Rabu, 06 Januari 2021

Pembaca dan Penulis (Untuk Sang Guru)

 Sekarang seperti tidak ada batasan antara pembaca dan penulis. Kalo sdh beli buku, tinggal di foto, upload lalu mention penulisnya. Dulu, aku harus menahan - nahan diri dan berdo'a smg dipertemukan dg penulis yg aku kagumi.

Rumahku dan Bang N Marewo hanya beda Kelurahan. Aku sering pulang sekolah jalan kaki lewat depan rumahnya, tp tdk pernah rejeki untuk berjumpa. 

2014, 18 Juli aku berangkat ke Jogja. Aku dihadiahi Novel "Legian Kuta" oleh seorang guruku. Novel cantik dan sejak mula ia terbit aku sudah ingin membacanya.

 Hal konyol yang aku lakukan, masuk ke Toko Buku terkenal di Kotaku. Meminta petugas yang jaga, apakah Saya boleh melihat Novel Legian Kuta? Ia memberikan kepadaku satu buah novel yang sudah dibuka segelnya. Aku membaui kertasnya. Membaca Bab terakhir dari Legian Kuta. Setelah membaca, aku bertanya harganya. Tentu saja aku tidak mampu membelinya. Tidak ada uang jajan waktu sekolah dulu. Uang hanya cukup untuk biaya angkot pulang pergi. Kalau pulang di atas jam 5, harus jalan kaki sampai Karara, dan bisa naik ojek 3 ribu rupiah untuk sampai rumah. 

Aku sudah menambahkan N Marewo dalam daftar teman di Facebook. Namun tidak kunjung ada konfirmasi. Pikirku, mungkin beliau sibuk menulis. 

Kendati tidak mendapat respon sedikitpun aku tidak putus harapan. Aku mengirimkan pesan dan bilang akan berangkat ke Jogja dan berharap bisa jumpa. 

Novel Legian Kuta baru setengah aku baca dalam perjalanan menuju Jogja. Sampai di Sumbawa Besar aku muntah-muntah karena mabuk perjalanan. Menyeberang selat Sumbawa menuju Pelabuhan Kayangan Lombok keadaan sedikit membaik, dan aku bisa membacanya sampai habis. 

Waktu lewat Kabupaten Badung di Bali, aku sangat bahagia, sebab, di situ aku membayangkan Khalil dan William. (Tokoh dalam Legian Kuta).

Sesampai di Jogja, karena suntuk belum dapat kamar kos, aku kembali membaca Legian Kuta untuk kedua kali, tidak tahu kenapa, suka saja dengan semua karakter yang diciptakan oleh Bang Marewo. Semua hal tentang Bali dan Jogja dikritisi dalam Novel tersebut. 

Barangkali banyak orang pikir dua tempat itu hanyalah tempat wisata. Tetapi ketika melihat lebih jauh ke dalam wawasan kebudayaan manusia Jogja dan manusia Bali, itu membuatku bersyukur mengapa misalnya aku memilih Jogja sebagai pusat perhatianku dalam studi. Dan berharap suatu hari juga bisa belajar di Bali. 

Dua tahun setelah di Jogja, aku mendapat pesan dari Bang N Marewo di Facebook. Kami bersepakat untuk bertemu di Warung Kopi di suatu sore. Kami berbagi banyak cerita. Dan yang pasti aku memilih menjadi Pendengar, dan sesekali memantik dengan hal-hal yang ingin aku ketahui. 

Kami sengaja tidak mengambil foto. Sebab Saya hanya ingin merawat pertemuan itu dalam do'a dan ingatan. 

Saya merasa kegelisahan yang Saya alami adalah apa yang terceritakan di dalam Novel-novel karangan beliau. Saya bertaut dengan ide-ide itu dan membenamkannya di dalam hati kecil. Berharap dalam kepayahan menjalani hidup, cahaya Tuhan selalu membimbing. Novel-novel beliau, mengajak Saya untuk berpikir sekali lagi, merenungi sekali lagi, apa itu hidup? Mau kemana setelah ini? Dan untuk apa semua ini? 


Wombohe, 06 Januari 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Orang Muda Penghayat dalam Mengelola Perbedaan

Disclaimer:  Tulisan ini adalah publikasi ulang dari hasil liputan penulis di Gunung Kidul dengan beasiswa dari AJI Yogyakarta pada tahun 20...