal untuk menentukan awal
bulan baru.
4.
Bumi, matahari dan bulan memiliki garis edarnya masing-masing, sehingga
antar satu dengan yang lainnya tidak saling menghalangi cahaya matahari kecuali
pada saat-saat tertentu (gerhana).[13]
b.
Dalam Tafsir Sayyid Qutb
Manusia melihat bulan itu dalam
manzilah-manzilahnya, dimulai dari bulan sabit, dan berkembang dari satu malam
ke malam yang lain sampai menjadi purnama yang utuh. Setelah itu mengecil
kembali sedikit demi sedikit hingga jadi bulan sabit. Dalam surat ini
disebutkan sabit yang terakhir dengan kalimat ‘Urjunil Qodim (tandan
tua). Karena pada mulanya bulan itu berbentuk sabit sementara pada malam
terakhir berbentuk sabit pula. Bulan sabit yang pertama tampak cemerlang dan
segar. Sedangkan bulan sabit yang akhir ia hadir dengan keadaan yang pucat
seperti rontoknya tandan tua. Kehidupan bersama matahari dan bulan dari satu
malam ke malam yang lain merangsang alam indrawi, perasaan dan lintasan fikiran
yang memanggil, penuh sugesti yang mendalam.[14]
- Kajian Astronomi di Dunia
Astronomi adalah ilmu
pengetahuan yang berkaitan dengan gerakan, penyebaran dan sifat benda-benda
samawi. Ilmu ini adalah ilmu yang paling tua dari semua ilmu pengetahuan.[15]
Orang Babylonia yang hidup 3000 SM di lembah sungai Tigris dan Eufrat
(Mesopotamia) adalah yang pertama kali memiliki catatan sejarah mengenai
astronomi. Mereka mempercayai bahwa para dewa mengendalikan seluruh alam
semesta dan segala yang ada di dalamnya. Bulan, matahari, dan badai semua
diatur oleh dewa.[16]
Dengan mengamati dan melaporkan secara akurat planet dan konstelasi bintang-bintang,
para pengamat langit (astronom) Babylonia mencoba mengembangkan ilmu astronomi,
dan menyusun kalender berdasarkan siklus bulan. Akan tetapi, pada masa ini
mereka tidak membentuk teori-teori tertentu untuk mengkoordinasikan dan
memperjelas apa yang mereka amati. Mereka percaya bahwa posisi bintang-bintang
dan planet mengungkapkan keinginan para dewa.[17]
Sementara itu, pada saat yang sama peradaban Mesir Kuna menggunakan kalender
matahari yang memungkinkan mereka memperkirakan kapan sungai Nil akan meluap.
Kalender ini lebih akurat dibanding kalender bulan yang dibuat orang Babylonia
karena sudah menggunakan rumus-rumus matematika.[18]
Penemuan orang Babylonia dan Mesir inilah yang kemudian mengilhami para pemikir
Yunani menganalisis secara sistematis mengenai planet-planet.[19]
Para Imam Babylonia maupun Mesir sudah melakukan pengamatan terhadap
benda-benda langit untuk alasan-alasan religius, karena mereka mempercayai
bahwa pergerakan benda langit adalah representasi dari kehendak para dewa.
