Kamis, 14 Desember 2017

Alquran, Politik Islam, dan Para Orientalis


Berinteraksi dengan Alquran bagi muslim terlihat lumrah karena memang mereka memiliki kewajiban untuk membaca dan men-tadabburi ayat-ayat suci dalam kesehariannya. Namun bagaimana dengan orang di luar Islam (outsider) yang mempelajari Alquran dengan sungguh-sungguh dan melahirkan cara pandang baru mengenai Alquran? Ya, Kajian Alquran oleh kalangan outsider telah ada sejak abad 8 M. Siapa yang mempeloporinya belum diketahui secara pasti, kendati Yohannes of Damascus digadang-gadang  sebagai outsider awal yang berpolemik terhadap Islam (Saeed: 2016), tetapi yang jelas perjumpaan Islam dengan dunia Barat kala itu menjadi embrio perkembangan kajian keilmuan Islam pada abad-abad sekarang ini.

Farid Esack, sebagaimana dikutip dalam Hamam Faizin (Faizin: 2012), membagi interaksi antara manusia dengan Alquran seperti para pelaku cinta (lover). Kelompok pertama adalah uncritcal lover, yaitu mereka (muslim awam) yang berinteraksi dengan Alquran dengan mendalam tanpa adanya keraguan atau mempertanyakan segalanya tentang Alquran. Kelompok kedua adalah scholarly lover, yaitu mereka (sarjana muslim konvensional) yang berusaha menjelaskan isi Alquran dan menyesuaikannya dengan kemajuan ilmu pengetahuan pada umumnya sehingga mempertegas bahwa Alquran adalah wahyu Tuhan yang membawa kebenaran.

Kelompok ketiga adalah critical lover, yaitu mereka (kalangan outsider) yang mencoba mempertanyakan keotentikan Alquran sebagai wahyu Tuhan, menganalisa struktur bahasa Alquran serta sifat-sifatnya. Kelompok keempat adalah the friend of lover, yaitu mereka (kalangan outsider revisionis) yang berusaha mencari kelemahan  Alquran dengan bukti-bukti akademik.

Dalam perjalanannya, kalangan outsider (orientalis) sejak abad ke-8 hingga abad 21 sekarang secara alamiah membentuk mazhab masing-masing. Hal ini dapat kita telusuri dari karya-karya mereka yang memiliki karakteristik dan perspektif yang kaya mengenai Alquran. Misalnya karya awal yang ditulis oleh Yohannes of Damascus “Wrote Heresy of the Ishmaelities” yang bernuansa polemis terhadap Islam, lalu ada George Sale (w. 1736) yang pertama-tama menerjemahkan Alquran dari bahasa Arab ke bahasa Inggris dengan sangat objektif. Kemudian ada juga Andrew Rippin yang tulisan-tulisannya mendorong untuk memahami Alquran dalam pemahaman monoteistik yang jangkauannya lebih luas, bukan hanya dipahami dalam ruang budaya masyarakat Arab saja.

Sue Worral, University of Birmingham 2
Foto: Seorang pakar Universitas Birmingham sedang mengamati manuskrip al-Qur'an
https://www.birmingham.ac.uk/news/latest/2016/11/quran-manuscript-exhibition-display-uae.aspx

Produktivitas kesarjanaan insider dalam kajian Alquran tidak pernah seimbang bila diukur dengan produktivitas kesarjanaan Barat. Fahruddin Faiz (Faiz: 2015) mencatat jumlah penulis ilmiah di kalangan insider berjumlah 3.300 orang, sementara di kalangan outsider berjumlah 19.000 orang. Perbedaan yang cukup besar bukan?

Adapun negara-negara Islam yang paling banyak menghasilkan karya ilmiah antara lain; Mesir, Iran, Pakistan, Nigeria, Turki, Malaysia dan Lebanon. Negara Barat sejak abad 12 telah melakukan penerjemahan teks-teks Arab ke dalam bahasa Latin dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang disertai kritik yang beragam (Saeed: 2016). Berbagai universitas terkemuka dunia seperti di Jerman, Belanda, Inggris, Amerika, Hongaria, dan Perancis sejak dahulu telah membuka kajian Islamic Studies untuk mengulas teks-teks Arab. Bahkan sampai sekarang masih tetap eksis.

