Judul : Jangan Menangis Bangsaku
Cetakan : Pertama, 2018
Penulis : N. Marewo
Tebal : 200 Halaman
Penerbit : Pustaka Pelajar
ISBN : 9786022299202
N. Marewo dalam novelnya Jangan Menangis Bangsaku mencoba menawarkan sebuah solusi alternatif yang bisa dilakukan oleh siapapun untuk memperbaiki keadaan bangsa. Pemuda diharapkan mampu menjadi mesin penggerak perubahan bangsa. Yang dalam novel ini, N. Marewo menceritakan perjalanan dua sosok pemuda yang bernama Tambor dan Riska, yang pergi “menyepi” sejauh-jauhnya karena tak tahan melihat berbagai permasalahan bangsa tempat mereka berasal. Hal ini terbukti dari percakapan mereka.
“Kesewenang-wenangan yang dilakukan pengelola negeri merobek hati nurani semua warga. Virus kekuasaan meracuni pikiran bayi-bayi. Kita punya pilihan apa selain memusnahkan diri? Mau kemana bila kita tak mau memaafkan masa silam? Hidupku pun penuh luka. Tiap hari ku cari kegairahan dari satu kota ke kota lain. Aku muak dengan semuanya. Aku ingin bisa terbebas dari kelesuan dan keluh-kesah”. (hlm. 6).
Bagi Tambor dan Rizka, penyebab berjubelnya masalah yang dihadapi bangsa mereka, karena banyaknya penghianat dan orang-orang munafik yang tak se-iya sekata, janji-janji yang dihianati, perkataan tidak sesuai dengan perbuatan. Dan sialnya yang melakukan berbagai penyimpangan dan penghiatan tersebut adalah orang-orang yang mengaku cinta kepada bangsa negeri tersebut. Sehingga berbagai masalah-masalah tersebut sulit untuk diselesaikan. Karena yang seharusnya bertanggung jawab menyelesaikannya ternyata mereka juga yang merusaknya.
Instansi tempat mereka bekerja tak bedanya dengan ATM berjalan, mereka menguras dan mengumpulkan harta untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya masing-masing.
“Banyak mereka yang mengatakan cinta pada negeri ini, tapi nyatanya hanya menguras apa yang dapat diperoleh kemudian ditimbun untuk diri sendiri. Para politisi, pejabat, pengusaha, pegawai negeri, kontraktor dan wakil-wakil rakyat sama saja”. (hlm. 7). Itulah kecenderungan yang lakukan oleh pemangku kepentingan di negeri ini. Tak banyak yang benar-benar amanah yang diserahkan untuk pengabdian untuk Dou labo dana. Semua orang berani bersumpah atas nama agama dan kitab suci. Namun kerusakan demi kerusakan terus terjadi dalam kehidupan sosial politik kita, menunjukkan keadaan yang tidak baik-baik saja yang utamanya dilakukan para pemegang kepentingan.
Dalam Novel ini, N. Marewo kelihatan sekali, mengajak Civil Society untuk membentuk sebuah gerakan dan gebrakan baru. Jika anda membaca lembar demi lembar novel ini, anda akan diajak oleh Marewo membangun wilayah sedikit demi sedikit. Yang dimulai dengan menggali sumur sebagai sumber air dan dasar-dasar membangun peradaban.
“Pagi-pagi ia memperhatikan gunung dan lembah. Entah apa yang dipikirkannya. Saat malam yang sunyi kuliahat ia mencium tanah. Didekatkannya telinga ke permukaan tanah seakan-akan mendengar sesuatu.Kepalanya terangguk-angguk sedang wajahnya yang tegang mendadak berubah seperti menaruh harapan. Malam itu wajahnya menegadah sebelum menggali sumur.” (hlm. 23).