Orang Yunani menggunakan data yang dihimpun oleh orang Babylonia bukan untuk
maksud religius, mereka berusaha menemukan hukum-hukum geometris yang mendasari
pergerakan benda-benda langit.[20]
Orang-orang Yunani atau lebih
tepatnya para pemikirnya yang sangat rasional memiliki argumen-argumen ilmiah
mengenai pergerakan bintang-bintang. Misalnya seorang astronom Yunani,
Anaxagoras, ia berpendapat bahwa jagat raya ini teriri dari batu-batu yang
berpijar, akibat kecepatan tinggi dari pusaran anginlah yang menggerakkannya.[21]
Sementara itutokoh lain seperti Archimedes (w. 212 SM) memiliki rancangan model
planetarium yang dapat menunjukkan gerak matahari, bulan, planet-planet dan
kemungkinan rasi bintang di langit[22]
yang disebut sebagai an orrery.[23]
Selanjutnya, filosof yang berhasil mengembangkan pengetahuan astronomi adalah
Thales, sebagaimana dikutip dalam id.wikipedia.org :
“Thales adalah seorang saudagar yang sering berlayar ke
Mesir. Di Mesir, Thales mempelajari ilmu ukur dan membawanya ke Yunani. Ia
dikatakan dapat mengukur piramida dari bayangannya saja. Selain itu, ia juga
dapat mengukur jauhnya kapal di laut dari pantai. Kemudian Thales menjadi
terkenal setelah berhail memprediksi terjadinya gerhana matahari pada tanggal
28 Mei tahun 585 SM.Thales dapat melakukan prediksi tersebut karena ia
mempelajari catatan-catatan astronomis yang tersimpan di Babilonia sejak 747
SM.”[24]
Sementara itu, filosof selanjutnya, seperti Plato dan
Aristoteles mengembangkan teori bahwa Bumi adalah pusat tata surya. Bintang,
bulan, dan matahari beredar mengelilingi bumi.[25]
Alexandria di Mesir menjadi pusat pengajaran ilmu astronomi pada masa silam. Di
sana muncul nama Cato dan Varro (keduanya orang Romawi) yang belajar astronomi
dan memanfaatkannya untuk pertanian. [26]
Meninggalkan peradaban Yunani yang mencari dasar
bergeraknya planet dengan argumen ilmiahnya, kita beralih kepada peradaban
Romawi yang dekat dengan peradaban Islam.[27]
Ajaran mengenai astronomi yang dipelajari orang Mesir dari bangsa Greek (Yunani
Kuna), menginspirasi pula bangsa Romawi. Sehingga saat penaklukan kota Mesir
oleh Julius Caesar, ia menetapkan kalender Julian untuk menetapkan
perayaan-perayaan pada masa pemerintahannya.[28]
Kalender Julius atau Kalender Julian diusulkan oleh astronom Sosigenes,
diberlakukan oleh Julius Caesar sejak 1 Januari 45 sebelum Masehi. Setiap 3
tahun terdapat 365 hari, setiap tahun ke-4 terdapat 366 hari. Kalender ini
merupakan tahun syamsiah (matahari) dengan jumlah hari tetap setiap bulannya,
dan disisipi satu hari tiap 4 tahun untuk penyesuaian panjang tahun tropis.
Kalender ini digunakan secara resmi di seluruh Eropa, sampai kemudian
diterapkannya reformasi dengan penggunaan Kalender Gregorius pada tahun 1582
oleh Paus Gregorius XIII, karena perhitungan kalender Julius yang tidak akurat
mengenai Perayaan Paskah. Pada masa ini pulalah istilah Tahun Masehi digunakan.[29]
Berikut nama-nama bulan pada tahun syamsiah menurut Kalender
Gregorius[30] :
1.
Januari : Janus (Dewa permulaan dan akhir bangsa Romawi)
2.
Februari : Februus (Dewa kematian dan pemurnian
Romawi)
3.
Maret : Mars (Dewa perang Romawi)
4.
April : bulan penghormatan untuk dewi Venus. Kata April diambil
dari nama Venus dalam bahasa Yunani yaitu Aphrodite (Aphros).
5.
Mei : Maia Maiestas (Dewi Romawi)
6.
Juni : Juno (Dewi Romawi, istri Jupiter (mitologi)
7.
Juli : Julius Caesar (diktator Romawi)
8.
Agustus : Augustus (Kaisar Romawi pertama)
9.
September : Septem (bahasa Latin untuk tujuh,
bulan ke-7 kalender Romawi)
10.
Oktober : Octo (bahasa Latin untuk delapan, bulan ke-8 kalender
Romawi)
11.
November : Novem (bahasa Latin untuk sembilan,
bulan ke-9 kalender Romawi)
12.
Desember : Decem (bahasa Latin untuk sepuluh,
bulan ke-10 kalender Romawi)
Sementara itu, masyarakat Arab pada masa pra-Islam tidak
mengenal istilah tahun, namun bulan dan tanggal telah diketahui. Misalnya
mengenai kelahiran Rasulullah saw pada hari kedua belas bulan Rabi’ Al-Awwal
(The first Spring) tahunnya hanya disebut berdasarkan peristiwa, yakni
Tahun Gajah. Karena tepat pada saat pengepungan tentara bergajah yang dipimpin
Gubernur Yaman bernama Abrahah. Tahun Hijriah yang dikenal sekarang ini
ditetapkan enam tahun setelah wafatnya Rasulullah saw atau pada masa
kekhalifahan Umar bin Khattab.[31]
Bulan-bulan Qamariah dalam Tahun Hijriah sebagai berikut
:
1.
Muharram : Forbidden (Terlarang)
2.
