Senin, 01 Agustus 2022

Apakah berbuat kebaikan itu karena pahala?

Suatu hari, aku dan Maryam bicara serius soal berbuat baik, dan utamanya soal konsep dosa dan pahala. Kami sama-sama menggugat, sesungguhnya kita tidak membutuhkan dosa dan pahala dalam imajinasi kalkulasi angka-angka. Misalnya, kita shalat untuk dapat pahala. Apalagi bila dilakukan secara berjamaah, maka pahalanya adalah 27 derajat. Lalu kita sibuk menghitung-hitung berapa jumlah pahala ibadah dan ketika dapat musibah, kita menuntut Tuhan untuk juga mengirim solusi sesegera mungkin karena telah menunaikan shalat sepanjang umur. 

Mengapa nilai ibadah jadi sesederhana itu? Ya karena mindset kita sebagai muslim adalah "ketika kita berbuat baik ke orang lain, orang lain juga akan berbuat baik ke kita".

Lalu ukuran opini tersebut kita pakai untuk mengukur balasan kebaikan Tuhan. Pikiran ini kemudian diluruskan oleh pertanyaan Maryam yang menurutku sangat jelas dan menyentuh hatiku. "Mengapa kita tidak berbuat baik oleh karena kebaikan itu sendiri? Mengapa harus karena pahala? Mengapa kita harus menghindari dosa karena takut neraka? Mengapa bukan karena kejahatan itu sendiri?" Itulah nilai.

 Jika ada yang bilang "jangan terlalu baik, nanti ditipu", " jangan terlalu bermanfaat, nanti dimanfaatkan ", maka bagiku, ungkapan sarkas semacam itu sangat tidak menyenangkan. Kita baik karena kebaikan itu sendiri. Kita tidak berbuat jahat, karena kejahatan itu sendiri. Yang diniatkan baik, akan menjadi baik. Yang diniatkan jahat, akan menjadi jahat. Itu semua bergantung kepada diri kita, dan tidak sama sekali karena ada maksud lain selain kebaikan atau menghindari kejahatan. Jika itu menjadi prinsip hidup, maka akan menjadi karakter/kepribadian. 
(Awee, 2022) 

Sabtu, 01 Januari 2022

Refleksi Awal Tahun 2022

 Awee-2022----atas nama kemajuan (dan mungkin memberdayakan ekonomi), beberapa orang bikin industri, industrinya berjalan puluhan tahun, ternyata industri tersebut merampas ruang hidup, bisa jadi hutan, gunung, sawah, lautan, bahkan tanah tetangga yang mungkin akan dibangun jalan tol, semua itu "katanya" demi kesejahteraan dan akses ekonomi. Lalu kemudian perubahan iklim terjadi, saat hujan, pasti banjir atau badai. Secara tidak sadar industri tadi yang sudah merampas hutan, gunung, sawah, dan lautan telah berpengaruh merusak alam, kenapa bisa begitu? bayangkan aja, pohon-pohon yang ada bekerja sangat keras menyerap CO2 dari hasil industri, yang mana Industrialisasi menghasilkan CO2 lebih besar daripada kemampuan pohon-pohon di dalam menyerapnya, ya pohon-pohon itu bisa sih, tapi bakalan butuh waktu lama, sementara di sisi lain juga, beberapa orang yang serakah itu terus-terusan babat hutan. Begitu juga gunung, lautan, dan sawah, yang mana mereka punya peran masing-masing, oleh keserakahan segelintir pebisnis gunung ditambang, garis pantai direklamasi dan sawah dialihfungsikan sebagai jalan tol, bandara atau bangunan perumahan. Wal hasil, sebagian orang yang lain ketimpa musibah bencana. Setelah bencana pasti mengalami kerumitan hidup. Bukan hanya karena bencana sih ya, peristiwa-peristiwa perampasan tanah, kekeringan, tidak adanya lapangan pekerjaan yang sesuai skill, nah itu membuat orang-orang merantau dan bekerja apa saja, yang paling tren adalah menjadi tenaga kerja. Ada yang berangkat kerja secara legal dan ada yang ilegal. Nah yang berangkat secara ilegal ini adalah yang perlu diperhatikan, tidak sedikit mereka yang berangkat secara ilegal terjebak menjadi korban perdagangan manusia. Kadang-kadang aku bertanya dimana peran negara di sini? Jika ada kesempatan untuk memperbaiki ini semua, aku ingin sekali. Tuhan mampukan aku hidup untuk bersungguh-sungguh menjalani hidup dengan kejujuran, dan hindari kami dari cara hidup yang munafik, sehingga kami bisa hidup sebagai masyarakat yang damai dalam iman dan cinta kasih-Mu.

Cerita Orang Muda Penghayat dalam Mengelola Perbedaan

Disclaimer:  Tulisan ini adalah publikasi ulang dari hasil liputan penulis di Gunung Kidul dengan beasiswa dari AJI Yogyakarta pada tahun 20...