Alquran sebagai wahyu dan sumber ilmu pengetahuan telah mencuri perhatian kalangan outsider. Ia dikaji dengan berbagai macam teori dan pendekatan. Alquran dan para pembacanya dari kalangan muslim diangkat sebagai objek penelitian oleh kalangan outsider. Kesempatan yang dimiliki oleh outsider untuk mengkaji Alquran sangat besar dan didukung oleh fasilitas kampus yang menyediakan kelas-kelas bahasa oriental. Mereka juga disokong untuk langsung melakukan penelitian di mana Alquran turun dan dipelajari oleh masyarakat muslim. Sebuah semangat keilmuan yang tiada tandingannya. Hal ini mengingatkan kita kepad Al-Kindi yang pada masanya didukung penuh oleh pemerintah Islam untuk menerjemahkan karya-karya Filsafat Yunani ke dalam Bahasa Arab. Dan momen itu menjadi titik balik lahirnya tokoh-tokoh cendekiawan Islam.

Namun, kita tidak akan bernostalgia dengan masa-masa itu. Saat ini, negara yang mayoritas penduduknya muslim sedang diuji dengan pemerintahan yang rapuh. Apalagi dengan karakteristik para birokratnya yang pandai mempolitisasi ayat-ayat Alquran. Harus kita akui bahwa umat Islam sekarang ini disibukkan dengan urusan politik dan kekuasaan, agama dibawa-bawa di atas podium kampanye partai. Inilah yang merusak citra Alquran. Oleh karena itu, tugas para sarjana Alquran lah untuk mengembalikan ruh atau wacana Alquran yang rahmatan lil ‘alamin.

Kita bisa melihat lahirnya tokoh-tokoh tafsir kontemporer saat ini seperti Fazlu Rahman, Arkoun, Shahrour, Farid Esack dan lain-lainnya tidak terlepas dari pengaruh western scholars yang menggeluti kajian keislaman. Mereka adalah tokoh-tokoh yang berusaha dengan keras mengkritik umat Islam dari dalam, mengingat penyakit anti-Barat, taqlid, dan jumud (kebekuan berpikir) yang menjangkiti umat Islam dewasa ini. Sikap anti-Barat seharusnya kita hilangkan sejak sekarang, karena kita telah berada pada ruang global yang meniscayakan saling keterbukaan dalam banyak sisi. Seperti yang dikatakan oleh Al Makin (Makin: 2017) pembagian dunia Barat dan Timur (outsider dan insider) itu sudah tidak relevan lagi. Pasalnya kita telah dekat, bersaing, dan tidak lagi saling berhadapan. Posisi berhadap-hadapan artinya kita menelan bulat-bulat konsep kolonialisasi.

Kita sudah tidak hidup pada masa itu, kawan!



Sumber Bacaan:

Faiz, Fahruddin. Hermeneutika Alquran: Tema-Tema Kontroversial. Yogyakarta: Kalimedia. 2015

Faizin, Hamam. “Alquran Sebagai Fenomena yang Hidup (Kajian atas Pemikiran para Sarjana Alquran”. Makalah International Seminar and Qur’anic Conference II, 2012.

al Makin. Antara Barat dan Timur: Batasan, Domnasi, Relasi, dan Globalisasi. Yogyakarta: Suka Press. 2017.

Saeed, Abdullah. Pengantar Studi Alquran. Yogyakarta: Baitul Hikmah Press. 2016.

Artikel ini terbit juga di : http://www.mengenalislam.com/2017/06/14/alquran-politik-islam-dan-para-orientalis/

Cerita Orang Muda Penghayat dalam Mengelola Perbedaan

Disclaimer:  Tulisan ini adalah publikasi ulang dari hasil liputan penulis di Gunung Kidul dengan beasiswa dari AJI Yogyakarta pada tahun 20...