Oleh: Ruwaidah Anwar
“Ada fenomena menarik yang sedang melanda masyarakat Eropa
saat ini, agama tidak lagi dipandang secara homogen, melainkan secara pluralis.
Oleh karena itu ada jutaan imigran yang datang ke Eropa setiap tahun, dan kami
menerimanya dengan baik.” Demikianlah yang diucakan oleh Eckart dalam menjelaskan
maksud dan tujuannya melakukan penelitian dalam forum Lintas Iman yang diadakan
DIAN INSTITUT.
Sabtu (28-4-2018), merupakan kelas refleksi para peserta
Sekolah Lintas Iman IX yang diadakan oleh DIAN INSTITUT dengan melakukan
kunjungan ke Pura Jagatnatha, Bantul. Pertemuan ini dihadiri oleh 24 peserta,
dan dua mahasiswa senior dari Universitas
Birmingham, Eckart dan Nick, keduanya sedang melakukan penelitian di
bidang interfaith dialogue. Acara ini dipandu langsung oleh Dr. Elga
Sarapung (Direktur DIAN INSTITUT) dan I Nyoman Santiawan (yang saya tahu
beliau adalah bagian HUMAS di Pura Jagatnatha, Bantul).
Sebagai masyarakat akademik, penulis memiliki asumsi bahwa
banyak di antara kita yang kurang melakukan dialog dengan umat Hindu. Seringkali
kita absen duduk bersama dalam membicarakan teologi masing-masing dalam suasana
kekeluargaan dan tentu saja memuat nilai-nilai edukasi yang mampu membentuk
diri kita lebih toleran. Dalam kesempatan ini, kepala saya dipenuhi banyak
pertanyaan dan rasa kagum yang luar biasa terhadap Hindu.
Sebelum berjumpa dengan umat Hindu secara fisik, saya telah
membaca beberapa karya tulis yang menggambarkan kehidupan dan ritual Hindu. Misalnya
dalam Roman Epik Mahabharata yang ditulis oleh Rajagopalachari. Karya tebal
yang saya baca secara hati-hati dan menganalisanya dengan pelan-pelan. Kadang satu
paragraf diulang-ulang untuk memastikan “apakah aku sudah paham ?”
Kendati kunjungan ini bukanlah yang pertama, momennya selalu
saja berbeda. Beberapa bulan lalu saya berkunjung ke Pura Jagatnatha menemani
siswa-siswa Hagios Elementary School bersama Youth Interfaith Peace Community
Jogja dalam agenda kunjungan rumah ibadah. Tentu saja waktu itu siswa-siswa
tersebutlah yang memiliki banyak kesempatan untuk berdialog. Sementara kami
hanya mengamati dan mendengarkan dengan seksama.
Nah, dalam refleksi yang diwadahi DIAN INSTITUT suasananya
lebih akademis dan inklusif. Suatu pengalaman yang luar biasa bisa memudarkan
prasangka-prasangka tidak baik atau stereotipe yang menagakar kuat sejak kecil
terhadap umat Hindu. Mas Nyoman Santiawan sangat bersabar menjawab pertanyaan
dan menanggapi pernyataan kita yang awam terhadap iman Hindu.
Saya sangat mengagumi kekayaan sastra yang dimiliki umat
Hindu. Kekayaan sastra ini bisa kita akses melalui Roman Epik Mahabharata dan Ramayana,
serta gubahan-gubahan syair penyembahan. Selain itu sejarah bangsa kita yang
pernah memiliki kerajaan Hindu yang paling berpengaruh di dunia, yaitu
Sriwijaya. Ajaran etika juga merupakan bagian yang sedang saya pelajari dalam
ajaran Hindu. Dalam konteks kegiatan SLI IX yang bertema politik bermartabat,
saya juga bertanya-tanya apakah dalam ajaran Hindu memiliki aturan yang ketat
dalam memilih kepala daerah atau presiden? Pertanyaan ini manjadi penting
sekali karena saya pribadi jarang melihat umat Hindu terpikat dengan urusan
politik, apalagi politik dengan skala nasional!
I Nyoman Santiwan menjelaskan bahwa Hindu adalah agama
Budaya. Sebuah keyakinan yang amat dekat dengan penyatuan diri dengan alam raya.
Makanya ibadah/ritual/upacara dilakukan di tanah lapang. Ajaran Hindu lebih
banyak mengedepankan refleksi diri untuk mengetahui jati diri/hakikat sebagai
manusia sehingga muncul sifat cinta kasih, pemaaf, berbesar jiwa dan
sikap-sikap lainnya pada diri seseorang.
Menanggapi pernyataanku tentang Sastra, Etika dan kriteria
pemimpin dalam ajaran Hindu, Mas Santiawan menjelaskan bahwa Sastra merupakan
sumber yang utama dalam Hindu. Sastra inilah yang menjadi pedoman dalam
keseharian penganut Hindu. Sementara Etika adalah representasi dari pemahaman
mereka yang bersumber pada Sastra. Terhadap tempat, barang-barang pribadi
ataupun pada sesama kita wajib hormat dan berdoa kepada Tuhan agar dijaga.
Misal, jika kita ke Pantai kita wajib menghormati dengan berdoa, karena
diyakini pantai tersebut ada yang menjaga, dan kita tidak diperbolehkan membuang
sampah sembarangan di tempat itu. Inilah yang disebut etika.
Lalu, mengenai kriteria pemimpin yang dipilih, dalam ajaran
Hindu tidak ada kriteria yang ketat selain calon pemilih memahami bahwa yang
dipilihnya itu memiliki kemampuan memimpin yang baik dan bersedia melayani
rakyatnya. Namun, dalam konteks kepala rumah tangga diwajibkan beragama Hindu.
Dr. Elga sangat senang dengan beragam pertanyaan yang kami
ajukan, setidaknya mampu mengurangi stereotipe yang selama ini tertanam kuat
dalam benak umat non-Hindu. Saya pribadi tidak henti-hentinya mengumpat
buku-buku IPS yang saya pelajari sejak SD karena pandangan tentang Kasta dan
Dewa-Dewa yang salah dipahami. Saya sangat menyarakan kepada kawan-kawan hendaklah
membuka diri terhadap literatur-literatur Hindu sebelum mengucapakan kata “sesat”
atau “kafir”. Karena menilai dan mengomentari dengan ilmu pengetahuan itu lebih
berfaedah dan menumbuhkan rasa saling mengerti, menghormati dan mengasihi satu
sama lain.
Setelah berkeliling Pura Jagatnatha saya memiliki satu kesan
bahwa : Hindu adalah sebuah pemahaman tentang Tuhan yang memiliki kecenderungan
mempresentasikan sifat Tuhan dalam bentuk tertentu. Dan mereka menghormati
segala ciptaan Tuhan dengan seni tertentu. Bahkan keberdaan kejahatan atau
keburukan mereka simbolkan dengan ogoh-ogoh.
Saya sangat mengharapkan suatu hari terciptanya tatanan
masyarakat yang bisa saling memahami dan berbagi kesempatan pendidikan dan
ekonomi tanpa membedakan ras, agama, dan suku. Kita tercipta untuk kembali pada
yang Mencipta. Sistem politik hanyalah satu di antara jalan yang bisa kita
pakai untuk menuju Tuhan. Yang pasti jangan sampai kita tergelincir dalam
keserakahan dan sifat-sifat yang menzalimi sesama dalam jalan yang kita pilih.
Yogyakarta, 28 Apr. 18
11.42 pm