Safar : Whistling of the Wind (Angin bersiul)
3.
Rabi’ Al-Awwal : The first spring (musim semi)
4.
Rabi’ Al-Tsani : kebalikan dari musim semi (yaitu musim
gugur)
5.
Jumada Al-Awwal : Tanah kering tanpa hujan
6.
Jumada Al-Tsani : Tanah kering tanpa hujan
7.
Rajab : to respect (menghormati)
8.
Sya’ban : Separation (Perpisahan)
9.
Ramadhan : Panas yang menghanguskan atau kekeringan
10.
Syawal : Lift or carry (Angkat atau Bawa/unta betina yang
membawa janinnya)
11.
Dhu Al-Qaidah : -
12.
Dhu Al-Hijjah : The Month of the Pilgrimage (Bulan
Haji)
Selain nama bulan-bulan tersebut, orang Arab juga
mengenal manzil sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Maraghi ada 28
manzil yang dikenal oleh masyarakat Arab. Manazil ini juga dikenal dalam peradaban China, India,
Iran (Persia), Yunani, Romawi, masyarakat Mesir dan Babilonia kuna. Biasanya
manazil ini disebut lunar mansion. Bila kita melihat pemetaan nama-nama dalam
tabel di atas dengan berbagai bahasa yang berbeda kita dapat memahami
bahwasannya nama-nama tersebut digunakan untuk wilayah astrologi. Astrologi
secara garis besar terbagi menjadi dua: a) Astrologi alamiah, yakni
suatu ilmu yang meramalkan gerakan benda-benda samawi dan lingkaran edar
matahari dan bulan. b) Astrologi Yudisial, yakni ilmu yang mempelajari
tentang pengaruh perbintangan terhadap nasib manusia dan wilayah kekuasaannya.[32]
- Refleksi Pemakalah
Dua ayat yang menjadi titik keberangkatan dalam
pembahasan tulisan ini, yaitu surat Yunus : 5-6 dan surat Yasin : 39-40
merupakan tergolong ayat-ayat Makiyyah periode akhir. Menurut pendapat Noldeke Surat-surat
periode Makkah ketiga atau Makkah akhir lebih panjang dan lebih berbentuk
prosa. Sementara Weil, beranggapan bahwa “kekuatan puitis” yang menjadi ciri
khas ayat-ayat Makiyyah awal telah menghilang.[33]
Melihat argumen ini, empat ayat dari dua surat di atas seolah-olah menegaskan
bahwa sepatutnya manusia itu memikirkan dan mengetahui bahwasannya pergerakan
benda-benda langit itu merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah swt.
Mengingat kesejarahan masyarakat Arab pada masa hidup Muhammad saw adalah kaum
paganisme (musyrik)[34],
maka turunlah untuk mengingatkan mereka semua bahwa tidak pantas bagi mereka
(manusia) menyembah atau menjadikan benda-benda langit itu wasilah untuk
mendekatkan diri/berdoa kepada Allah swt, karena manusia dan planet-planet itu
sama-sama makhluk (ciptaan Tuhan). Maka, apa yang dilakukan oleh peradaban
Mesir, Babilonia, Romawi dan semacamnya adalah bertentangan dengan teologi
orang-orang Islam, karena menganggap perubahan waktu dan musim yang diamati
dari bintang-bintang adalah kehendak dewa.
Sementara itu, bagi masyarakat yang bertakwa lagi
mengetahui, hendaklan mengambil hikmah atas penghayatannya terhadap pergerakan
benda-benda langit. Yaitu memanfaatkannya untuk menentukan perhitungan hari, bulan,
dan tahun untuk mendukung kehidupan di dunia ini, baik dalam hal peradaban
maupun ritual keagamaan seperti waktu berhaji, shalat, puasa, dan lain-lain.
- Daftar Pustaka
Al-Qur’an
dan Terjemahannya. Departemen Agama, revisi 1994.
Amal, T.A. Rekonstruksi
Sejarah Al-Quran. Jakarta: Yayasan Abad Demokrasi. 2011.
al-Maraghi. Tafsir
Al-Maraghi, terj. jld. 11. Semarang: Toha Putra. 1987.
__________
Tafsir Al-Maraghi, terj. jld. 23. Semarang: Toha Putra. 1987
Noor, S. Misteri
Surat Yasin. Jakarta: Al-Mawardi Prima. 2009.
Perry, M. Peradaban
Barat. Cet.3. Bantul: Kreasi Wacana, 2017.