Dengan usaha yang tidak kenal lelah dan sikap gigih tele, tenggo ra wale (bahasa Bima), Tambor berhasil menggali sumur. Burung-burung, belalang, serangga-serangga kecil mulai mengerumuti sumur itu. Tampak harapan-harapan akan panjangnya hidup disambungkan oleh burung-burung, belalang, serangga-serangga yang beristirahat hanya untuk mengairi kerongkongan yang kering.
kecerdikan N. Marewo dalam novel ini adalah beliau bisa menggambarkan kehidupan manusia yang seakan-akan nyata seperti aslinya dan membayangkan bahwa kitalah yang terlibat dalam setiap kata, kalimat, dan paragraf yang Marewo rangkai.
Setelah sumur itu, Tambor dan Rizka mulai menggarap lahan, lahan yang kering tak menghasilkan apa-apa, mulai dibajak, ditanami jagung dan tanaman-tanaman (Pako: Bahasa Bima) yang bisa dimakan. Dibukalah jalur-jalur air untuk mengairi tanaman itu, Tambor juga tak jarang langsung menyiram tanaman-tanaman penyambung hidup itu. Tugas Rizka, selain membantu Tambor, mengurusi gubuk yang sebelumnya mereka bangun, walaupun keduanya hanya berstatus sebagai sahabat.
Orang-orang yang berhijrah mulai datang ke Lembah Hijau, nama lembah Tambor dan Rizka itu, orang-orang sama pencari “suaka” dinegeri sendiri berdatangan ke Lembah. Mula-mula dua orang, ibu dan anak bermodalkan tiga ekor induk ayam dan sepasang bebek dan ayam pejantan yang diikat kakinya.
“Ibu muda berwajah pucat. Di sebelahnya terebah remaja laki-laki berusia tiga belas tahun, lelap dalam posisi udang rebu. Tiga ekor induk ayam, sepasang bebek, dan ayam pejantan, terikat kakinya. Tas pakaian tergeletak diantara mereka”(hlm. 34-35).
Lembah Hijau, tak berhenti menghembuskan nafas, pencari suaka tak berhenti datang dengan membawa harta terakhir. Setelah, unggas-unggas itu terpelihara dengan baik, berkembang biak tak ada halangan, berkeliaran semaunya di Lembah itu. Pencari suaka yang lain juga datang bergiliran, ada yang membawa kuda, ada juga yang tak membawa apa-apa karena tak punya apa-apa.
Dengan semakin banyaknya pendatang dari kota yang tiba di Lembah Hijau itu, akhirnya Lembah itu menjadi perkampungan yang ramai, ramai dengan anak-anak yang mulai dipikirkan bagaimana perkembangannya, dibuatlah sekolah dengan Rizka sebagai gurunya dan sebagai dokter, dengan mengandalkan apotek hidup sebagai obatnya, kunyit, tawoa, mengkudu mungkin juga kayu Suppa. Wanita berusia hampir kepala dua tumbuh dengan eloknya, begitu juga laki-lakinya tumbuh menjadi pemuda yang ulet dan kuat dalam bekerja.
Kehidupan yang dijalani di Lembah itu, mulai ada yang jatuh cinta, ada yang saling mencintai, ada juga yang hanya bertepuk sebelah tangan.
“Nana, yang pikirkan cuma dia, saya mencintainya”. Bahar seorang pemuda Lembah itu berbicara kepada Tambor. (hlm. 65).
Karena Tambor adalah seorang yang sangat dihormati di Lembah itu, para pemuda dan pemudi selalu menaruh perhatian kepada Tambor, karena wajahnya yang tampan dan perangainya yang kharismatik. Sehingga siapapun hormat dan menjadikan Tambor sebagai seorang yang dituakan.Walaupun begitu Tambor tetap bekerja, membantu dan mengolah tanah-tanah yang masih belum ditanami pohon-pohon. Tambor langsung turun tangan tak berpangku tangan karena seorang yang dituakan.
Tampaknya N. Marewo ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa seorang pemimpin itu, orang yang disegani, dan mau turun tangan langsung menyelasaikan persoalan dan menggerakkan sumber daya manusia yang ada di wilayah manapun. Memang begitulah sejatinya seorang pemimpin. Menggerakkan..!!!
