Ulang tahun. Ya, itulah kata yang selalu membuat
anak-anak merengek pada orang tuanya. Mengenakan gaun seperti princess,
memakai topi kerucut di atas kepala, balon-balon menghiasi rumah, lilin angka
di padu-padankan dengan kue tart di atas meja serta menyalakan VCD lagu
selamat ulang tahun. Dan betapa asyiknya menerima kado dari teman-teman. Dan
seterusnya. Setidaknya begitulah definisi ulang tahun yang ada dalam memori
gundukan kepalaku.
Kawan.. kau tahu? Sejak kecil aku selalu iri melihat teman-teman merayakan hari
kelahirannya. Mereka meniup lilin, mendapat kecupan dari kedua orang tua serta
orang-orang tercinta, menyuapi mereka satu per satu. Uh, betapa indahnya. Tapi,
bagaimana mungkin seorang anak petani miskin ini membuat acara demikian?
Mustahil.
“Bu, Bolehkah adik merayakan ulang tahun?” tanyaku pada ibu saat usiaku 6
tahun.
“Ulang tahun?” Ibuku tersentak. Meninggalkan masakannya dan mengambil tempat di
atas kursi, rehat sejenak. “Nak, acara seperti itu tidaklah penting. Acara
seperti iru harus meriah. Butuh uang. Lagi pula itu hanya kegiatan orang
kafir, hura-hura. Tidak patut.” Jelas Ibu.
Oh, kawan... itu adalah jawaban yang tak pernah aku harapkan. Tapi itulah
realita yang harus keluar dari bibir Ibuku. Bayangkanlah bagaimana kondisi
hatiku saat itu. Kecewa.
Sampai pada suatu hari. Saat aku duduk di bangku kelas 3 Madrasah Tsanawiyah
aku mengetahui esensi ulang tahun itu sendiri.
Matahri masih malu-malu untuk keluar dari peraduannya. Langit cerah tanpa awan
sedikitpun. Hari Rabu. Hari yang paling menyenangkan menurutku di antara hari
yang lain. Ya, hari dimana semua pelajaran kesukaanku ada. Salah satunya adalah
mata pelajaran Qur’an Hadits. Pelajaran yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an
atau Hadits secara detail.
Sebelum bel berbunyi, kami sudah duduk takzim di dalam kelas. Pak Kasmir.
Itulah nama Guru yang akan mengajar kami. Bijaksana, penyayang, disiplin dan
tegas. Beliau adalah panutan bagi kami dan guru-guru yang lain.
“Assalamu’alaikum....” Pak Kasmir memasuki kelas XI-1, kelasku.
“Wa’alaikum salam wa Rohmatllohi wa Barokaatuh...!” Jawab kami serentak.
Pak Kasmir meletakkan beberapa buku di atas meja guru.
Sejurus kemudian mengambil posisi tepat di depan papan tulis. Kala itu,
posisiku berada di meja paling belakang.
“Apa kalian sudah siap menerima pelajaran hari ini?” Tanya Pak Kasmir, terlukis
senyum diwajahnya.
“siaaap Pak!!” Sahut kami.
“Baiklah. Silahkan kalian buka foto-kopian halaman 32 tentang Hadits Menjaga
Kelestarian alam!” Tanpa diperintah dua kali, aku dan teman-teman langsung
membuka halaman yang dititahkan. Pak Kasmir menjelaskan dengan detail Hadits
yang di riwayatkan oleh at-Tirmidzi tersebut. Kami mendengarkannya dengan penuh
seksama.
30 menit berlalu....
“Nah, anak-anakku sekalian, dari uraian Pak Guru tadi ada yang ingin
ditanyakan?” Tanya Pak Kasmir. Aku langsung mengacungkan tangan.
“Pak! Boleh pertanyaannya di luar materi?” Tanyaku.
“Boleh.” Jawab Pak Kasmir, singkat. Teman-teman memandang ke arahku.
“Begini Pak, bagaimana hukumnya merayakan ulang Tahun?” Tanyaku.
Pak Guru menganggukkan kepala. Semua kembali menatap pak
guru.
“Anak-anakku sekalian....” Pak Kasmir menarik napas panjang. “Ulang Tahun itu
apa sih menurut kalin?” Pak Kasmir menguji kami.
