Kamis, 12 November 2020

Perihal Kematian


      
 
    

  
 Kebanyakan orang yang aku tahu enggan membicarakan kematian. Entah karena perasaan takutnya atau sebab yang lain. Aku pribadi termasuk orang yang amat penasaran dengan kematian. Bahkan tiap malam sebelum tidur aku selalu membayangkan, bagaimana kira-kira semisalnya aku tidak terbangun lagi ? Dalam beberapa kesempatan, aku kerap terjebak pada mimpi-mimpi buruk dan membuatku sulit terbangun. Itu mengerikan sekali. 

       Kematian pertama yang aku saksikan adalah kematian sahabatku, namanya Jai, dia terjatuh dari jembatan dekat jalan besar sebelum gang ke arah rumahku. Jembatan itu tingginya sekitar 7 meter dari sungai. Waktu itu air sungai setinggi lutut orang dewasa. Pagi hari Jai bersama yang lain menonton balapan perahu kecil yang terbuat dari papan. Sebuah permainan musiman jika air sungai sedang deras saat musim hujan. Aku bingung setengah mati waktu itu. Usia kami masih sangat kanak-kanak. Jai kerap bermain boneka denganku kendati dia seorang anak laki-laki. Setiap kali aku melewati jembatan itu, aku mengirim do'a untuk Jai. Lambat laun aku kehilangan gairah bermain boneka. Kematian seseorang, membuat beberapa aktivitasmu yang biasa dengannya menjadi berubah. 
 
        Kematian kedua yang aku saksikan adalah kematian ayahku. Waktu itu September 2002. Aku baru saja masuk sekolah di SD. Waktu itu, aku kerap melihat orang-orang menandu keranda dan menuju pemakaman di atas bukit. Aku tidak menyangka, ayahku juga akan ditandu sedemikian rupa. Kenapa Ayahku ? Kenapa tidak yang lain saja! Saat ayahku ditunggui ketika detik-detik terakhir kewafatannya, Aku membayangkan, jika ayahku mati, ia pasti bangun lagi, bukankah ia sakti ? Selama ini aku sering melihat ayahku mengobati orang-orang yang sakit. Ia pasti bisa hidup lagi. Aku membayangkan ia menggali kuburannya sendiri, bangkit dengan kain putih, pulang ke rumah dan membersihkan diri. Sejauh itu bayanganku waktu itu.  
 
    Seiring berjalannya waktu, akhirnya aku mengerti bahwa setiap yang hidup pasti mengalami kematian. Dari pengalaman kematian ayahku, aku terdorong untuk belajar membaca Al-Qur'an. Setelah aku lancar dan fasih, aku mulai mengikuti kegiatan Guruku, Dae Wihu, untuk pergi membacakan ayat-ayat suci ke rumah orang yang meninggal. Setiap ada yang meninggal aku seperti ikut merasakan kesedihan yang amat dalam. Betapa rumitnya menghadapi persaan kehilangan. Bahkan sampai dewasa sekarang, aku belum mengerti bagaimana mengatasi kesedihan jika aku mengingat tentang Ayahku.  
 
      Esok lusa, mungkin kita kehilangan orang yang dekat dan kita cintai. Tetapi tidak mustahil juga kita yang pergi duluan. Kematian benar-benar misteri. Dan hanya kepada ayat-ayat suci aku sandarkan segala sedih dan keluguanku memahami kematian. Setidaknya ada perasaan tenang dan lega jika ruh dan jiwa berpisah. Kata orang itu amat sakit. Tetapi aku belajar dari Jai dan Ayahku, bagaimanapun bentuk kematian kita nanti, kita harus siap. Dengan tenang kita kembali kepada ketiadaan. 
 
Alfatihah! 

Cerita Orang Muda Penghayat dalam Mengelola Perbedaan

Disclaimer:  Tulisan ini adalah publikasi ulang dari hasil liputan penulis di Gunung Kidul dengan beasiswa dari AJI Yogyakarta pada tahun 20...