Akhirnya pemuda yang saling mencintai tersebut, ada yang menikah. Tambor dan Rizka tak kunjung menikah, hanya tinggal seatap tanpa menikah. Kehidupan di Lembah itu sangat sejahtera, kehidupan tercukupi, hasil pertanian Lembah itu dijual ke Kota untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Kota. Hasil pertanian yang melimpah, memerlukan gudang sebagai tempat penyimpanan, (Saya kira seperti Baitul Mal). Hasil pertanian itu untuk cadangan musim kemarau atau kemungkinan gagal panen di musim selanjutnya. Disinipula lah, muncul masalah yang dialami oleh Lembah Hijau itu, Seorang penghianat memang ada dimana-mana.
“Berkali-kali sudah kuda beban bolak-balik mengangkut jagung berisi singkong dan biji-biji jagung memasuki halaman bangunan tua dikaki bukit.”(hlm. 104)
Ada yang mencuri hasil gudang dan sialnya hasil bahan-bahan curian itu sebagai bahan baku pembuatan minuman keras.
“Sekarang baru kami tahu bahwa kalau jagung dan singkong yang Bapak ambil selama ini dijadikan minuman keras” (hlm107).
Seorang penghianat memang harus dihukum sesuai dengan perbuatannya, tak ada ampun bagi para penghianat. Tak ada yang berbasa-basi terlalu lama, dua kali tembakan, yang pertama kakinya, tapi yang berbahaya dari seorang penghiatan bukanlah kakinya tapi akalnya, tak lama satu peluru menghujam kepalanya, dan mati.
Disini saya tersentak. Lagi-lagi Marewo membuat gaduh emosi pembaca, betapa memang gilanya dunia nyata. kita banyak mengeluh tentang hukum yang tidak ditegakkan dengan baik, tapi kita takut jika hukuman yang diterapkan melanggar HAM. Padahal, kelakuan yang dilakukan penghianat, pencuri, koruptor, manipulator, dan konspirator apakah berdasar HAM? lalu bersilat lidah dengan kesempatan taubat, memperbaiki diri?? Renungan dari Marewo.!!
Karena semuanya sudah aman, tak ada lagi masalah besar yang harus dihadapi. Tambor dan Rizka akhirnya pergi dari Lembah Hijau itu, meninggalkan segala jerih payah, susah senang bersama.
Bagi saya, jika kita hanya membaca novel ini, kita tidak akan mendapat secara komprehensif pemikiran-pemikiran N. Marewo. Novel ini sangat berhubungan dengan novel sebelumnya dan sesudahnya. Lambo, Filmbuehne, Pulang, Satu Hari di Jogja, dan novel sesudahnya Budak dan bahkan memiliki kaitan erat dengan novelnya Nggusu Waru yang tersisa. Disitu terlihat Marewo sangat terpengaruh oleh novel-novel sebelumnya. Sehingga sangat sulit bagi para pembaca mengerti apa yang ingin dituangkan oleh Marewo dalam karya-karya. Dari segi pemilihan bahasa memang sangat erat sekali dengan realitas. Namun, bagi yang tidak suka membaca karya-karya yang mengangkat isu sosial menjadi PR. Karena Marewo setahu saya belum pernah, mengangkat kisah romansa dalam novelnya.
Waktu Ashar sudah tiba, kopi sudah habis, jari sudah capek, mata mulai ngantuk, saya ingin menutupnya dengan sebait kutipan yang sengaja dipersiapkan dalam novel ini.
“Siapapun yang akan menjadi pemimpin di Lembah ini, Kalian berdua harus tetap bersatu, saling mendukung untuk hal-hal yang baik dan bahu-membahu. Perjuangan tidak pandang posisi. aku hanya berbuat sebagai rakyat dan akan tetap setia menjadi rakyat”. (hlm. 127)
Sebagai pelajaran dan renungan untuk kita semua, untuk Indonesia, dan dou labo dana Mbojo yang menunggu kalian.
Resensi ini dipresentasikan dalam diskusi novel yang diselenggarakan oleh Forum Keluarga Mahasiswa Bima Dompu UIN Sunan Kalijaga Yogyarta pada Minggu, 10 November 2019