“Saya Pak!” Mutmainnah temanku mengacungkan tangan.
“Ya, silahkan.” Pak Guru mempersilahkan.
“Ulang Tahun adalah merayakan hari kelahiran yang jatuh setiap tahunnya.” Jawab
Mutmainnah.
“Betul Pak!!” Sahut teman-teman yang lain.
“Ya, sudah mendekati benar. Ada yang mau memberikan definisi lagi?” Lanjut Pak
Kasmir. Tapi, tak ada satupun teman-teman yang mengacungkan tangan.
“Jadi, anak-anak sekalian... benar apa yang dikatakan oleh teman kalian tadi
bahwa Ulang Tahun adalah merayakan hari kelahiran yang jatuh setiap tahunnya.
Sebenarnya, anak-anakku... ulang tahun itu hanyalah budaya yang diadopsi dari
budaya barat. Tapi, kebanyakan dari kita Muslim melaksanakannya, padahal
Rasulullah SAW, tauladan kita mengingatkan bahwa barangsiapa menyerupai suatu
kaum maka dia adalah bagian dari kaum tersebut. Kurang lebih itulah
amanat Hadits itu.” Terang Pak Kasmir.
“Lalu, bagaimana mengatasinya Pak?” Tanyaku.
“ Jika kalian ingin merayakannya, Pak Guru tawarkan satu solusi.” Kata Pak
Kasmir.
“Apa itu Pak?” Tanya beberapa orang teman. Sedikit riuh.
“Di saat kalian ulang tahun, silahkan kalian merayakannya dengan menanam satu
pohon!” Kata Pak Kasmir.
“Kok begitu Pak?” Tanyaku.
“Iya. Nanti itu akan menjadi sejarah buat kalian.’oh, inilah pohon yang aku
tanam saat aku berulang tahun yang ke sekian’. Begitulah kira-kira yang akan
kalian katakan suatu hari nanti.” Jelas Pak Kasmir. Tetap dengan senyumannya.
“Waah,, betul juga ya...!” sambut kami.
“Sesuai Hadits yang kita pelajari tadi. ‘Man ahyaa
ardho mayyitatan fa hiyalah.’ Barangsiapa menghidupkan suatu bumi yang
mati, maka bumi itu baginya (miliknya). Alangkah indahnya jikalau kalian
mempunyai kenang-kenangan untuk masa senja kalian.” Terang Pak Guru.
Aku bersyukur di lahirkan di tengah keluaraga yang suka berkebun. Saat ulang
tahun salah-satu anggota keluarga, aku selalu mengingatkan mereka untuk menanam
satu pohon. Mungkin hal yang sepele, tapi bisa saja menjadi hal yang
bermanfaat di kemudian hari. Seperti saat ulang tahunku yang ke-15
kemarin (31 Desember 2011), aku menanam singkong di area halaman belakang
rumah, alhamdulillah, pada bulan Agustusnya aku memanennya dan menikmatinya
bersama para tetangga. Sedangkan di Tahun 2012 kemarin (ulang tahun yang ke-16)
aku menanam jambu mente/jambu monyet.
Kawaan... aku bahagia. Sangat bahagia. Setidaknya, aku tidak mengisi hari
spesialku dengan perayaan yang glamour dan berlebihan. Melainkan dengan cara
memberi manfaat bagi diri, orang lain dan juga alam. Selamat mencoba ya teman-teman. Tanamlah satu
pohon di saat kau berulang tahun. ;)
Selesai....
SELAMAT HARI BUMI
NB: Cerita nyata yang terinspirasi dr Drs. Kasmir (MTsN Raba Kota Bima)
Tulisan unyu2 ini terbit dalam Antologi "Think
Green, Go Green" sebagai peringatan Hari Bumi atau Earth Day 22
April 2013.
JUDUL : "THINK
GREEN, GO GREEN"
Tebal : 220 hlm
Harga :35.000
Penerbit : Pustaka Jingga
Penulis : Erni Misan, Novela Nian, Fransiska
Widiarti, Meinilwita Yulia, Shinta Rini Priyadi, Maftuhatus Sa’diyah dkk
ISBN :
978-602-7880-41-2

Tidak ada komentar:
Posting Komentar