Qutb, S. Tafsir
fi Dzil Al-Qur’an, terj. jld 9. Jakarta: Robbani Press. 2005.
Rahman, A. Al-Qur’an
Sumber Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Bina Aksara.1989.
Web
https://id.wikipedia.org/wiki/Anaxagoras,
diakses pada 26 Apr. 17
https://id.wikipedia.org/wiki/Archimedes,
diakses pada 26 Apr. 17
http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Archimedes#Astronomy,
diakses pada 26 Apr. 17
https://id.wikipedia.org/wiki/Thales,
diakses pada 26 Apr. 17
https://light2015blog.org/2015/08/14/astronomy-in-ancient-civilizations-i/,
diakses pada 26 Apr. 17
https://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Julius,
diakses pada 26 Apr. 17
https://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Gregorius,
diakses pada 26 Apr. 17
https://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Hijriyah,
diakses pada 27 Apr. 17
http://www.wikiwand.com/ms/Senarai_nama_bintang_dalam_bahasa_Arab, website
untuk melihat nama bintang yang ditemukan oleh ilmuwan Islam
[1] Dipresentasikan oleh Imam
Atqiya’ (14530076) dan Ruwaidah Anwar (14530031) dalam perkuliahan Tafsir Ayat
Kealaman yang diampu oleh Bapak Moh. Hidayat Noor, M.Ag. Program Studi Ilmu
Al-Quran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan
Kalijaga, Yogyakarta. Kamis, 27 April 2017.
[2] Maksudnya:
Allah menjadikan semua yang disebutkan itu bukanlah dengan percuma, melainkan
dengan penuh hikmah.
[3] Sayyid
Quthb, Tafsir fi Dzil Al-Qur’an, terj. (Jakarta: Robbani Press, 2005, hlm.
77
[4] Sayyid
Qutb, Tafsir fi Dzil Al-Qur’an...hlm. 94
[5] Sayyid
Quthb, Tafsir fi Dzil Al-Qur’an... hlm. 95
[6] Rujukannya
adalah Q.S. Nuh (71): 16
[7] Al-Maraghi,
Tafsir Al-Maraghi, terj. jld. 11, (Semarang: Toha Putra, 1987), hlm. 123
[8] Al-Maraghi,
Tafsir Al-Maraghi... hlm. 125, lebih lanjut juga dianjurkan membaca Q.S.
Ar-Rahman (55): 5 dan Al-Isra (17): 12
[9] Al-Maraghi,
Tafsir Al-Maraghi... hlm. 127
[10] Maksudnya:
bulan-bulan itu pada awal bulan, kecil berbentuk sabit, kemudian setelah
menempati manzilah-manzilah, dia menjadi purnama, kemudian pada manzilah
terakhir kelihatan seperti tandan kering yang melengking.
[11] Syamsudin
Noor, Misteri Surat Yasin, (Jakarta: Al-Mawardi Prima, 2009), hlm.127-128
[12] Al-Maraghi,
Tafsir Al-Maraghi, Juz 23, terjemahan, hlm. 10
[13] Al-Maraghi,
Tafsir Al-Maraghi, juz 23. Hlm, 11-17
[14] Sayyid Qutb, Tafsir fi Dzil Al-Qur’an,
jilid 9, hlm. 393-395
[15] Afzalul
Rahman, Al-Qur’an Sumber Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Bina Aksara, 1989),
hlm. 58
[22]
https://id.wikipedia.org/wiki/Archimedes, diakses pada 26 Apr. 17
[25] https://light2015blog.org/2015/08/14/astronomy-in-ancient-civilizations-i/,
diakses pada 26 Apr. 17
[26] https://light2015blog.org/2015/08/14/astronomy-in-ancient-civilizations-i/,
diakses pada 26 Apr. 17
[27] Pembahasan
ini dipilih karena melihat pemetaan wilayah Arab pra-Islam yang bukan peradaban
besar, namun, hidup di antara dua peradapan yang berpengaruh yakni Persia dan
Romawi.
[28]
https://light2015blog.org/2015/08/14/astronomy-in-ancient-civilizations-i/,
diakses pada 26 Apr. 17
[33] Taufik Adnan
Amal, Rekonstruksi Sejarah Islam, (Jakarta: Yayasan Abad Demikrasi,
2011), hlm. 120
[34] Penyembahan
terhadap matahari, bintang sirius, api, berhala, ritual penyembelihan manusia
di ka’bah dan pada hari-hari gerhana, dan lain-lain.